BOJONEGORO – Produksi bata merah berbahan tanah liat dari bibir Bengawan Solo bergantung pada cuaca. Kemarau ini, produksi bata meningkat di bandingkan produksi bata pada musim hujan.
Ramijan, salah satu penjual bata merah asal Desa Ngablak, Kecamatan Dander mengatakan, produksi bata merah saat musim kemarau labih gampang. Cepat kering dan produksi lebih banyak. Musim ini, ia mengaku memproduksi bata merah hingga 5.000 bata per hari.
“Kalau musim kemarau seperti ini, setiap hari produksi. Bahan bakunya juga mudah di cari,” katanya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin (21/8).
Sedangkan, lanjut dia, musim hujan merupakan musim yang sulit untuk memproduksi bata. Pasalnya, saat musim hujan, bahan baku sulit dicari karena air bengawan pasang atau banjir. Sehingga, dalam seminggu hanya dua kali produksi. Memproduksi 3000 bata per hari.
“Harga jualnya pun berbeda,” ucapnya.
Dia menambahkan, harga jual bata yang di produksi di musim penghujan cenderung lebih mahal. Pasalnya, bahan baku sulit dan proses pembuatan memakan waktu cukup lama dibandingkan musim kemaru. Musim hujan, harga bata mencapai Rp 500.000 per seribu bata.
“Sedangkan, musim kemarau ini, harga bata Rp 400.000 hingga Rp 450.000 per seribu bata,”
Musim kemarau, lelaki berumur 55 tahun itu mampu menjual bata hasil produksinya hingga 15.000 bata per hari. Sedangkan di musim hujan, ia hanya mampu menjual 3.000 bata per hari. Kebanyakan pembeli bata dari warga setempat. Namun, juga ada dari Kecamatan Balen dan Kecamatan Sukosewu.
Kualitas bata musim kemarau, kata dia, kualitasnya lebih bagus dibandingkan kualitas bata musim hujan. Sebab, pengeringan bata saat musim hujan kurang maksimal. Sedangkan, musim ini, pengeringan lebih maksimal.
“Bata musim kemarau lebih halus, tidak mudah keropos dan patah. Namun, bata di musim hujan mudah keropos dan mudah patah,” ujarnya menjelaskan.
Fitria, pengusaha bata di desa setempat lainnya mengatakan, pembali dari bata di musim kemarau lebih banyak. Pasalnya, harga bata lebih murah musim ini. Dibandingkan harga bata di musim hujan. “Kalau musim kemarau mampu menjual bata hingga 10.000 bata. Rata-rata pembelibnya orang rumahan,” ujarnya.
Saat ini, tidak ada kendala yang signifikan dalam produksi bata. Harga bata miliknya sama dengan harga bata di tempat lain. Yakni, Rp 400.000 per seribu bata di musim kemarau. Sedangkan, di musim hujan hujan mencapai Rp 500.000 per seribu bata. Ukuran bata merah diperkirakan panjang 24 sentimeter (cm), lebar 11 cm, dan tebal 4 cm.
“Memang ya, produksi bata itu bergantung pada cuaca,” pungkasnya.
Editor : Bachtiar Febrianto