Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Orang Tua Resah Anak Kecanduan Game Online 

Bachtiar Febrianto • Jumat, 22 Februari 2019 | 00:53 WIB
Orang Tua Resah Anak Kecanduan Game Online 
Orang Tua Resah Anak Kecanduan Game Online 


BOJONEGORO - Beberapa orang tua yang ditemui oleh Jawa Pos Radar Bojonegoro sangat meyakini bahwa permainan tradisional masih relevan dimanfaatkan di masa sekarang. Meskipun gempuran game online sangat sulit ditepis. Namun, masalah yang sering dikeluhkan, tidak ada role model atau kegiatan yang bisa mewadahi keinginan para orang tua tersebut.


Wajah Yanti, 45, seorang ibu dari Desa Pacul, Kecamatan Kota, terlihat peluh. Dia mengungkapkan keresahannya terhadap anak-anaknya yang kecanduan game online. Kedua anaknya yang masih SMA dan SMP itu semuanya hobi main game. Dia tak berkutik untuk membatasi waktu bermain game anaknya tersebut. Karena memang tidak ada pelarian lain untuk bermain selain game online.


“Mau bagaimana lagi, zamannya sekarang serba teknologi, saya penginnya sih ada batasnya kalau main, tapi yang terpenting tidak boleh lupa salat,” katanya.


Dia merasa permainan tradisional harus dihidupkan kembali. Bagi dia, permainan tradisional sangat mampu membentuk karakter anak yang bisa bersosial dengan baik. Tetapi sayangnya, jarang sekali anak sekarang yang main permainan tradisional seperti sodor, kelereng, petak umpet, dan sebagainya. 


“Saya pun merasa anak cenderung individualis, karena apa-apa dipermudah dengan teknologi,” ujarnya.


Chusnul Abidin, 34, seorang bapak dua anak itu sangat merasakan dampak teknologi yang sangat berpengaruh pada tumbuh kembang anaknya. Anak pertamanya berusia 2,5 tahun, sedangkan anak keduanya masih usia 3 bulan. Sehingga, anak pertamanya sudah dikenalkan dengan smartphone. Ia bersama istrinya mengaku kerap menggunakan smartphone agar anaknya tidak rewel. Entah bermain game offline atau menonton YouTube.


“Jujur saja memang saya gunakan smartphone untuk menenangkan anak biar tidak rewel, tapi saya tahu efeknya kurang baik, sekarang berusaha menguranginya,” ujar pria asal Desa Kauman, Kecamatan Kota itu.


Alasan menguranginya, karena anak sulungnya itu sempat ada di momen tidak mau tidur kalau tidak menonton YouTube. Karena itu, sekarang disiasati untuk dibacakan dongeng sebelum tidur. Lalu, kalau anaknya pengin main smartphone selalu disembunyikan, akan dikeluarkan di waktu-waktu tertentu. Sehingga proses pengurangannya ia lakukan bersama istrinya secara bertahap.


“Proses mengurangi main smartphone bertahap, semoga bisa dididik pelan-pelan,” katanya.


Hal senada juga dikeluhkan oleh Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dinpora) Bojonegoro Dandi Suprayitno, bahwa kelatahan dalam kemajuan teknologi harus diantisipasi secara bersama-sama. Dia ingatkan untuk para orang tua agar tidak lupa dengan permainan tradisional. Pihaknya pun sedang menggodok pembentukan FORMI (Forum Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia), namun masih mencari personel.


“FORMI ini nantinya akan fokus menghidupkan permainan tradisional untuk rekreasi, sedangkan KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) untuk tujuan prestasi,” jelasnya.


Dia bertekad FORMI ini bisa segera dibentuk dan permainan tradisional harus eksis. Setiap tahunnya, dinpora akan menyelenggarakan permainan tradisional. Karena selain untuk menangkal maraknya game online, permainan tradisional juga salah satu cara melestarikan budaya Indonesia. Sebab, karakter bangsa juga bisa terbentuk dengan menggerakkan permainan tradisional.


“Permainan tradisional itu bisa membantu perkembangan sosial dan emosional anak-anak dan mengajarkan mereka keterampilan utama seperti komunikasi, kerja sama, dan negosiasi,” tegasnya.


Perlu usaha ekstra menjaga eksistensi permainan tradisional. Karena mungkin banyak dari anak muda menganggap permainan tradisional itu kuno dan kampungan. Padahal bisa dilakukan secara seimbang antara game online dan game tradisional. Tidak ketinggalan zaman, sekaligus tetap menjaga budaya dan karakter bangsa.


Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Bojonegoro Hanafi juga berkomentar bahwa kemajuan teknologi seperti sebilah pisau, bisa berefek negatif maupun positif. Jadi, peran guru dan orang tua harus semakin ekstra memberi pengertian yang tepat agar anak-anak tidak kecanduan game online. 


“Pembinaannya harus tepat dari guru dan orang tua, agar anak bisa terarah dengan baik di era kemajuan teknologi yang pesat,” ujarnya.


Salah satu desa yang membudayakan permainan tradisional, ialah Desa Mojodeso, Kecamatan Kapas. Di antaranya gobak sodor, egrang, dakon, lompat tali, petak umpet, benthik, dan masih banyak lagi. Kepala Desa Mojodeso Warsiman menjelaskan bahwa desanya memang sedang mengonsep kampung dolanan. Sehingga, warga atau pengunjung yang datang di Desa Mojodeso memiliki sensasi yang berbeda. 


“Sedih apabila melihat banyak anak kecil sekarang hanya sibuk bermain HP, kesannya terlalu individualis, berbeda ketika mereka main dolanan-dolanan lawas itu, pasti akan timbul rasa kerja sama dan gotong royong,” pungkasnya.

Editor : Bachtiar Febrianto
#bojonegoro #game online