Kakek, ayah, paman, dan dua kakak M Guntur Triaji dikenal sebagai pemanah yang disegani di Lampung. Namun, dia tidak mau mengikuti jejak keluarga besarnya. Guntur mantap memilih sepak bola sebagai jalan hidupnya.
----------------------------------
INDRA GUNAWAN, Lamongan
----------------------------------
SIANG kemarin (9/1), M. Guntur Triaji dan pemain lainnya melakukan meeting bersama head coach Persela Lamongan, Aji Santoso.
Itu dilakukan sebagai persiapan menghadapi laga kedua Suramadu Super Cup (SSC) meladeni tuan rumah Madura United kemarin sore di Bangkalan, Madura.
Setelah makan siang, Guntur baru membalas pesan WhatsApp wartawan koran ini.
Guntur terlahir dari keluarga yang memiliki background atlet panahan.
Kakeknya, Subroto, menurunkan bakat tersebut pada pamannya dan ayah kandungnya Puryanto, 62, yang pernah menyabet medali di beberapa kejurnas.
‘’Karena keluarga panahan, jadi dulu saat masih kecil sempat menekuni panahan dan bola sekaligus,’’ tutur Guntur kepada Jawa Pos Radar Lamongan.
Selain itu, ayahnya juga pernah menjadi pelatih yang membawa atlet panahan Indonesia meraih medali emas pada SEA Games Malaysia 2001 dan SEA Games 2011.
Dua kakak Guntur juga mengeluti dunia olahraga membidik target lingkaran tersebut. Kakak sulungnya Fajar Bayu, 31, kini menjadi pelatih panahan di Lampung.
‘’Taufan Bisma, kakak kedua saya, kini masih aktif menjadi atlet panahan di Lampung,’’ tutur pemain kelahiran Desa Candimas, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung tersebut.
Guntur sebenarnya disiapkan ayahnya menjadi atlet panahan. Saat dia masih SD, porsi latihan panahan lebih banyak ketimbang bermain sepak bola.
Apalagi, di sebelah rumahnya terdapat lapangan panahan. Sehingga, berlatih panahan menjadi menu latihan setiap harinya saat itu.
Dorongan ayahnya itu membuat Guntur pernah menyabet prestasi di bidang panahan.
Dia mengingat pernah menyabet medali perunggu pada kejuaraan nasional (kejurnas) junior di Jatim pada 2005.
Saat itu, Guntur masih duduk di kelas VI SD. ‘’Sempat dapat medali di kejuaraan panahan,’’ kenangnya.
Namun, prestasi itu tak cukup meneguhkan hatinya untuk menggeluti panahan.
Setelah ujian nasional (unas) SMP, Guntur harus memilih salah satu demi masa depannya. Pilihannya mantap bermain sepak bola.
Lulus SMP, dia mengikuti seleksi Diklat Ragunan Jakarta. Karena dinyatakan lolos seleksi, Guntur harus pindah ke Jakarta.
‘’Saat itulah menjadi awal bagi saya menuju sepak bola profesional,’’ imbuhnya.
Saat pertama masuk Diklat Ragunan, Guntur berposisi di bek kiri. Setahun berikutnya, dia dialihkan beroperasi di sektor tengah lapangan.
Paska lulus dari Diklat Ragunan, Guntur memilih berlabuh ke Persiraja Aceh pada 2012. Hanya satu musim dia bertahan di klub tersebut.
Guntur lalu mengadu peruntungan di Persija selama dua tahun, 2013 – 2014.
Setelah itu, dia berpindah ke klub PSMS Medan dan ikut berkontribusi membawa timnya juara Piala Kemerdekaan.
‘’Saat itu baru saya diinstruksikan main di winger. Setelah Piala Soedirman hingga kompetisi tahun lalu, saya bermain untuk PS TNI,’’ tuturnya.
Pemain kelahiran 30 Juli 1993 itu menunjukkan aksi mengesankan saat Persela menahan imbang Kedah FA Senin (8/1).
Bukan hanya karena golnya mampu menjadi penyeimbang kedudukan di papan skor.
Namun, proses golnya lewat aksi individualnya yang mampu melewati beberapa pemain belakang Kedah FA mendapat pujian sebagian pendukung Persela.
‘’Kalau gol dari individual melewati beberapa pemain baru kali ini, sebelumnya pernah tapi shooting dari luar kotak penalti,’’ tutur putra bungsu dari tiga bersaudara tersebut.
‘’Ya berkat dukungan semuanya lah Mas. Kalau kita gak ada dukungan dari rekan-rekan kan gak bisa dapat gol kayak gitu,’’ ujar pemain yang terkadang melakukan tendangan jarak jauh untuk berusaha menciptakan gol.
Guntur memilih Persela karena sudah tak dibutuhkan PS TNI lagi. Pemain yang merupakan anggota TNI itu mendapatkan rekom keluar dari klub lamanya.
Guntur disodori manajemen Persela kontrak selama dua tahun. Namun, dia memilih mengambil kontrak setahun.
Coach Aji yang menjadi pertimbangan utamanya bergabung dengan Persela.
‘’Setelah ditawari oleh coach Aji, saya meminta waktu berpikir.
Tapi kini saya mantap bergabung dengan Persela,’’ ujar Guntur.
Editor : Bachtiar Febrianto