BOJONEGORO - Hari pertama ujian sekolah berbasis nasional (USBN) jenjang SD/MI kemarin (22/4) belum ditemukan kendala. Sebanyak 13.609 siswa SD mengerjakan USBN berbasis kertas. Sedangkan, 4.492 siswa MI mengerjakan berbasis smartphone.
Secara bersamaan kemarin berlangsung ujian nasional berbasis komputer (UNBK) jenjang SMP/MTs. Sebanyak 10.580 siswa SMP dan 7.185 siswa MTs. Sama dengan SD/MI, UNBK jenjang SMP/MTs hingga Kamis (25/4).
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Bojonegoro Hanafi mengatakan, tidak ada siswa SMP yang tidak ikut unas. Termasuk, lima lembaga SMP satu atap juga melaksanakan UNBK.
“Secara umum lancar dan ikut semua. Lima lembaga SMP satu atap di Sekar, Ngraho, Temayang, Kedungadem, dan Tambakrejo juga unas CBT (computer based test),” ujarnya.
Hanafi menerangkan, persiapan unas dilakukan sejak beberapa hari lalu. Mulai mengunduh soal ujian dan sinkronisasi server. Ia juga mengantisipasi gangguan teknis dengan cara koordinasi pihak PLN maupun Telkom.
“Kami koordinasi dengan PLN dan Telkom biar unas berjalan lancar,” tuturnya.
Pantauan Jawa Pos Radar Bojonegoro, masih terdapat SD yang menggelar USBN dengan jumlah siswa minim. Seperti SDN Canga’an, Kecamatan Kanor, hanya ada enam siswa. Bahkan, ada pula lembaga tidak menyelenggarakan USBN karena tidak memiliki siswa kelas enam. Seperti SDN Piyak.
Sementara itu, Kasi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Bojonegoro Abdul Wahid mengatakan, jalannya USBN jenjang MI berbasis smartphone merupakan kali pertama. “Saya tidak menerima laporan adanya gangguan. Bahkan telah melakukan monitor evaluasi (monev) ke beberapa lembaga juga berjalan lancar,” ungkapnya.
Secara teknis, kata Wahid, peserta mengakses Google Chrome dan menuju server ujian. Memasukkan nomor peserta. Sehingga, setelah menginput nomor, peserta tidak dapat membuka aplikasi lain.
“Karena jika sudah terkoneksi, aplikasi lain tidak bisa dibuka. Dan juga satu nomor peserta tidak bisa diakses pada dua smartphone ,” jelasnya.
Dia mengatakan, keseluruhan peserta menggunakan smartphone meski pihaknya berkoordinasi dengan lembaga untuk menyiapkan laptop. “Semua anak memiliki smartphone. Selain itu, mereka juga telah lihai menggunakannya,” ujar dia.
Editor : M. Yusuf Purwanto