RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Belakangan ini, sebuah tren prank viral di TikTok berhasil mengungkap kecemasan tersembunyi generasi Z terhadap media sosial Instagram.
Prank-nya sederhana yaitu seseorang berkata pada temannya, "Eh, lo serius ngepost kayak gitu di Instagram?" padahal korban tidak memposting apa-apa.
Seketika, reaksi orang yang di-prank panik, kaget, bahkan langsung memeriksa ponselnya dengan wajah cemas.
Lucunya, semua tahu ini hanya lelucon, tapi kepanikan itu terasa sangat nyata. Mengapa demikian? Karena bagi banyak anak muda, terutama generasi Z, Instagram bukan sekadar tempat berbagi foto, melainkan ruang yang paling “suci” dan dijaga dengan hati-hati.
Baca Juga: Justin Hubner Minta Maaf Usai Unggahan Emosional di Instagram Story
Instagram kini sudah berubah dari platform berbagi momen menjadi semacam cermin identitas digital.
Setiap unggahan terasa seperti representasi diri yang harus sempurna mulai dari tone warna, caption, hingga ekspresi di foto.
Tidak sedikit yang bahkan memerlukan waktu lama hanya untuk memutuskan foto mana yang layak diunggah.
Hal ini berbeda dengan media sosial TikTok, di mana pengguna cenderung lebih spontan dan apa adanya.
Di sana, seseorang bisa berbagi video lucu atau keseharian tanpa takut terlihat tidak sempurna.
Sedangkan di Instagram, kesan yang dibangun sering kali harus “terkonsep” seolah setiap postingan adalah potongan citra diri yang ingin disampaikan kepada dunia.
Baca Juga: Tren Viral Video Reels Geprek di Instagram: Cara Mudah Buat Rasio Video Memanjang
Bagi generasi Z, menjaga tampilan di Instagram bukan semata soal estetika, tetapi juga soal kontrol terhadap persepsi orang lain.
Media sosial ini menjadi semacam “portofolio sosial” yang dapat dilihat oleh siapa saja baik teman, rekan kerja, bahkan calon atasan.
Akibatnya, banyak yang merasa perlu berhati-hati agar tidak salah langkah dalam membangun citra.
Tak heran, ketika ada gurauan bahwa seseorang mem-posting hal “tidak pantas” di Instagram, rasa panik yang muncul terasa begitu wajar.
Di balik layar ponsel, ada kekhawatiran akan penilaian, komentar, atau sekadar pandangan miring dari orang lain.
Baca Juga: Fenomena First dan Second Account: Mengapa Banyak Gen Z Punya Dua Akun Instagram?
Namun, fenomena ini juga menunjukkan bagaimana tekanan sosial di dunia digital semakin nyata.
Media sosial yang awalnya diciptakan untuk berbagi kini menjadi ruang penuh pertimbangan dan perhitungan.
Generasi Z, yang tumbuh bersama internet, memahami bahwa jejak digital bersifat abadi. Setiap postingan bisa saja menjadi bahan penilaian di masa depan.
Karenanya, menjaga Instagram bukan sekadar soal ingin tampil sempurna, tetapi juga bentuk kesadaran akan dampak jangka panjang dari setiap unggahan.
Mungkin memang tidak berlebihan jika Instagram disebut sebagai media sosial yang paling dijaga oleh generasi Z.
Baca Juga: Instagram Terapkan Syarat 1.000 Followers untuk Fitur Live, Netizen Ramai Beri Tanggapan
Di balik tampilan feed yang rapi dan stories yang tampak sempurna, ada banyak pertimbangan yang tak terlihat, tentang apa yang pantas dibagikan, bagaimana orang lain akan menilai, dan citra seperti apa yang ingin ditunjukkan.
Tren “prank posting di Instagram” hanyalah potongan kecil dari keresahan yang lebih besar yakni ketakutan untuk terlihat salah di mata publik yang serba terbuka.
Generasi Z hidup di zaman ketika kebebasan berekspresi dan kehati-hatian berjalan berdampingan.
Di satu sisi, mereka ingin jujur menampilkan diri apa adanya, di sisi lain ada dorongan kuat untuk tetap terlihat baik di mata dunia.
Baca Juga: Alca Octaviani, Istri Bintang Emon Umumkan Kehamilan Pertama Lewat Momen Romantis di Instagram
Mungkin di situlah letak tantangannya, mereka perlu belajar menampilkan diri tanpa kehilangan kendali dan mengekspresikan tanpa harus sempurna.
Karena di balik setiap unggahan yang tampak ringan, ada proses panjang mencari keseimbangan antara keaslian dan citra. (jes/bgs)
Editor : Bhagas Dani Purwoko