Merebaknya kopi vespa tak hanya di perkotaan. Kini merambah kawasan pedesaan. Salah satunya di Desa Leran, Kecamatan Kalitidu.
DHANI WAHYU ALFIANSYAH, Bojonegoro
SORE itu, sejumlah pemuda tampak bercengkerama di tepi area persawahan, tepatnya di Dusun Kalipang, Desa Leran, Kecamatan Kalitidu.
Semilirnya angin dari luasnya area pematang tersebut, semakin menambahkan kenikmatan kopi racikan Arif Rhibun.
Pria yang memiliki hobi otomotif tersebut, tak menyianyiakan keahliannya dalam memodifikasi kendaraan. Bahkan, vespa miliknya disulap menjadi bar untuk menyeduh kopi.
Meski kopi yang memanfaatkan kendaraan roda dua itu, sudah merebak sejak tiga tahun terakhir, namun Arif dan teman-temannya baru memberanikan diri untuk membuka kopi vespa tahun ini.
Bahkan, tempat yang dipilih pun bukan tempat di kawasan ramai, seperti Jalan MH Thamrin, atau Jalan Hayam Wuruk. Namun, ia sekaligus memilih tempat di desanya sendiri, yakni di Desa leran, dan tak jauh lapangan Minyak Kedungkeris, Desa Sukoharjo, Kecamatan Kalitidu.
‘’Awalnya saya dan tiga teman saya menikmati sore di sawah, terus lama kelamaan banyak teman yang ikut, lalu munculah ide untuk membuka kopi keliling berempat,” ceritanya. Beruntung, meski rerata masih berusia 23 tahun, keempatnya memiliki niatan untuk usaha dan saling mendukung.
Pria yang juga berasal dari Dusun Kalipang tersebut, mengaku lebih senang membuka di kawasan desa. Selain, lebih dekat dari rumah masing-masing, juga tempatnya yang lebih asri saat sore.
Menyadari hal tersebut, kopi keliling yang dinamai Road Coffee tersebut hanya buka tak lebih dari 3 jam, mulai pukul 16.00.
Sementara itu, keahliannya dalam memodifikasi motor menjadi bar tempat berjualan, terinspirasi saat mengikuti komunitas vespa.
Baca Juga: Wisata Desa Bergeliat Selama Liburan Sekolah
‘’Biasanya hanya jualan kalau touring saja,” kenangnya.
Tapi saat ini, dia dan teman-temannya tak harus menunggu momentum itu, sebab setiap harinya bisa berjualan.
Menurutnya, kopi vespa digemari yakni karena pemuda di desanya sebagian besar masih bertani. ‘’Kalau selesai dari sawah langsung mampir, karena mayoritas pemuda di sini tani,” bebernya. (*/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana