RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Tidak sedikit orang tua yang mulai bertanya dalam hati ketika anaknya hidup mandiri atau merantau: mengapa sekarang jarang bercerita? Bukan sekadar soal frekuensi menelepon, melainkan isi percakapan yang terasa makin singkat dan aman.
Pertanyaan tentang pekerjaan, kondisi mental, atau masalah hidup sering dijawab seperlunya, tanpa ruang cerita yang benar-benar terbuka.
Fenomena ini kerap memunculkan kekhawatiran emosional. Sebagian orang tua mengaitkannya dengan perubahan sikap, jarak batin, bahkan rasa tidak dipercaya.
Padahal, psikologi melihat kebiasaan jarang curhat kepada orang tua pada usia dewasa sebagai pola yang jauh lebih kompleks daripada sekadar kedekatan atau tidaknya hubungan keluarga.
Dalam banyak kasus, orang dewasa yang tidak terbiasa menceritakan beban hidupnya kepada orang tua justru bukan karena relasi yang buruk.
Psikologi perkembangan dan relasi keluarga menunjukkan bahwa perilaku ini sering berkaitan dengan kemandirian emosional, empati terhadap kondisi orang tua, serta cara seseorang belajar memproses tekanan hidup secara mandiri.
Artinya, diam tidak selalu berarti menjauh. Jarang bercerita tidak otomatis menandakan renggangnya hubungan keluarga. Ada pola kepribadian dan mekanisme psikologis tertentu yang membuat seseorang memilih menyimpan cerita, bahkan kepada orang yang paling dekat sekalipun.
Lalu, pola psikologis seperti apa yang biasanya dimiliki orang dewasa yang jarang mencurahkan isi hatinya kepada orang tua?
1. Terbiasa Menjadi Sosok yang Mandiri Secara Emosional
Banyak orang dewasa yang jarang curhat tumbuh dengan kebiasaan mengelola masalah sendiri.
Sejak dini, mereka belajar menenangkan diri, mencari solusi, dan bertanggung jawab atas emosi tanpa banyak bergantung pada orang lain.
Dalam psikologi, pola ini dikenal sebagai self-reliant coping style, yakni kecenderungan menghadapi stres dengan mengandalkan kapasitas internal. Pola ini tidak selalu negatif, tetapi dapat membuat seseorang merasa lebih nyaman menyimpan cerita daripada membaginya.
2. Tidak Ingin Membebani Pikiran Orang Tua
Alasan yang sering luput disadari adalah empati terhadap kondisi orang tua. Ada kekhawatiran bahwa cerita tentang kegagalan, tekanan kerja, atau masalah pribadi justru akan menambah beban emosional mereka.
Psikologi keluarga menyebut pola ini sebagai protective silence, yaitu kecenderungan menahan cerita demi menjaga ketenangan orang lain. Diam menjadi bentuk kepedulian, bukan jarak.
3. Sedang Menjalani Proses Pendewasaan Psikologis
Memasuki fase dewasa, banyak individu merasa perlu membangun identitas yang mandiri, termasuk dalam mengelola emosi. Curhat kepada orang tua terkadang dipersepsikan, secara tidak sadar, sebagai bentuk ketergantungan yang ingin mereka kurangi.
Dalam teori individuation, menjaga jarak emosional tertentu adalah bagian dari proses menjadi pribadi dewasa yang otonom secara psikologis.
4. Pengalaman Komunikasi yang Tidak Selalu Nyaman
Sebagian orang berhenti bercerita karena pengalaman masa lalu: respons yang terlalu menggurui, membandingkan dengan orang lain, atau solusi yang datang terlalu cepat.
Psikologi komunikasi menyebut ini sebagai emotional mismatch, ketika kebutuhan untuk didengar tidak sepenuhnya terpenuhi. Akibatnya, individu belajar bahwa diam terasa lebih aman.
5. Lebih Nyaman Memproses Emosi Secara Internal
Ada tipe kepribadian yang reflektif dan introspektif. Mereka lebih terbiasa merenung, menulis, atau berpikir panjang sebelum memahami emosinya sendiri.
Dalam psikologi kepribadian, ini berkaitan dengan introverted emotional processing, di mana seseorang merasa lebih terkoneksi dengan diri sendiri saat tidak harus segera berbagi cerita.
6. Kedekatan Tidak Selalu Diekspresikan Lewat Cerita
Psikologi relasi menekankan bahwa kedekatan tidak selalu diukur dari seberapa banyak cerita yang dibagikan. Ada orang yang mengekspresikan kasih sayang melalui tindakan: memastikan orang tua aman, membantu secara praktis, atau hadir saat dibutuhkan.
Dalam konteks ini, jarang curhat bukan tanda renggang, melainkan perbedaan cara menjalin kedekatan.
7. Diam Menjadi Masalah Jika Berubah Menjadi Isolasi
Psikologi tidak menganggap jarang curhat sebagai masalah selama individu tetap memiliki saluran emosi yang sehat—baik melalui pasangan, sahabat, maupun refleksi diri yang adaptif.
Yang perlu diwaspadai adalah ketika diam berubah menjadi penarikan diri total dan menutup semua akses dukungan emosional.
Baca Juga: Orang yang Konsisten pada Hal Kecil Biasanya Memiliki Integritas Tinggi, Begini Pandangan Psikologi
Orang dewasa yang jarang curhat kepada orang tua bukan berarti tidak peduli, apalagi durhaka. Dalam banyak kasus, pola ini justru tumbuh dari kemandirian emosional, empati, dan cara seseorang memaknai tanggung jawab atas hidupnya sendiri.
Memahami hal ini dapat membantu keluarga melihat diam bukan sebagai jarak, melainkan sebagai bahasa emosional yang berbeda dan sama-sama layak dihargai. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari