KIRAB pusaka Ki Andongsari di Kelurahan Ledok Kulon, Kecamatan Kota memiliki semangat baru. Kirab ini menyatukan kekerabatan warga dua kelurahan, yakni Ledok Kulon dan Ledok Wetan.
Gerak belasan penari ini sepadan. Berselendang kuning. Berjalan sedikit demi sedikit keluar dari area Makam Ki Andongsari. Dengan dua tangan membawa anyaman bambu berisi bunga-bunga.
Di belakang penari, terdapat para lelaki menggunakan pakaian khas Jawa. Diiringi lantunan narasi berbahasa Jawa, lelaki berblangkon itu berjalan beriringan. Sebagian membawa pusaka Ki Andongsari.
Lelaki lainnya, bertugas membawa payung sebagai peneduh pembawa pusaka. Pusaka leluhur warga Kelurahan Ledok Kulon itu pun dikirab mengelilingi jalan-jalan kelurahan berada di sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo.
Uniknya, rangkaian kirab pusaka digelar Senin (16/9) itu dilakukan oleh warga dua kelurahan. Yakni Kelurahan Ledok Kulon dan Kelurahan Ledok Wetan. Dua kelurahan ini hanya berbatasan adanya kali di Gerdu Suto. Namun, dua kelurahan ini sama-sama dialiri Sungai Bengawan Solo.
Kirab dengan membawa sembilan pusaka berjalan khidmat. Para pembawa pusaka selama kirab hanya diam. Pandangan menatap ke depan. Konsentrasi meski panas menyengat sekitar pukul 14.00 itu.
Mereka membawa sembilan pusaka Ki Andongsari. Antara lain, tombak godong andong, tombak gagak cemani, tombak galih kelor, tongkat menjalin bang, tongkat menjalin porong, pedang singo barong, kentrung, kutang onto kusuma, dan selempang Kabupaten Ngurawan.
‘’Semangat kita ini membawa dua kelurahan menjadi satu kekerabatan. Guyub. Meskipun beda adminstrasi,’’ kata Karsono, Ketua Haul Ki Andongsari 2019 ditemui di area tempat pemakaman umum (TPU) Ledok Kulon kemarin siang (17/9).
Kelurahan Ledok Kulon dan Kelurahan Ledok Wetan ini sama-sama memiliki penduduk padat. Berdasar data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Bojonegoro, jumlah penduduk Kelurahan Ledok Kulon sebanyak 10.412 jiwa. Sedangkan, Ledok Wetan sekitar 5.053 jiwa.
Kawasan di pinggiran Kecamatan Kota ini memiliki kedekatan. Sama-sama berada di aliran Sungai Bengawan Solo. Sehingga, ketika air bengawan meluap, sebagian wilayah dua kelurahan ini sama-sama dilanda banjir.
‘’Ledok Kulon dan Ledok Wetan itu berbeda kelurahan. Namun, dua wilayah ini memiliki satu makam (TPU),’’ kata Karsono. Lokasi TPU berada di Kelurahan Ledok Kulon. Hanya berjarak beberapa meter dari bibir Sungai Bengawan Solo.
Menurut Karsono, informasi dari berbagai warga, dulu Ledok Kulon dan Ledok Wetan ini menjadi satu. ‘’Namanya Tlatah Ledok,’’ ujar pria keseharian sebagai guru di SMK ini. Hanya, dia tidak memiliki literasi dan sumber pasti adanya dua kelurahan ini satu tlatah.
‘’Memang dulu ada yang menyebut, dulu hanya ada satu, yakni Ledhok (ejaan lama),’’ kata Nurhakim, salah satu warga setempat.
Agus Sigro, salah satu budayawan juga mengakui adanya informasi dulunya Ledok Kulon dan Ledok Wetan itu satu kawasan, yakni Ledok. ‘’Karena itu, kirab melewati Ledok Kulon dan Ledok Wetan,’’ ujar dia.
Karena satu kawasan itu, kata Sigro, sapaannya, dulunya Ki Andongsari juga berperan saat pembangunan Masjid Darussalam. Lokasinya dekat (dengan Ledok) dan di sepanjang pinggir bengawan.
‘’Kenapa dikirab? Ini memberi spirit kelurahan, kita saling memiliki, dan satu tlatah,’’ jelas dia.
Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Bojonegoro Moch Chosim mengatakan, sebelum kelurahan, memang berstatus desa. Dan memiliki bengkok. ‘’Dulu kepala desa (pertama) Ledok Kulon itu Pak Muslih. Sedangkan, Ledok Wetan itu Pak Suraji,’’ jelas pejabat tinggal di Kelurahan Ledok Kulon ini.
Editor : M. Yusuf Purwanto