Pernah tiga kali gagal membuat usaha. Kemudian sukses dengan kerajinan jati warna pastel. Kini fokus berdayakan ibu-ibu produksi dekorasi rumah dari serat alam.
M.IRVAN RAMADHON, Radar Bojonegoro
Keibun begitu melakat pada sosok Nesya Anggi Puspita. Gurat wajahnya menandakan sosok ibu yang tulen. Setiap kata yang terdengar jelas dengan cerita yang runut. Sehingga mudah dipahami. Namun, di balik keibuannya, ternyata juga memiliki sosok perajin. Karya-karyanya sudah merambah pasar internasional.
Anggi sapaanya memulai berkarya kerajinan tangan sejak 2015. Momentumnya ketika hamil anak pertama dan masih bekerja di industri migas. Galau yang menumpuk karena berpikir tidak bisa merawat dan menghabiskan waktu dengan anak jika masih bekerja perusahaan tersebut.
Dengan berani, perempuan asal Desa/Kecamatan Kasiman, itu akhirnya memilih untuk keluar dari perusahaan. Lembaran baru dimulai penuh dengan tantangan. Alumni Universitas Airlangga Surabaya itu sempat gagal dalam membuka usaha. Bahkan tiga kali. Mulai berjualan jilbab, produk spa, hingga parsel. Namun, semua tak berjalan lama. Ibu memiliki dua anak ini akhirnya mengonsep sumber alam di sekitar rumah tinggalnya.
Kebetulan rumahnya di sekitar kawasan produk olahan kayu. Mulai menggandeng perajin kayu jati di Kecamatan Kasiman. Menginovasikan kerajinan biasanya identik warna cokelat diubah finishing dengan warna pastel. “Waktu itu warna pastel sedang digandrungi,” ungkap peraih penghargaan Perempuan Inspirator Pembangunan Jawa Timur 2020 Bidang Ekonomi.
Kecamatan Kasiman, identik dengan sentra kerajinan kayu jati dan ukiran. Hanya, Anggi memberanikan lebih mengembangkan pemasaran secara inovatif. Namun perjalanannya tidak mudah. Pada 2017 penjualan turun. Anggi pun dihadapkan dua pilihan, menjual barang orang lain atau melanjutkan dengan mencari pasar baru. Nah, dari situ dipilihlah pilihan kedua dan mulai belajar ekspor.
“Bertepatan dengan hamil anak kedua. Dan harus mengurusi usaha sendiri karena suami bekerja di luar kota,” ungkap alumni SMAN 1 Cepu, Blora itu. Anggi memasukkan beragam kerajinan kayu ke marketplace alibaba.com pada 2018. Tetapi, hasil kerajinan kayu jati miliknya belum layak untuk diekspor. Harus dioven terlebih dahulu. Padahal, untuk mendaftar di e-commers menggunakan biaya tak sedikit.
“Waktu itu nekat. Ternyata ekspor tidak gampang, ribet. Padahal sudah banyak permintaan,” ujar alumni SMPN 2 Cepu. Akhir 2019, Anggi seakan mendapat secercah semangat. Saat itu, kali pertama terdapat pembeli dari Korea. Sejak saat itu banyak jaringan. Berteman dengan para eksporter.
Perlahan, Anggi mulai berjejaring dengan ekspoter besar. Namun, ternyata tak mudah, penjualan kerajinan kayu sedikit. Anggi belum berhenti bergerak. Sosok perempuan berjilbab ini sejak enam bulan lalu mengembangkan kerajinan dekorasi rumah dari serat alam. Seperti kelobot jagung, pelepah pisang, agel, bambu, dan rotan.
“Ternyata banyak permintaan kerajinan dari serat alam,” jelas peraih penghargaan juara 1 UKM Berprestasi Millenialpreunership Kategori Handycraft dari Gubernur Jawa Timur 2020. Kerajinan dibuat dari serat alam salah satunya hiasan dinding, kaca, dan tempat tisu.
Anggi pun memberdayakan ibu-ibu di sekitar Desa Kasiman. Sekitar 40 ibu rumah tangga sebelumnya tidak memiliki pemasukan, kini diajak berkarya. Ibu-ibu perajin datang ke rumahnya untuk mengambil bahan baku. Sebelumnya bahan baku sudah ditimbang sesuai kebutuhan produk. Agar ketika pengerjaan di rumah masing-masing ibu-ibu bahan tidak kurang ataupun lebih. “Jadi ukuran kerajinan semua sama,” ungkapnya.
Hasil kerajinan dikumpulkan dan diperiksa kualitasnya. Jika tidak sesuai dikembalikan dan diperbaiki. Setelah itu dikirim baru melalui proses pengemasan. Anggi ingin terus mengembangkan karya kerajinan dari Kasiman ini terus menyasar pasar internasional. (irv)
Editor : Indra Gunawan