Dalang wayang thengul di Blora hanya tersisa empat orang, salah satunya Muhammad Muslih. Konsisten di dunia perwayangan untuk melestarikan budaya dan berdakwah dengan media wayang.
M. MAHFUDZ MUNTAHA, Radar Bojonegoro
Dinding Rumah warna hijau dan berlantai kuning, khas bangunan kuno di Desa Kemiri, Kecamatan Jepon. Bangunan itu tempat tinggal seorang dalang wayang thengul di Kabupaten Blora, Muhammad Muslih.
Di depan rumah rumah berdinding kayu itu terlihat seorang laki-laki tua menyambut kedatangan wartawan koran ini. Dengan kaus kuning dan kopiah coklat agak miring, agak bungkuk berjalan keluar rumah menyambut tamu. ‘’Monggo mas, langsung mlebetmawon,’’ ujar pria yang sudah nampak keriput di bagian wajahnya itu.
Usia boleh tua, tapi semangat haru tetap muda, Muslih kini memasuki usia 75 tahun, namun masih memiliki semangat tinggi ketika berbicara tentang ancaman wayang thengul. Pria akrab disapa Mbah Modin Muslih sebelum bercerita tentang wayang, mengaku baru saja selesai mengurus persyaratan nikah warganya. Karena dulunya dia perangkat desa. Sejak 2017 pensiun, tapi kini masih diperbantukan karena belum ada yang menggantikannya.
Memulai perbincangan wayang thengul, Muslih menceritakan dirinya minggu ini cukup senang. Karena pada Sabtu (9/1) lalu bisa melakukan pementasan wayang thengul di Desa Bangowan, Kecamatan Jiken. ‘’Ini pementasan pertama, selama 2020 tidak ada undangan mentas,’’ ujarnya. Sejak pandemi 2020, sebenarnya banyak job atau undangan pertun jukkan di acara hajatan orang. Bahkan, orang yang mengundangnya sudah memberikan uang muka, karena pandemi, gagal total.
Selama tahun lalu ada tiga pementasan gagal. Mulai di Kabupaten Rembang satu undangan, kemudian dua undangan dari Blora. ‘’Tapi bersyukur Dp-nya tidak diminta, katanya disuruh buat ngopi saja,’’ cerita bapak tiga anak ini.
Wayang thengul bagi Muslih sangat berkesan. Sudah digeluti sejak muda. Hingga kini sudah berjalan sekitar 32 tahun. Selain itu, sejak kecil wayang sudah menjadi tontonan favoritnya, selian itu juga suka dengan kesenian ludruk, dan ketoprak. Sehingga sudah sejak kecil dan masa mudanya suka bersuluk jawa. Hari-harinya selalu diwarnai suluk tersebut.
Muslih mengisahkan, saat memulai menjadi dalang itu juga cukup unik. Bukan karena dia ahli bermain wayang. Tapi hanya bermula suka suluk saat bekerja di balai desa sebagai perangkat desa pada 1989. Saat itu, adiknya menjabat sebagai kepala desa setempat, mendengar dirinya pintar suluk, langsung diminta untuk mendalang.
‘’Adiknya saya itu tahu saya pintar suluk, saya langsung diminta jadi dalang di acara gas desa (sedekah bumi, Red),’’ kisahnya. Saat itu dirinya tak langsung mengiyakan. Tetapi dia tanya balik. ‘’Mosok aku iso? (Apakah aku bisa,)’’ tanyanya pada adiknya. ‘’Iso, sesok belajar neng dalang sini,’’ imbuhnya menirukan percakapannya dengan adiknya dulu. Setelah itu, ke rumah dalang di desanya yang juga dalang wayang thengul.
Saat itu menurunya, dia sangat ingat langsung minta belajar menjadi dalang. Karena masih ada waktu satu bulan lebih Muslih berlatih bersama dalang tersebut. Akhirnya sampai hari pelaksaaan akhirnya dia berhasil melakukan pertunjukan wayang. ‘’Setelah itulah saya banyak menjadi dalang saat ada hajatan desa atau perorangan,’’ imbuh pria yang memiliki nama panggung Muhammad Muslih Gunocarita.
Wayang thengul ini memiliki karakter spesial. Beda dengan wayang kulit atau wayang krucil di Blora. Pertama bentuk wayang thengul itu seperti boneka atau sama dengan wayang golek. Kemudian untuk gending yang dibawakan menggunakan laras miring. Padahal jika biasanya untuk wayang gending yang digunakan antara gending pelok dan selendro. ‘’Kalau wayang thengul itu saya lebih menggunakan laras miring,’’ jelasnya.
Kemudian untuk cerita yang dibawakan juga berbeda dengan wayang lain. Jika wayang kulit itu sudah pakem dengan cerita Mahabarata dan Ramayana. Wayang thengul ada banyak cerita. Seperti cerita, perang jawa pangeran diponegoro, kemudian trunojoyo, untung suropati, sejarah majapahit, demak. Bahkan cerita sejarah Makkah dan Madinah masa Nabi Ibrahim. ‘’Jadi ceritanya itu ya, cerita sejarah,’’ imbuhnya.
Untuk memberi pemahaman lebih pada secara visual dalam perbincangan itu, Muslih kemudian memutarkan video saat dirinya melakukan pertunjukan. Saat itu cerita yang dia bawakan berjudul Puser Bumi. Ceritanya menceritakan pada masa nabi ibrahim di makkah. wayang thengul itu bisa digunakan diberbagai karakter.
Jika ada karakter yang memang baik dan tampan, maka akan dicarikan karakter wayang yang memiliki karakter baik dan tampan. Begitu juga dengan karakter lain. Sehingga dirinya dituntut untuk mendalami karakter dari cerita yang akan dibawakan yang kemudian dia tuangkan karakter itu pada wayang thengulnya.
Uniknya, dari Muslih ini, dalam setiap pertunjukkan wayang sebelum dia memainkan wayangnya dia terlebih dahulu melakukan ceramah agama sebentar, paling tidak selama 15 menit. Baru setelah itu wayang dia mainkan. Di pertengahan dia memainkan wayang juga keluar dalil-dalil dari alquran dan hadis atau kata mutiara dalam bahasa arab. Itu terlihat dari video yang dia tunjukkan selama proses perbincangan itu.
Tapi, meski saat ini dirinya sudah menjadi dalang yang terbilang sukses dan menjadi rujukan. Tapi awal mula menjadi dalang pada 1989 dirinya sempat mendapatkan tantangan dari keluarganya. Karena dirinya sebenarnya dari keluarga religius. Bahkan kakek dan ayahnya seorang tokoh agama di desanya. Tapi ternyata dirinya malah memilih jalan menjadi seorang dalang.
Itu jauh dari jalur yang diambil oleh kakek dan ayahnya. Tapi dirinya tak gentar, dia memastikan jika menjadi dalang dan memainkan wayang tak menyalahi aturan agama. ‘’Dulu itu saat saya dilarang, saya minta dasar kenapa tidak boleh, wong Sunan Kalijaga saja menyebarkan agama juga menggunakan media wayang,’’ kenangnya.
Namun akhirnya keluarganya juga merestuinya. Selama dia menjadi dalang dan memainkan wayang itu dia niatkan untuk berdakwah. Karena selain dirinya dari lingkungan keluarga religius dia juga alumni salah satu pesantren di Kedunglo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
Selama di pesantren, Muslih juga ikut sebagai anggota Wahidiah. Tak heran saat pertunjukannya selalu ada nuansa religius yang dibawakan. Sekarang menurut Muslih, dirinya akan terus mempertahankan kesenian wayang thengul ini. Sebab, kesenian ini sudah hampir punah. Peminatnya terus berkurang bahkan begitu juga penerusnya.
Saat ini dalang wayang thengul di Blora semua usia tua. Hanya satu yang usia muda, yang dulunya merupakan putra seorang dalang dan kini meneruskan. ‘’Kalau saya ini masih mencari siapa yang mau belajar, karena anak saya juga tidak mau jadi dalang,’’ ujarnya lirih. Muslih berharap di tahun ini pementasan wayang kembali diperbolehkan. Sehingga wayang tetap bisa dinikmati masyarakat.
Editor : Indra Gunawan