Hampir setiap hari, Marwita Oktaviana rutin menggunggah gambar yang dilengkapi narasi cerita pendek (cerpen) di akun instagram miliknya. Sejak setahun lalu, dia bergabung dengan komunitas One Day One Post (ODOP) yang mewajibkan anggotanya menulis cerpen sekaligus mempublikasikannya di berbagai media.
‘’Sebenarnya kita disuruh mengirim tulisannya di media massa cetak atau daring. Apa saja boleh termasuk di instagram. Alhamdulillah satu cerpen dan satu puisi saya sudah pernah dimuat di salah satu koran nasional,’’ tuturnya kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (26/5).
Perempuan asal Desa Sungegeneng, Kecamatan Sekaran ini Februari lalu berhasil menerbitkan buku kumpulan cerita pendek (kumcer) yang berjudul Berita di Satu Pagi. Dia memenangi hadiah voucher menerbitkan buku secara gratis setelah memenangi sayembara yang diadakan oleh komunitas.
Sebelumnya, ibu dua anak ini pernah menerbitkan sepuluh antologi cerpen dan puisi bersama teman-temannya. Marwita mengenang, dalam sayembara tersebut, peserta diminta menulis cerpen dengan genre genre historical fiction atau fiksi sejarah. Alur cerita pada genre tersebut menggunakan setting masa lampau. Marwita memilih tokoh Gajah Mada sebagai ide cerita.
‘’Saya mengangkat cerita Gajah Mada selama mengabdi di Bali. Karena Gajah Mada asli Lamongan dan saya juga pernah tinggal di Bali selama bertahun-tahun. Alhamdulillah cerpen saya menang dan berhak mendapat voucher terbit gratis,’’ kenang alumni Universitas Udayana ini.
Pihak penerbit memberi deadline Marwita untuk menyelesaikan sepuluh judul cerpen dalam waktu sebulan. Baginya, tantangan utama dalam menulis cerita dengan genre historical fiction adalah kesesuaian cerita dengan sejarah yang terjadi sebenarnya. Selain itu, dia juga harus menyelipkan tokoh-tokoh lainnya agar ceritanya mudah dipahami oleh pembaca. Marwita membutuhkan waktu dua minggu untuk menyelesaikan satu cerpen dengan genre tersebut.
‘’Satu buku ada sepuluh judul cerpen. Jadi historical fiction-nya cuma satu cerpen saja. Untuk riset dan proses kreatifnya saja butuh waktu dua minggu baru jadi satu cerpen itu. Saya risetnya banyak baca-baca dari buku dan internet. Kalau masalah bahasa Bali, ya saya tanya teman-teman yang ada di Bali. Alhamdulillah, cerpen itu saat saya lombakan di event tingkat nasional juga menang juara empat,’’ kenangnya.
Selain riset, kendala lainnya yang dialami Marwita adalah writers block atau kesulitan mendapat ide. Untuk mengatasinya, dia dibantu rekan-rekannya yang turut menyumbangkan cerita tentang mitos-mitos yang ada di daerahnya.
‘’Seperti mitos-mitos yang beredar di masyarakat. Misalnya kalau ada suara burung gagak itu artinya apa, atau kalau ada kupu-kupu datang ke rumah itu pertanda apa,’’ ujarnya.
Meskipun hasil karyanya berhasil dimuat di media massa dan diterbitkan menjadi sebuah buku, Marwita mengaku justru suaminya tidak mendukung aktivitasnya di bidang kepenulisan. Sehingga dia harus sembunyi-sembunyi saat menulis.
‘’Kalau suami terus terang nggak suka saya nulis. Jadi nulisnya pas nggak ada beliau saja. Saya juga sudah biasa sih, nggak mempermasalahkan itu,’’ ungkapnya.
Sebagai penulis pemula, Marwita memilih mengedarkan buku karyanya kepada rekan-rekan terdekatnya. Apalagi, bukunya diterbitkan secara gratis oleh penerbit minor. Dia harus memasarkan sendiri dan pembelian buku menggunakan sistem pre order.
Salah satu penulis yang menjadi inspirasi bagi Marwita untuk menulis adalah Dewi Lestari. Marwita mengibaratkan penulis yang juga penyanyi itu seperti penyihir. Setiap buku karya Dewi Lestari memiliki karakter yang kuat dan dia selalu totalitas dalam melakukan riset.
‘’Semua bukunya saya suka. Apalagi tetralogi novel Supernova juga asyik,’’ katanya.
Marwita berharap karya tulis fiksi karyanya bisa dinikmati oleh banyak orang dan menginspirasi.
Editor : Bachtiar Febrianto