MALO - Jembatan Malo selama puasa Ramadan semacam menjadi magnet warga aliran Sungai Bengawan Solo. Di sekitar jembatan membelah Bengawan Solo itu menjadi pasar dadakan. Terutama pasar takjil dengan beragam kuliner makanan dan minuman tradisional.
Bukan hanya warga Kecamatan Malo, bahkan warga Kecamatan Kalitidu juga meramaikan pasar takjil tersebut. Kebetulan jembatan membujur barat-timur itu sebagai pembatas Kecamatan Malo dan Kecamatan Kalitidu.
“Wah kalau jelang buka puasa, jalanan Jembatan Malo ramai. Bahkan biasanya sampai macet jalannya,” ujar Taufik salah satu penjual sempol.
Taufik selama puasa, dagangannya sudah ludes terjual habis magrib. Omzetnya diperkirakan Rp 250.000 per hari. Menurutnya, yang membuat jalanan ramai didominasi anak-anak muda nongkrong di atas jembatan. Biasanya juga ada orang yang mancing di jembatan tersebut.
“Semua anak tumpek blek di jembatan, karena kan sukanya anak muda cangkrukan,” tuturnya.
Hal senada diungkapkan Roni salah satu penjual es buah. Dia mengatakan, selama momen Ramadan menjadi berkah tersendiri bagi para pedagang. Karena, tiap harinya jelang buka puasa tak mengenal kata sepi.
“Alhamdulillah enggak pernah sepi, dagangan selalu ludes tiap hari,” katanya.
Apalagi ketika akhir pekan, lebih ramai lagi. Karena menurut Roni ada tambahan pengunjung dari Wisata Gerabah dan Penangkaran Rusa. Biasanya peziarah dari Wali Kidangan atau Mbah Gotong.
“Wilayah Kecamatan Malo semenjak ada jembatan memang makin banyak pengunjungnya. Apalagi ada wisata-wisatanya,” ungkapnya.
Editor : M. Yusuf Purwanto