RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pertamina akhirnya menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax setelah tiga bulan bertahan di Rp 12.300 per liter sejak 1 Maret. Naik cukup signifikan, mencapai Rp 3.950 sehingga Rp 16.250 per liter.
Tak sedikit masyarakat mengeluh dan membuka opsi ganti jenis BBM hingga kurangi intensitas penggunaan kendaraan bermotor. Citra Anita warga Kecamatan Dander salah satunya. Ia mengeluh harga BBM nonsubsidi kian melejit. "Padahal, aktivitas antar-jemput anak lumayan jauh juga," keluh Citra, sapaannya kemarin (10/6).
Dia mengatakan, kenaikan BBM jenis Pertamax per kemarin itu sangat terasa dampaknya, yang biasanya Rp 40 ribu untuk seminggu kini tak lagi cukup. "Ini kerasa banget, lumayan naiknya. Tergoda beralih ke Pertalite tapi nanti jelas antre panjang. Sementara sepertinya mengurangi bepergian ini," ujar Citra.
Baca Juga: Bukan Hanya Pertamax yang Naik Jadi Rp16.250 per Liter, BBM Ini Juga Ikut Melonjak
Sementara itu, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun mengatakan, penyesuaian harga BBM nonsubsidi mengikuti regulasi berlaku dan bagian implementasi tata kelola energi. Bertujuan menjaga keseimbangan antara keberlangsungan bisnis, kualitas layanan, dan kepastian pasokan energi bagi masyarakat.
"Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga ditetapkan pemerintah. Harga jual tersebut diputuskan dengan tetap dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator, dan menjadi bagian upaya menjaga keberlanjutan penyediaan energi dan distribusi BBM berkualitas bagi masyarakat terus berjalan optimal," katanya.
Dia memastikan, untuk harga BBM subsidi tidak mengalami perubahan. Sedangkan, BBM nonsubsidi jenis Pertamax dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter; Pertamax Green dari Rp 12.900 jadi Rp 17.000 per liter; Pertamax Turbo tetap sejak naik 1 Juni lalu, yakni Rp 20.750 per liter. (yna/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana