RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Dari rumah sederhana di Desa Sambiroto, Kecamatan Kapas, geliat pemberdayaan perempuan perlahan tumbuh lewat goresan malam.
Di tempat inilah Tatik, pelopor Batik Sambiloto, memulai perjalanan panjang yang kini menjelma menjadi kelompok usaha produktif, sekaligus binaan corporate social responsibility (CSR) Pertamina EP Sukowati.
Perjalanannya bermula pada 2014. Saat itu ia sering melintasi tempat pembuatan batik. Aktivitas yang tampak menyenangkan membuatnya tertarik.
Kemudian, rajin mengikuti berbagai pelatihan yang diadakan dinas perindustrian dan ketenagakerjaan setempat.
Dari ketertarikan itu, ia mulai memproduksi batik sendiri, menitipkannya kepada kenalannya, dan perlahan mengembangkan keterampilannya.
Sambil berjualan alat tulis, perempuan yang juga berprofesi sebagai guru taman kanak-kanak (TK) itu juga menjual batik hasil tangan sendiri.
Awalnya, kain batik ia peroleh dari teman dan dikerjakan secara rumahan sebelum kemudian mampu memproduksi karyanya sendiri.
Batik-batik itu ia tawarkan ke berbagai kantor hingga akhirnya modal usaha terkumpul dari hasil penjualan.
Perubahan signifikan terjadi pada 2021, kelompok batik ini mulai didampingi oleh Pertamina EP Sukowati.
“Sejak tahun 2021,” ujar Bu Tatik, menggambarkan momen ketika pendampingan resmi dimulai. Dari sinilah upaya pemberdayaan semakin terstruktur dan berdampak luas.
Kini, kelompok beranggotakan sekitar 20 perempuan itu telah mengantongi hak cipta 12 motif khas. Usulan dari pihak Pertamina mendorong kelompok ini lahir sebagai bagian dari pengembangan kerajinan batik khas Sambiroto.
Baca Juga: Pertamina Patra Niaga: Kuota Solar Tambahan Tunggu Keputusan Pusat
Pendampingan tersebut bukan hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga memperluas jangkauan pemasaran.
Melalui media sosial, pesan instan, hingga promosi ke kantor dan sekolah, Batik Sambiloto mulai dikenal lebih luas.
“(Pemasaran) kita lewat IG (Instagrami), WhatsApp, terus ada apa itu ke kantor-kantor, ke sekolah-sekolah, dipromosikan di situ,” tutur Bu Tatik.
Tak hanya itu, salah satu karya Batik Sambiloto bahkan pernah dibawa dalam kegiatan Pertamina di luar negeri. “Sempat dibawa oleh Pertamina ke Aljazair,” katanya.
Dukungan ini membuat batik khas Desa Sambiroto melangkah hingga ke panggung internasional.
Dalam sebulan, produksi batik mereka bisa mencapai lebih dari seratus potong, tergantung pesanan. Animo ini terbangun beriringan dengan semakin dikenalnya motif Sambiloto, yang namanya terinspirasi dari tanaman obat pahit yang dulu tumbuh melimpah di pinggir jalan desa.
Di masa depan, Tatik menyimpan harapan besar untuk kelompoknya. “Ya harapan ke depan kita bisa menguasai itu, pasar yang lebih bagus lagi, jadi produknya bisa dikenal ke masyarakat yang lebih luas,” ujarnya. (kam/bgs)
Editor : Bhagas Dani Purwoko