Radar Bojonegoro - Surga berada di telapak kaki ibu. Pepatah itu cukup mengena dan relevan memperingati Hari Ibu, tepat hari ini (22/12). Jawa Pos Radar Bojonegoro berkesempatan bertemu dengan sosok ibu hebat asal Desa Soko, Kecamatan Temayang, kemarin (21/12).
Ia adalah Sukijah. Perempuan berusia sekitar 126 tahun. Berprofesi sebagai dalang ruwat. Cukup ternama bagi kalangan masyarakat Bojonegoro. Menuanya usia tak menghalangi semangatnya membantu sesama hingga berbagi wawasan hidup.
Perjalanan bermula menuju Desa Pajeng, Kecamatan Gondang. Setiba di sana, memasuki gang atau jalan poros desa menuju Desa Soko. Ruas jalannya berpaving dengan kontur naik turun bukit beberapa kali.
Selang waktu sampailah di kantor Desa Soko. Setelah bertanya pada masyarakat sekitar, ternyata kediaman Sukijah berada di samping kantor. Sehingga cukup melangkahkan kaki beberapa meter.
Setiba di muka pintu rumah, tampak Sukijah berdiri menata meja di ruang tamunya. Ia menyadari kedatangan Jawa Pos Radar Bojonegoro dan mempersilakan duduk. Sosoknya cukup mengesankan. Tinggal seorang diri di rumah. Dengan usia 126 tahun, Sukijah masih tampak segar dan sehat. Suaranya masih lantang dan jelas ketika berbicara. Menggunakan bahasa Jawa. Hanya, ketika berjalan perlu bantuan tongkat.
Selain itu, kualitas pendengarannya sudah menurun. Sehingga ketika berkomunikasi, Jawa Pos Radar Bojonegoro menuliskan di secarik kertas. ‘’Sepuntene ya nak, mbahe wes gak patek krungu, wes tuo. Iki anak ku 3, putu ku 8, buyut 14, canggah 4. Iki enek seng lagi meteng meneh, berarti arep 5 (canggah),” tuturnya dengan logas Jawa yang khas.
Panjang lebar ia menceritakan sebagian kisahnya ketika menjalani sebagai dalang ruwat. Tidak melalui proses belajar atau berguru pada siapapun. Kemampuan dan keahliannya lahir dengan sendirinya. Apalagi profesi tersebut sudah turun temurun dari kakek dan buyutnya.
Perempuan memiliki tiga anak itu tidak ingat rentang tahun ia mulai sebagai dalang ruwat. Namun, ia hanya mengingat kala itu terjadi sebuah peristiwa. Sehingga tidak boleh keluar rumah. Utamanya ketika malam. Kurang lebih bisa disimpulkan sekitar 1997 atau 1998 silam.
Sebelum rentang waktu tersebut, Sukijah secara tidak sengaja menemukan sebuah wayang kresna berbahan kulit dan sebilah keris tergeletak di rumahnya. Ia mengaku kaget kehadiran dua benda tersebut. Ia sudah bertanya kepada orang-orang di sekitar, namun tidak ada yang merasa memiliki benda tersebut.
Sukijah tak serta merta menyimpannya. Bahkan ia berniat membakar dan membuang kedua benda tersebut. Namun, usahanya tidak sesuai niatan. Beberapa hari kemudian, Sukijah mendapati mimpi serta wisik dan pesan dari keluarganya. Intinya sama. Yakni ia menyimpan dan merawat kedua benda itu. Dan akan menjadi bekal hidupnya hingga kelak. ‘’Mbahe ki gak iso opo-opo nak. Kabeh kersaning Gusti Allah,” ujar dia.
Sukijah sedikit memberi wawasan. Intinya hiduplah selayaknya manusia biasa. Tidak perlu bertindak anehaneh. Juga, tahu mana benar dan salah. Terakhir ia memanjatkan doa demi keselamatan, kesehatan dan kesuksesan kepada semua.
Tepat, berada di samping kediaman Sukijah, tinggal salah satu dari ketiga anaknya. Yakni Suradi. Jawa Pos Radar Bojonegoro berkesempatan berbincang pula dengan pria juga pegiat benda purbakala Bojonegoro itu. ‘’Saya anak terakhir. Kakak yang pertama (laki-laki) dan kedua (perempuan) juga tinggal di desa ini,” katanya kemarin.
Menurut pria kelahiran 1953 itu, Sukijah merupakan sosok ibu penuh ketegasan dan keras. Apalagi jika menyangkut tindakan atau perilaku tidak tepat. Atau terkesan salah. Namun, ketika persoalan selesai, tidak ada dendam dan kembali seperti biasa.
‘’Tegas kepada siapa saja misalkan tidak benar, ya ditabrak. Tidak peduli siapapun atau berpangkat atau jabatan apapun. Tapi kalau orangnya (Sukijah) salah, juga mudah mengakui,” ujar pria berusia 67 tahun itu.
Menurut Suradi, meski memiliki sikap tegas dan keras, Sukijah sosok ibu welas asih dan dermawan. Sehingga, setiap memiliki uang, hasil dari melakukan dalang ruwat, Sukijah memberi sebagian besar uangnya ke anak, cucu, cicit, saudara, atau tetangga sekitar.
‘’Jadi tidak dipergunakan sendiri. Sebagian besar justru diberikan ke orang,” imbuh pria dua anak itu. Menurut dia, Sukijah sering memberi wawasan dan wejangan. Kaitannya alangkah baiknya manusia selalu berada di jalan benar. Menunjukkan mana benar dan salah. Baik itu kepada anak, cucu, cicit, tetangga, maupun tamu yang datang ke rumahnya.
‘’Katanya, kudune wong urip kui yo nglakoni seng bener. Dan itu tidak hanya kepada saya saja, tapi semuanya yang bertemu beliau,” tuturnya. Menurut Suradi, ibunya terbiasa hidup sederhana dan mandiri. Tidak mau merepotkan orang lain. Sejak kecil hidupnya sudah serba biasa. Tidak seperti orang menengah ke atas pada umumnya. ‘’Alhamdulillah masih sehat. Tapi karena usia sudah tua ya terkadang merasa badannya sakit dan pegal-pegal. Semoga terus diberi kesehatan,” harap dia.
Editor : Indra Gunawan