Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Perawat ini Awalnya Jualan Klontongan, Memiliki Hotel Hingga Apotek

Bachtiar Febrianto • Kamis, 8 Maret 2018 | 20:29 WIB
Perawat ini Awalnya Jualan Klontongan, Memiliki Hotel Hingga Apotek
Perawat ini Awalnya Jualan Klontongan, Memiliki Hotel Hingga Apotek

FEATURES - Menjadi seorang pengusaha sudah menjadi jiwanya. Bahkan, dia harus memutuskan untuk pensiun dini dari pegawai negeri sipil untuk fokus mengelola bisnisnya. Burhanuddin telah melakukan hal itu. 


Ruang praktik Burhan tak begitu ramai. Dua orang sedang mengantre untuk menunggu giliran masuk. Setelah satu orang keluar dari ruang pemeriksaan, satu orang masuk menggantikan.


Seorang perempuan muda berjilbab yang wajahnya terlihat lelah, mengatur para pasien itu masuk ke ruang Burhan. Lokasi praktik Burhan ada di Jalan Raya Bojonegoro-Padangan di Kecamatan Kalitidu.


Burhan menurunkan masker yang dia gunakan. Mencopot stetoskop dari telinganya. Lantas meletakkannya di meja. Dia duduk di balik meja dan memulai bercerita tentang awalnya membangun bisnis yang kini terus berkembang.


“Saya itu hidup dari orang tua pedagang,” katanya memulai cerita. 


Burhan lahir di Nganjuk. Sejak kecil dia telah melihat orang tuanya menjadi penjual klontongan di daerahnya itu. Aktivitas berdagang itu benar-benar melekat pada benaknya.


Meski, orang tuanya mendorong anak-anaknya menjadi seorang pegawai negeri sipil (PNS). Itu semua terbukti. Semua saudaranya menjadi PNS termasuk dirinya. 


Hanya, kata dia, jika bisnis tak lepas dari diri keluarganya. Meski menjadi PNS, setidaknya ada usaha kecil-kecilan yang dikelola. Pria yang sudah 56 tahun itu mengaku, dirinya menjadi PNS di lingkungan dinas kesehatan. Pernah bertugas di Puskesmas Kalitidu yang akhirnya memutuskan untuk pensiun dini. 


Burhan memulai membuka bisnisnya dengan membuka toko kelontong. Sebuah konsep bisnis yang sederhana. Yakni, dengan menyediakan kebutuhan pokok untuk masyarakat.


Bisnisnya pun mulai berkembang, apalagi rumah dan tokonya berdekatan dengan jalan raya dan tak jauh dari pasar. 


Kemudian, dia berlanjut untuk membuka showroom kendaraan bermotor, hingga berlanjut mendirikan laboratorium dan apotek. Bahkan, kini dia telah memiliki usaha bidang penginapan, yakni perhotelan. 


Dia mengaku, untuk bisnis hotel yang lokasinya berada di seberang tempat praktiknya itu awalnya tidak untuk kepentingan bisnis. Sebab, dia membangun joglo itu untuk persiapan hari tua dan tempat berkumpul keluarga. 


Joglo dia dapatkan dari orang tuanya. Artinya, rumah joglo milik orang tua itu dipindah dan didesain sedemikian rupa agar bisa terlihat elegan.


Ternyata, dengan jumlah kamar yang lumayan banyak saat itu. Ditambah adanya industri migas yang masuk ke Bojonegoro, membuat dirinya harus membuat keputusan penting untuk mengubah lokasi itu menjadi tempat penginapan. 


“Karena dulu pesannya jangan sampai orang lokal menjadi penonton saja,” ucapnya dengan senyum merekah. 


Dia lantas mulai bersentuhan dengan manajemen perhotelan. Mengemas pelayanan hingga desain eksterior dan interior ruangan. Di bagian depan dia mendesain hotel dengan konsep jawa kudusan.


Sedangkan, lainnya ada konsep romawian. Yakni, tentang batu batanya. Cara ini pun memikat. Hotelnya terlihat klasik. Suasana tradisional pun begitu kentara. 


“Sampai ke beberapa desa untuk membeli rumah tradisional,” tutur dia. 


Rumah tradisional itu di dapatnya dari daerah Ngasem dan sekitar Kalitidu. Rumah itu, memang mayoritas kayu, namun kualitasnya bagus. Dengan begitu, rumah utuh dipindah yang kemudian dimodifikasi.


“Ada tujuh joglo,” tutur dia menerangkan jumlah bangunan di hotel miliknya. 


Burhan melanjutkan, bisnis yang dia kelola berbekal ketekunan. Sebab, bisnis tanpa ketekunan sama saja dengan menjalani hidup tanpa pegangan.


Tekun menjadi kunci bisnis, karena memang menjalani bisnis itu pasti ada pasang surut. Tak setiap saat ada pelanggan yang berbelanja. 


Tanpa sebuah ketekunan, maka orang akan mudah menyerah dalam menjalani bisnisnya. “Kalau saya, kunci bisnis itu tekun,” tandasnya. 


Sebagai seorang perawat dia tak meninggalkan profesinya. Meski pensiun dari PNS dan bisnisnya berjalan, dia tetap membuka praktik.

Editor : Bachtiar Febrianto