RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Di beberapa pojok pusat kota, termasuk di Bojonegoro dan Blora, mungkin anda dapat menemukan satu atau dua penjual cakwe. Jajanan gorengan ini murah untuk ditebus dengan jumlah banyak, dan dapat menjadi pengganjal perut selagi jalan-jalan keliling kota, atau dicemil di rumah sambil bersantai di sore dan malam hari.
Ternyata sama seperti beberapa makanan lain seperti nasi goreng, cakwe merupakan salah satu hasil persebaran kultur dan kuliner Tiongkok di masa lampau. Sehingga cakwe juga dapat ditemui di negara-negara tetangga Indonesia, misal Thailand, Kamboja dan Vietnam.
Di Tiongkok, cakwe dikenal dengan nama youtiao (油条). Alkisah sebagaimana dikutip dari Localiiz, youtiao diciptakan pada era kepemimpinan Dinasti Song sebagai wujud kemarahan masyarakat atas pemerintahan mereka.
Di tengah peperangan untuk menguasai daerah utara Tiongkok, Perdana Menteri kerajaan Song, Qin Hui tiba-tiba memanggil kembali panglima pasukan kerajaan, Jenderal Yue Fei untuk kembali ke istana. Ternyata pemanggilan tersebut merupakan jebakan dari Qin Hui dan istrinya, yang sama-sama gelap mata karena Jenderal Yue lebih populer di kalangan masyarakat.
Singkat kata, Jenderal Fei difitnah membelot terhadap kerajaan oleh Qin Hui, dan dihukum mati. Mendengar kabar tersebut, seorang pedagang kaki lima setempat, Wang Xiao Er turut mengungkapkan kekesalannya dengan menyatukan dua adonan roti, menggambarkan Qin Hui dan istrinya, menjadi satu dan melemparkannya ke dalam penggorengan.
Sambil memasak, Wang berseru kepada warga yang juga sama sama marah untuk mendengarkan suaranya. “Lihat ini, saya jualan ‘youzhahui’ (Hui goreng)!,” seru Wang untuk mengundang masyarakat melihat gorengan tersebut, sebagai wujud doa Wang terhadap Qin Hui dan istrinya untuk segera menjemput nasib serupa dengan Jenderal Fei.
Karena sama-sama kesal, masyarakat banyak yang berbondong-bondong membeli makanan tersebut. Saat menyebar ke wilayah Canton dan Hokkian, maysarakat menyebutnya sebagai ‘youjagwai’ (油炸鬼), yang berarti hantu atau setan goreng, karena 'hui' juga bisa diterjemahkan sebagai hantu atau setan.
Lambat laun, makanan ini menyebar ke segala penjuru Tiongkok dan wilayah Sinosfer, juga dengan nama-nama yang berbeda-beda sesuai dialek dan bahasa masing-masing daerah. Misal di Taiwan, youtiao dikenal sebagai ‘yuchiakoe’ (油炸粿), di Korea Selatan dikenal sebagai kkwabaegi, sementara di Jepang, makanan ini dikenal sebagai sakubei.
Dengan giatnya perdagangan dari Tiongkok ke berbagai daerah di Asia, youtiao, youchiakoe dan lain sebagainya ikut menyebar sebagai makanan yang dijajakan para pedagang. Sehingga nama-nama cakwe di daerah lain juga beragam.
Selain Indonesia, Kamboja, Vietnam dan Malaysia juga mengenal youtiao sebagai cakwe. Lebih tepatnya disebut sebagai cakoi di Malaysia, chao quay di Vietnam, dan chakway di Kamboja.
Selain itu Filipina, Myanmar dan Singapura juga tidak jauh-jauh dari penyebutan tersebut. Cakwe dikenal di Filipina sebagai shakoy, kemudian sebagai e kyakway di Myanmar, dan di Singapura disebut sebagai yu charkway.
Uniknya, cakwe di Thailand dan Laos malah dikenal sebagai pathongko. Alkisah di dua negara tersebut, cakwe dijual bersama dengan kue bernama bai tangguo. Namun para pembeli sering tertukar antara cakwe dan bai tangguo, sehingga para pedagang mengadopsi nama pathongko sesuai dialek lokal untuk menjual cakwe.
Secara tradisional, cakwe disajikan sebagai makanan asin yang dapat dinikmati dengan saos pedas atau asam. Namun seiring waktu ada pula cakwe manis yang juga populer di masyarakat.
Di Indonesia, tentu masyarakat akrab dengan roti goreng dengan taburan wijen di atasnya, atau sering disebut masyarakat Cepu dan Blora sebagai bolang-baling. Sementara di Thailand dan Vietnam, cakwe disajikan dengan susu jika ingin rasa manis. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana