DHENY Ike Kirmayanti, salah satu sosok penggagas tari thengul. Sebagai pelatih tari thengul, dia semakin mencintai tari khas Bojonegoro ini.
Angin berembus kencang. Tenda-tenda sudah berdiri di sekitar Jembatan Sosrodilogo, Bojonegoro. Tenda yang akan digunakan untuk berhias sebanyak 2.050 penari tari thengul pun sudah tertata.
Keramaian begitu melekat. Mencari sosok penggagas tari thengul Dheny Ike Kirmayanti, di kawasan Jembatan Sosrodilogo, juga sudah kembali ke kantornya.
Dheny, sapaan akrabnya, tampak sibuk di kantornya, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Bojonegoro. Dia mempersiapkan kolosal tari thengul digelar hari ini (14/7).
Dheny merupakan sosok peneguh tari thengul. Dia mengatakan, tari thengul diciptakan kali pertama semenjak 1992 bersama tim penciptanya dalam acara pekan seni budaya Jawa Timur di Madiun silam.
’’Waktu 1992 itu saya tidak berhak bicara, karena bukan karya saya. Namun 2011 ini baru bisa bicara karena ada saya di antaranya yang menciptakan tari thengul sekarang. Saya mulai berkiprah tari thengul semenjak 2011,’’ ujar dia.
Setelah revitalisasi thengul yang dilakukan 2011, lahirlah tari thengul hingga saat ini. Dheny mengatakan, tari thengul sudah mendapat hak paten 2011 dan sudah menjadi milik Bojonegoro.
Menjadi pelatih tari tentu menjadi tantangan baginya. Jika dulu hanya mengajar sekitar tiga hingga tujuh penari thengul, dengan adanya acara pemecahan rekor muri tari thengul, Dheny harus mengajar lebih banyak penari.
Untungnya dia tidak sendiri. Dibantu sekitar 20 guru seni tari di seluruh Bojonegoro untuk menciptakan tari thengul yang dilakukan secara kolosal. Meski, Dheny berasal dari Kota Tuban, tapi kiprahnya sebagai penggagas tari thengul untuk Kota Ledre patut diacungi. Apalagi memperjuangkan hingga mendapat hak paten tarian khas Bojonegoro.
Seharusnya, kata perempuan berjilbab ini, penari berbeda dengan baris-berbaris. Namun, ketika dilakukan secara kolosal jadi terasa seperti melakukan PBB (peraturan baris-berbaris).
’’Biasanya kita sebagai penari cuma tampil di panggung yang tidak seberapa besarnya. Musik terdengar jelas. Jika dilakukan di lapangan terbuka perjuangannya luar biasa,’’ katanya sambil tertawa.
Baik penari dan pelatih merasakan menari di tengah lapangan terik. Wajah dan tangan yang semula tidak belang menjadi belang. Karena latihan pagi, siang, malam.
Dia menjelaskan, tari thengul merupakan gambaran dari kesenian wayang thengul. Yang terbuat dari kayu. Sambil menggerak-gerakkan lengan pajangan wayang tengul di atas lemarinya, Dheny menyimboliskan gerakan patah-patah pada tari thengul.
Tentu, lanjut dia, bagaimana manusia mengimplementasikan wayang menjadi tarian. Seolah-olah seperti kayu kaku dengan ciri khas khusus.
’’Ciri khasnya gerakan patah-patah, kaku, dan ada lucunya. Karena breakdown dari kesenian wayang thengul, ciri khasnya tetap kita kemas pada tarian. Seperti musiknya menggunakan gending tenggor tetap dibawakan pada tarian,’’ ucap perempuan tinggal di Jalan Lettu Suwolo ini.
Para penari memakai bedak putih adalah salah satu ciri khas tari thengul. Kenapa tidak pakai topeng? Tentu begitu pertanyaannya. Dia mengatakan, penari tidak akan bisa menggambarkan ekspresi jika memakai topeng.
Penari thengul memang bukan penari yang anggun atau cantik. Melainkan penari lucu agar penonton juga ikut terbawa ekspresinya. ’’Mau tertawa, manyun, melotot jika dirias menggunakan body painting karakter lebih dapat,’’ ucapnya sambil menirukan beragam ekspresi tari thengul.
Sementara ciri khas lain terletak pada aksesorinya. Jika tarian biasanya menggunakan cunduk mentul. Tari thengul tetap menggunakan cunduk thengul.
Editor : M. Yusuf Purwanto