Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Budi Satria Maulana, Petani Gaul Ajak Bertani lewat Medsos

Bachtiar Febrianto • Selasa, 22 Mei 2018 | 11:15 WIB
Budi Satria Maulana, Petani Gaul Ajak Bertani lewat Medsos
Budi Satria Maulana, Petani Gaul Ajak Bertani lewat Medsos


BOJONEGORO - Budi tersenyum bangga setelah hasil panen padinya bisa menghasilkan lebih banyak. Hasilnya lebih banyak dibandingkan panen sebelumnya. Jika biasanya sawah dengan luas 2.000 meter tak sampai satu ton, di tangannya bisa panen 1,4 ton. 


Baginya, itu adalah prestasi yang luar biasa. Sebab, dia masih muda. Belum pernah bertani. Setelah belajar dan terjun ke sawah hasilnya memuaskan. Budi bangga menjadi seorang petani disaat semua teman-temannya bekerja di kantoran lengkap dengan dasi. Dia tetap dengan kaus oblong dan capil bergelut dengan sawah. 


Budi awalnya adalah mahasiswa jurusan akuntansi di Universitas Brawijaya. Dia hidup seperti mahasiswa pada umumnya. Kuliah dan kongko bersama teman-temannya. Niat ingin menjadi akuntan pun tak pernah tercapai. 


Dia pun tak menyelesaikan kuliah lantas memilih bertani. Awalnya, kata dia, neneknya yang tinggal di Desa Sendangrejo, Kecamatan Dander, sudah tua dan tak lagi mampu merawat sawah. Dia yang diminta untuk menemani neneknya karena dianggap cucu kesayangan. 


Budi pun akhirnya pulang ke Bojonegoro. Dia awalnya agak terpaksa karena harus meninggalkan kehidupannya sebagai seorang pemuda di Malang. Dia pulang dengan bekal yang tak begitu banyak. 


Ilmu pertanian hanya didapatkan dari kakaknya di Malang. Dari sana dia belajar tentang unsur tanah hingga hal-hal pertanian. "Sudah tiga tahun menjadi petani. Dan saya suka. Saat itu sekitar 2015 saya putuskan pulang ke Bojonegoro," ujarnya. Dia awalnya terpaksa terjun ke dunia pertanian. Tapi, karena yang ada di rumah neneknya adalah sawah. Mau tidak mau dia harus mengelolanya. 


Belajar pun dilakukan lagi. Bekal di Malang diterapkan sedikit-sedikit. Dia memutar otak untuk merawat padi. Awalnya tidak pernah terjun ke sawah dia pun terjun. Tidak pernah nyemprot. Dia nyemprot. Hingga melakukan pekerjaan tani yang umum dilakukan. 


Dia muda, tetapi tak pernah malu menjadi seorang petani. Meski, kadang banyak anak muda yang enggan kembali ke sawah. Dia pun "melawan" tradisi pertanian yang ada. Tidak melakukan pola-pola pertanian yang diterapkan oleh masyarakat pada umumnya. "Saya menggunakan metode yang berbeda. Dengan metode saya, pemupukan lebih irit. Saya juga melakukannya lebih molor pada umumya," kata dia. 


Budi mengungkapkan, biasanya para petani sudah memberi pupuk padinya saat padi berumur tujuh hari. Jika dia, memilih 14 hari baru pupuk. Selain itu, para petani juga akan mengakhiri memupuk pada 30 hari. Budi mengakhiri di atas 45 hari. Menurutnya, dengan metode ini akan lebih menghemat pupuk. 


Selain itu, tanah saat ini kondisinya berbeda dengan tanah zaman dulu. Saat ini tanah yang dipupuk kadang bisa ambles. Tanah di Dander, residu  sudah terlalu besar. Dengan metode yang dilakukan, dia bisa menginspirasi petani sekitarnya. Dia pun turut mengedukasi para petani. Bahkan, melakukan pendampingan dengan para petani di Bojonegoro dan Tuban.


"Saya sering mendampingi petani. Baik petani muda ataupun petani yang ingin maju," terang dia.  Pendampingan yang dilakukan metodenya mengajak petani yang bisa mengajak petani lain. Dia memberikan paparan di salah satu lahan. Dia menuturkan merawat sawah seperti manusia. 


"Misalkan tujuh hari sudah dipupuk. Kebanyakan mengkeret. Tujuh hari ibarat bayi disuruk masak. Kan ya kaget. Akhirnya padinya mengkeret. Makanya harus ditunda dulu mupuknya," terangnya. Dia terus menggalakkan petani muda di Bojonegoro. Termasuk sering melakukan kampanye bertani di media sosial. Dengan begitu bisa mengajak para pemuda untuk kembali ke sawah. 


"Siapa lagi kalau tidak generasi muda yang merawat sawah kita. Masak menunggu warga asing yang menjadi petani baru kita akan berbondong-bondong menjadi petani," pungkasnya.

Editor : Bachtiar Febrianto
#boks #bojonegoro