Radar Bojonegoro - Pendidikan menjadi aspek krusial mencetak generasi penerus bangsa. Di tengah terpaan dunia luar melalui teknologi, pendidikan berlapis menjadi opsi positif. Maksudnya para orang tua membekali anak pendidikan formal sekaligus santri mondok (belajar di pondok pesantren).
Zainudin kini cukup ayem. Apalagi, usai menyambangi putranya yang mondok, Sabtu lalu (17/10). Padahal, sebelumnya setiap hari sempat khawatir atas pergaulan putra pertamanya sering bermain dan keluyuran bersama temannya. Terutama kecanduan bermain HP dan game online.
‘’Sekarang betul-betul ayem. Anak bersedia mondok. Sekarang diluk (sering menundukkan kepala atau hormat). Sebelumnya, kalau dipanggil sering mengacuhkan, apalagi kalau sudah pegang HP,’’ ujar lelaki memiliki produksi tahu goreng itu kemarin (21/10).
Putranya belum ada satu semester belajar di Ponpes Al-Rosyid Ngumpakdalem, Keca matan Dander. Baru kelas satu MTs. Namun, dia menyadari tak bisa menyambangi putranya di ponpes. Ada jadwal dan pengaturannya. Termasuk, peringatan Hari Santri saat ini (22/10) menjadi momentum agar anak semakin rajin belajar agama dan pelajaran eksakta.
Rexy Mawardijaya juga bersyukur putrinya bersedia belajar dan mondok di SMA Ar-Rohmah Pesantren Hidayatullah, Malang. Bapak tinggal di Kecamatan Dander itu merasa banyak perubahan dialami putri keduanya.
‘’Dulu merapikan baju harus disuruh-suruh. Sekarang otomatis merapikan sendiri. Bisa masak dan cuci sendiri. Dan mengaji,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.
Meski rela berjauhan, namun Rexy merasa senang melihat putri keduanya itu mandiri dan rajin mengaji. Belajarnya intens, pagi sampai siang belajar. Malamnya dilanjut lagi. Selama di pondok tak khawatir, karena siswa tak boleh membawa gadget.
‘’Cuma bisa kontak seminggu sekali via telepon. Sebulan sekali baru video call. Itu pun dibatasi 20 menit. Memang orang tua harus sabar, tapi anak menjadi rajin,’’ ujar Rexy. Meski mondok, namun ilmu eksakta atau pelajaran sains tetap unggul. Sehingga, putrinya lulusan SMPN 1 Bojonegoro itu pun juga senang belajar.
‘’Ada pelajaran eksakta atau sains, juga belajar agama. Sehingga seimbang,’’ ujar dia. Hal sama dirasakan Imroatul Azizah. Ibu tinggal di Desa Wedi, Kecamatan Kapas itu, menerapkan metode belajar sekaligus mondok pada dua anaknya. Putri dan putranya.
Kedua anaknya sejak jenjang MTs menjalani pendidikan formal sekaligus mondok. ‘’Anak-anak enjoy. Bahkan anak kedua justru jadi fokus menghafalkan Alquran,” katanya kemarin (21/10).
Menurut dia, anak pertama cewek MTs dan MA (sekaligus mondok) di Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto. Sekarang semester tujuh kuliah di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Tetapi, kini sudah tidak mondok lagi. Anak kedua cowok, MTs Amanatul Ummah, Mojokerto, dan MAN Insan Cendekiawan Serpong. Sekarang mondok di Al Munawwir Jogjakarta. Juga semester satu kuliah di UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta.
Menurut dia, keputusannya membekali anak dengan pendidikan berlapis karena zaman sekarang harus seimbang antara ilmu dari formal dan nonformal. Agar penanaman pendidikan karakter dan akhlakulkarimah lebih mudah.
‘’Kami sebagai orang tua lebih ayem (tenang) karena ada yang mengawasi anak-anak dalam pergaulannya. Ini usaha kita agar anak-anak berbakti pada negara, bangsa, dan orang tuanya,” tutur wanita juga Sekretaris PC Muslimat NU Bojonegoro itu.
Ridlwan Hambali juga menerapkan metode pendidikan sama pada anak nya. Putranya semenjak setingkat MTs sudah sekolah sekaligus mondok. Tepatnya di Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Jawa Tengah. Seusai menamatkan MA, baru berhenti mondok.
‘’Sekarang kuliah di UIN Malik Ibrahim Malang semester tiga. Sebelumnya saat semester satu dan dua juga mondok di kampus,” katanya kemarin (20/10). Menurut dia, mondok menjadi program wajib kampus bagi mahasiswa baru. Aturannya mondok selama satu tahun (dua semester awal).
Setelah itu, kalaupun ingin mondok harus di luar kampus. Karena fasilitas mondok hanya diperuntukkan mahasiswa baru. ‘’Tapi karena sekarang sistemnya daring, banyak di rumah,” ujar pria juga Rektor Unugiri Bojonegoro itu.
Menurut Ridlwan, zaman sekarang jauh berbeda dengan dulu. Kalau dulu menempuh sekolah umum saja atau mondok saja sudah bagus. Tapi kalau sekarang mengambil salah satu dari keduanya masih dirasa kurang.
Hal itu pula mendasari banyaknya ponpes menyelenggarakan pendidikan formal (sekolah umum). Jadi, bukan sekadar pondok pendidikan diniyah, tapi juga penyelenggara pendidikan diakui secara nasional.
‘’Sekarang itu begitu, Kami pun mencoba mengambil keduanya. Anak harus kami bekali sesuai kondisi dan kebutuhan zaman,” ujar pria juga Ketua Dewan Pendidikan Bojonegoro itu.
Menurut dia, jika hanya menjalani sekolah umum tanpa ada penguatan dari mondok, agak riskan pada zaman sekarang. Anak perlu dibekali nilai-nilai moralitas dan keagamaan. Karena kalau dilepas, pengaruh dunia luar begitu masif. Seperti pergaulan bebas hingga kegiatan lain yang cenderung negatif.
‘’Tapi dengan adanya kegiatan-kegiatan di pondok setelah sekolah, seperti mengaji, membaca kitab, dan mendengar pujian-pujian akan menambah nilai tersendiri pembentukan karakter dan akhlaknya,” tutur dia.
Editor : Indra Gunawan