Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Apakah “Gila Kerja” dan “Kecanduan Kerja” Benar-benar Ada? Ini Penjelasannya Menurut Psikologi

Yuan Edo Ramadhana • Kamis, 22 Mei 2025 | 01:14 WIB
Photo
Photo

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Idealnya dalam hidup bermasyarakat, seseorang dapat menyeimbangkan waktu antara bekerja dan beristirahat. Namun sebagian masyarakat dengan percaya diri mengklaim mereka ‘gila kerja’, atau sering disebut ‘workaholic’.

Umumnya istilah tersebut menggambarkan pribadi yang rajin dan semangat bekerja, terkadang hingga lupa waktu. Namun kerap juga orang yang digambarkan atau mengklaim diri ‘gila kerja’ masih dapat mengahbiskan waktu luang untuk beristirahat dan bersuka ria seperti masyarakat umum.

Jadi apa sebenarnya ‘gila kerja’ itu? Menurut psikolog asal Irlandia, Nigel Barber, benar memang bahwa ‘gila kerja’ menggambarkan pribadi yang lebih suka dan rajin bekerja. Namun dalam dunia psikologi, ‘gila kerja’ dan ‘kecanduan kerja’ sebenarnya beda tipis.

“Seorang yang kecanduan kerja umumnya mengorbankan waktu luang, bahkan hubungan pribadi dan keluarga mereka demi pekerjaan. Karena pada hakikatnya manusia juga perlu beristirahat, sehingga kecanduan kerja juga bukan termasuk fenomena alami,” jelas Barber dalam kolomnya di Psychology Today.

Barber berpandangan fenomena ‘gila kerja’ tumbuh dari jam kerja yang panjang, serta kebutuhan manusia atas pengakuan sosial. Terlebih, orang yang dipandang rajin dan lama bekerja biasanya diberi gaji dan jabatan lebih tinggi.

“Karena ini, kegemaran untuk bekerja dipandang sebagai sesuatu yang positif, dan masyarakat lebih menyukai masyarakat yang dianggap ‘gila kerja’. Di beberapa negara berkembang, satu dari lima pekerja merupakan pribadi ‘gila kerja’” papar Barber.

Barber menyimpulkan bahwa ‘gila kerja’ dan ‘kecanduan kerja’ masih dapat dibedakan selama sang pekerja dapat mengontrol jam kerja, jam istirahat dan kesehatan rohani.

“Seorang yang ‘gila kerja’ mungkin obsesif, tapi tidak sampai menimbulkan perubahan pola pikir. Selain itu, orang yang kecanduan kerja cenderung mengalami depresi, sehingga mereka bekerja terus-terusan agar keadaan mental mereka tidak sampai turun,” jelas Barber.

Serupa dengan Barber, peneliti asal Inggris, Mark Griffiths juga membedakan ‘gila kerja’ dan ‘kecanduan kerja’ berdasarkan akibat yang ditimbulkan. “Lambat laun orang yang kecanduan kerja bakal mengalami penurunan produktivitas jika dibanding dengan orang yang hanya ‘gila kerja’, atau bahkan orang yang bekerja seperti biasa,” jelasnya.

“Pada intinya, kebiasaan ‘gila kerja’ masih dapat menunjang kehidupan pribadi secara umum, sementara kecanduan kerja justru dapat mempersulit hidup,” tambah Griffiths. (edo)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Sosial #jam kerja #waktu luang #depresi #pekerjaan #semangat bekerja #Pekerja #kesehatan #beristirahat #rajin bekerja #kecanduan kerja #masyarakat #keluarga #bekerja #gila kerja #workaholic