BOJONEGORO - Sambil memegang gawai, bocah berusia 10 tahun itu keluar masuk dari ruang psikiatri RSUD dr Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro kemarin (2/7). Sementara ibunya hanya bisa melihat sikap si buah hatinya.
Ibu yang tidak ingin disebutkan namanya ini miris melihat anaknya yang masih duduk di bangku SD kecanduan gawai. Di tengah ingar bingar gawai canggih, dia menyesal memfasilitasi anaknya dengan smartphone atau handphone (HP) di usia yang masih anak-anak.
Akibatnya, anak tersebut hanya bermain game sepanjang hari. Sekolahnya pun terganggu. Sikap anaknya yang kecanduan game online sekitar tiga bulan ini.
Segala usaha pernah ibu lakukan bahkan sampai menyita HP. Tindakan ini dilakukan dengan maksud anaknya akan berhenti berkutat dengan teknologi canggih itu.
“Kalau HP-nya diambil malah marah-marah tidak terkontrol. Dan, akhirnya saya bawa ke psikiater karena sekolah sudah mulai bolos. Makannya susah. Saya sudah kerepotan menanganinya,” keluhnya saat ditemui di RSUD di Jalan Veteran itu kemarin (2/7).
Bahkan, dia mengatakan tidak tahu-menahu password HP yang digunakan anaknya. Hingga tidak bisa memantau aktivitas si anaknya mengutak-atik HP.
Wartawan Jawa Pos Radar Bojonegoro mencoba berkomunikasi dengan si anak ketika ia tidak lagi mondar-mandir dan duduk di seberang. Jawabannya hanya tersenyum kikuk. Sesekali melihat layar gawainya lagi.
“Diajak bicara susah sekali. Apalagi dinasihati. Kalau saya bicara sudah susah mendengarkan,” ucapnya sambil membujuk anaknya ke ruang psikiatri lagi.
Dia mengaku sering meninggalkan anak bermain gawai tanpa pengawasan. Hal tersebut memicu anak ketagihan terus-menerus menatap layar. “Kadang sebagai orang tua, ya udah anaknya dikasih aja HP biar nggak nakal kalau di rumah. Tapi akibatnya malah gini kalau kebablasan,” ungkap dia.
Psikolog RSUD Bojonegoro Utami Sanjaya menjelaskan, anak kecanduan gawai adalah salah satu bentuk pola asuh orang tua yang salah. Orang tua tidak menerapkan aturan-aturan di rumah. Bisa menyebabkan anak memiliki gangguan tingkah laku. Serta memiliki sifat menentang yang tinggi.
“Kalau orang sekarang biasanya menyebut tingkah laku tersebut sebagai bentuk kenakalan,” terangnya.
Dia mengatakan, komunikasi dengan anak menjadi peran penting mengatasi gangguan tingkah laku anak. Ajak anak bercerita selayaknya teman namun tetap sesuai norma.
Serta menerapkan peraturan di lingkungan rumah. Seperti membatasi anak menggunakan gawai, dalam sehari hanya diperbolehkan maksimal satu jam. Jika dulu anak kecanduan televisi, sekarang masanya anak kecanduan gawai.
Editor : M. Yusuf Purwanto