Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Pasar Burung Lamongan Terancam Kolaps

M. Yusuf Purwanto • Senin, 16 September 2019 | 20:30 WIB
Pasar Burung Lamongan Terancam Kolaps
Pasar Burung Lamongan Terancam Kolaps

LAMONGAN, Radar Lamongan – Eksistensi Pasar Burung Lamongan terancam. Sebab jumlah pedagang semakin berkurang. Sebanyak 50 kios yang tersedia, hanya 12 kios yang masih aktif berjualan. Itupun hanya kios yang ada di sebelah timur saja. Kondisi itu disebabkan jumlah pembeli semakin menurun.


‘’Sepinya aktivitas pedagang sudah sejak sekitar Mei lalu,’’ kata seorang pedagang burung, Teguh Raharjo kemarin (15/9).


Dia mengungkapkan, rerata para pedagang di pasar burung yang berada di Jalan Kusuma Bangsa itu hanya bisa menjual dua hingga lima ekor per hari. Padahal sebelumnya hingga 10 ekor per hari. ‘’Kalau dihitung-hitung pendapatan bersih sekarang hanya Rp 75 Ribu. Kalau tahun lalu pasti masih di kisaran Rp 200 Ribu,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Lamongan.


Menurut dia, penurunan jumlah pembeli itu diperkirakan akibat penurunan daya beli masyarakat. ‘’Karena penjualan semakin turun, beberapa pedagang burung memilih menutup kiosnya,’’ ujar dia.


Pria 47 tahun ini menambahkan, akibat penurunan daya beli masyarakat, mereka lebih memilih memanfaatkan uangnya untuk membeli kebutuhan pokok daripada untuk membeli burung. Apalagi harga burung dari tengkulak juga naik hingga 50 persen. ‘’Jenis-jenis burung juga semakin tambah langka. Sehingga semakin mahal. Lengkaplah penyebab penurunan pembeli,’’ keluhnya.


Hal senada juga dirasakan pedagang burung lainnya, Jarwo. Pedagang burung asal Kecamatan Kembangbahu itu mengunhgkapkan, sepinya pengunjung Pasar Burung Lamongan karena harga pakan naik drastis. ‘’Millet harganya naik 75 persen. Jangkrik harganya juga naik 25 persen,’’ ungkapnya.


Pedagang burung asal Turi, Deni Saputra menambahkan, banyaknya masyarakat yang bisa beternak burung sendiri juga menjadi penyebab penjualan burung menurun. Terutama jenis burung Lovebird. Sebab proses budidaya burung itu mudah dilakukan. Apalagi burung jenis ini bisa menghasilkan empat telur dalam setiap produksinya. ‘’Sehingga harga burung Lovebird turun karena jumlahnya banyak. Kami berharap pasar burung ini bisa ramai lagi seperti dulu,’’ tukasnya.

Editor : M. Yusuf Purwanto
#daya beli #lamongan