Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Dua Kali Melamar OB Ditolak

M. Yusuf Purwanto • Rabu, 26 Juni 2019 | 05:57 WIB
Dua Kali Melamar OB Ditolak
Dua Kali Melamar OB Ditolak


Takdir Tuhan tidak ada yang tahu. Manusia hanya bisa berusaha. Seperti garis hidup yang dijalani M. Nurokhib. Siapa sangka pemuda desa yang sebelumnya melamar office boy (OB) saja ditolak, kini menjadi komisioner Komisi Pemilihan Umum Kabupaten (KPUK) Tuban.


PINTU ruang kerja Divisi Perencanaan, Data, dan Informasi yang ditempati M. Nurokhib sedikit terbuka. Pria yang akrab disapa Rokib itu terlihat duduk menghadap layar komputer. Sesekali, dia mengambil buku di mejanya dan kemudian mencari data yang dibutuhkan. Kemarin (24/6), merupakan pekan kedua pemuda asal Desa Temaji, Kecamatan Jenu ini berkantor di KPUK Tuban, Jalan Pramuka setelah resmi dilantik Ketua KPU RI Arif Budiman, Sabtu (15/6). ‘’Monggo-monggo,’’ ujar dia menyambut Jawa Pos Radar Tuban.


Sebagai salah satu komisioner baru KPUK, Rokib membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Terutama terkait tugas dan tanggung jawabnya. Itu pun tak perlu waktu lama untuk nyetel dengan tugas barunya.


Maklum, sebelum lolos menjadi komisioner periode 2019-2024, pria berperawakan tinggi besar ini  memiliki bekal sebagai penyelenggara pemilu. Sebelumnya, dia menjabat panitia pemilihan kecamatan panwascam. Juga, pernah menjadi anggota kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS).


Rokib mengaku tak pernah menyangka kalau dirinya bisa duduk di kursi komisioner KPUK. Maklum, selama ini bapak satu anak itu lebih akrab dengan aktivitas buruh pabrik ketimbang menjadi petugas penyelenggara pemilu.


Sebelum berkecimpung di dunia pemilu, dia pernah merasakan pahitnya ditolak ketika melamar kerja di sejumlah perusahaan. Padahal, yang dilamar posisi office boy (OB). ‘’Dua kali saya melamar menjadi OB dan ditolak,’’ kenang dia.


Kini, takdir mengantarkannya menjadi salah satu pejabat penyelenggara pemilu di tingkat kabupaten. Sebuah jabatan yang cukup prestise. Jabatan yang menuntutnya berhadapan langsung dengan elit-elit politik. Utamanya elit politik di Bumi Wali.


‘’Ya disyukuri saja, mungkin kalau dulu saya diterima menjadi OB, sekarang tidak menjadi komisioner KPUK. Jadi, diambil hikmahnya saja,’’ kata dia bersyukur.


Rokib mengungkapkan, berkat perjalanan hidupnya tersebut kini anak ketiga pasangan Sholeh-Warsi ini memiliki keyakinan bahwa sejatinya setiap orang itu memiliki kesempatan yang sama untuk meraih hidup yang lebih baik. Tinggal usaha dan kemauan yang keras. ‘’Dengan amanah yang saya terima sekarang ini, saya sadar bahwa semua orang memiliki kesempatan yang sama (untuk sukses, Red). Tinggal bagaimana kita berusaha dan berdoa,’’ ujar alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Makdum Ibrahim (Stitma) Tuban itu.


Disinggung terkait pengalaman barunya tersebut, mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ini menyampaikan, tugas penyelenggara pemilu adalah menjalankan undang-undang dan peraturan pemilu. Artinya, tugas dan tanggung jawab yang diembannya itu bisa dipelajari. ‘’Kalau undang-undang dan aturan pemilu bisa kita jalankan dengan baik, Insya Allah semua juga akan berjalan dengan baik,’’ tandasnya.

Editor : M. Yusuf Purwanto
#kpps