Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Awas! Penyebaran HIV/AIDS Merata

Bachtiar Febrianto • Selasa, 12 September 2017 | 14:10 WIB
awas-penyebaran-hivaids-merata
awas-penyebaran-hivaids-merata


KOTA – Kasus HIV/AIDS di Bojonegoro semakin mengkhawatirkan. Sebab, penyebaran penyakit mematikan tersebut hampir menyeluruh di kecamatan.


Dari 28 kecamatan, ditemukan kasus baru di 22 kecamatan. Tiga kecamatan termasuk paling tinggi. Yakni, Sumberrejo, Bojonegoro, dan Ngasem.


Masing-masing ditemukan enam penderita baru. Berdasarkan data dari Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPA) Bojonegoro selama Januari-Mei 2017. Sebab, data tiga bulan terakhir belum masuk.


Sekretaris KPA Bojonegoro Johny Noor Hariayanto mengatakan, setiap tahun jumlah temuan di setiap kecamatan bersifat fluktuatif.


Sebab, masih banyak yang belum teridentifikasi karena mereka tidak berani periksa ke rumah sakit.


Meski demikian, kata dia, penyebab tertingginya angka banyak orang dengan HIV/AIDS (ODHA) karena tidak sedikit laki-laki atau suami merantau ke luar daerah dan hobi ‘jajan’ di lokalisasi.


”Hobi jajan di luar kota itulah yang acap kali membuat virus HIV/AIDS tersebut tertular kepada istrinya di rumah,” jelasnya.


Sebab, imbuh dia, sebagian besar ODHA adalah ibu rumah tangga, sisanya perempuan yang memiliki masa lalu kelam, seperti pernah menjadi pekerja seks komersial (PSK).


”Rata-rata penderita HIV/AIDS berusia 30 hingga 34 tahun,” ucap pria yang juga menjabat kepala Sekretariat KPA Bojonegoro tersebut.


Saat ditemukan oleh petugas kesehatan, kebanyakan penderita sudah terinfeksi AIDS. Padahal, jangka HIV ke AIDS ini cukup lama. Antara 5 hingga 10 tahun.


Itu menandakan, lanjut dia, masyarakat Bojonegoro acuh terhadap penyebaran virus mematikan itu. Padahal, jika diketahui lebih awal lebih baik. 


Apalagi, kasus HIV/AIDS seperti gunung es. Artinya, hampir setiap tahun jumlahnya meningkat. Tercatat, 2012 ditemukan 85 orang terinfeksi virus HIV/AIDS.


Lalu 2013, tercatat ada 126 orang terinfeksi virus mematikan tersebut. Pada 2014, tercatat ada 132 orang. Sementara, 2015 tercatat ada 186 orang.


Sedangkan, di tahun 2016 tercatat ada 166 orang terinfeksi virus mematikan itu. ”Kalau data tahun ini (sampai Mei) ada 57 orang terinfeksi HIV/AIDS,’’ ungkapnya.


Peningkatan jumlah temuan penderita HIV/AIDS merupakan keberhasilan dalam mengungkap kasus. Sebab, rata-rata mayoritas masyarakat Bojonegoro takut dan enggan mengikuti tes.


”Jika penyebaran virus mematikan itu dapat diketahui lebih awal, itu akan lebih baik. Karena, dapat sesegera mungkin diatasi,” kata Joni.


Berbagai upaya sudah dilakukan. Seperti  penyuluhan atau sosialisasi HIV/AIDS ke petugas pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK) dan tokoh agama di seluruh wilayah Bojonegoro.


Selain itu, memberikan penyuluhan ke siswa, mahasiswa, dan lain-lain. Upaya pendampingan dan konseling penderita HIV AIDS di rumah dan di rumah sakit juga dilakukan.


”Tentunya, mencegah lebih baik dari pada mengobati,” imbuhnya. Sementara itu, Ketua Komisi C DPRD Bojonegoro Sally Atyasasmi mengungkapkan, kasus HIV/AIDS memang urgensi tersendiri bagi Bojonegoro.


Sebab, penyebaran virusnya harus segera diantisipasi dengan adanya edukasi untuk menumbuhkan kesadaran seluruh masyarakat Bojonegoro. ”Kami masih menunggu paripurna pengesahan raperda penanggulangan HIV/AIDS dan TB,” ujarnya.


Perda tersebut nantinya akan mengatur mekanisme pencegahan melalui promosi, edukasi, sampai pada pengobatan, dan rehabilitasi serta mitigasi dampak virus HIV/Aids.


”Adapun klausul yang mengatur peran masyarakat dalam upaya penanggulangan virus tersebut, serta harapannya ODHA tidak mendapatkan diskriminasi dan stigma dari masyarakat serta mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik,” pungkasnya. 


Editor : Bachtiar Febrianto