BOJONEGORO - Produksi minyak bumi di Lapangan Banyu Urip, ternyata masih cukup lama. Diprediksi cadangan minyak berada di Kecamatan Gayam itu, akan habis pada 2035 mendatang. Atau masih 15 tahun mendatang.
“Berdasar perkiraan kami pada 2035 akan habis,” kata Vice President Public and Government Affairs ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) Erwin Maryoto kemarin (22/4).
Saat ini produksi migas di Lapangan Banyu Urip masih mencapai 210 ribu barel per hari. Produksi itu masih cukup besar. Bahkan, bisa memasok seperempat kebutuhan minyak nasional.
Erwin menjelaskan, saat ini pihaknya masih belum menentukan langkah terkait dengan masa habisnya migas. Sebab, masih cukup lama. “Jadi, belum dibahas saat ini,” ungkap Erwin.
Namun, lanjut Erwin, hal-hal yang akan dilakukan di antaranya adalah reklamasi lokasi proyek dan lainnya. Namun, pembahasan itu baru akan dilakukan menjelang habisnya pasokan minyak bumi.
Saat ini produksi minyak bumi di Lapangan Banyu Urip sedang tinggi-tingginya. Kondisi itu akan berlangsung selama beberapa tahun ke depan. Tentu, sangat berimbas dengan penerimaan dana bagi hasil (DBH) migas yang diterima oleh Pemkab Bojonegoro.
Selain di Lapangan Banyu Urip, akhir tahun ini Lapangan Kedungkeris di Kecamatan Kalitidu, ditargetkan akan mulai produksi. Lapangan itu diperkirakan bisa meghasilkan 10 ribu barel per hari. Saat ini proses yang dilakukan adalah pemasangan jaringan pipa.
“Kami targetkan akhir tahun ini sudah produksi,” jelasnya.
Erwin menjelaskan, Lapangan Kedungkeris itu nantinya akan menyumbang produksi minyak di Lapangan Banyu Urip. Sehingga, produksi minyak bumi di Bojonegoro menjadi cukup banyak.
Selain Banyu Urip yang dikelola oleh EMCL, Bojonegoro juga memiliki cadangan gas yang disebut Jambaran Tiung Biru (JTB). Lokasinya di Kecamatan Ngasem dan dioperatori Pertamina EP Cepu. Proses produksi JTB baru akan dimulai pada 2021 mendatang.
Saat ini tengah dilakukan proses rekrutmen tenaga kerja. Selain juga pembangunan fasilitas produksi.
Editor : M. Yusuf Purwanto