BOJONEGORO - Aroma tembakau menyeruak di tempat industri rokok di Desa Cangaan, Kecamatan Kanor. Para perempuan yang tak lagi muda duduk menghadap sebuah alat pelinting rokok. Ratusan batang rokok setelah dilinting diletakkan di sampingnya. Dengan kaki selonjor, perempuan berjilbab itu dengan tekun ngelinting rokok.
Sesekali senyum mereka merekah. Canda tawa mereka membuat suasana ruangan itu riuh. Sesekali mereka berbicara dengan teman di dekatnya. Para perempuan itu hidup dari daun tembakau yang diolah menjadi rokok.
Kini, persaingan industri rokok di tanah air cukup ketat. Kondisinya membuat keretek di Bojonegoro jatuh bangun. Meskipun berjalan tertatih-tatih, tetapi hingga saat ini masih ada yang bertahan. Salah satunya Ahmad Abdul Hadi, pria sekitar 65 tahun itu tetap bertahan untuk menjalankan roda perusahaannya.
Dia saat ini didapuk menjadi pemegang tongkat estafet salah satu direksi industri warisan orang tuanya itu. Pabrik itu didirikan oleh orang tuanya. Yakni Muntahar. Kantornya di Kecamatan Sumberrejo. Sedangkan, tempat produksinya di Desa Cangaan, Kecamatan Kanor itu
“Itu dulu milik bapak, saya hanya melanjutkan,” tuturnya.
Sejak berdiri, rokok yang diproduksi hanya dua jenis, yaitu keretek dan kelobot. Rokok keretek, yakni rokok yang dibungkus kertas dan tidak ada busanya. Kemudian untuk rokok kelobot, bungkusnya menggunakan kulit jagung, yang telah diolah.
Mempertahankan industri rokok keretek dan kelobot khas Bojonegoro diakuinya cukup berat. Penyebabnya penikmat rokok jenis khusus itu berusia 40 tahun ke atas. Jumlah penikmatnya terus menurun. Karena penikmat fanatik rokok tersebut sudah mulai banyak yang tutup usia.
Saat ini, masih sekitar 100 karyawan yang bekerja setiap hari memproduksi rokok. Karena hanya memenuhi pemesanan saja. “Ya masih rezekinya saja,” tuturnya merendah ketika ditanya strategi untuk mempertahankan produksinya. (msu/aam)
Editor : M. Yusuf Purwanto