SEBAGAI paramedis, Novia Lisnawati, 27, harus terbiasa bergerak cepat. Terlebih, posisinya sekarang sebagai perawat Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RSNU) Tuban. Dengan cepat tanggap, kata dia, nyawa seseorang berpeluang besar terselamatkan.
Selain itu, juga dibutuhkan fokus yang tinggi, cekatan, dan telaten. Sebab, IGD adalah pintu utama pasien dengan tingkat risiko tinggi untuk segera ditangani.
Perempuan yang akrab disapa Novia ini bergabung di IGD sejak lima tahun terakhir. Ketika direkrut rumah sakit di Jalan Letda Soetjipto tersebut, dia langsung ditempatkan di IGD. Selama di unit ini, dia banyak berjumpa dengan pasien-pasien luka berat yang perlu penanganan cepat. ‘’Terbanyak memang menangani korban kecelakaan, yang butuh dijahit dan ditangani luka terbukanya,’’ ujarnya.
Ibu satu anak itu mengatakan, penanganan pasien kecelakaan tidaklah mudah. Ada beberapa langkah yang wajib dilakukan agar tidak salah fatal. Langkah awal tersebut adalah memetakan luka. Hal ini penting untuk menghentikan pendarahan. Jahit luka jika perlu dilakukan untuk menghentikan pendarahan. ‘’Dalam proses medis dinamakan heacting atau penjahitan luka untuk menghentikan pendarahan,’’ tutur dia.
Jika tidak ada pendarahan, upaya yang dilakukan adalah rontgen pada luka lebam. Setelah diketahui ada patah atau retak tulang, baru dilakukan penanganan medis. ‘’Semua harus sesuai prosedur, tidak boleh asal atau seenaknya sendiri,’’ ujar perawat jebolan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nahdlatul Ulama (Stikes NU) Tuban itu.(yud/ds)
Tak Boleh Asal
Editor : Bachtiar Febrianto