Kenapa Kita Baik kepada Orang Lain, tapi Galak kepada Pasangan Sendiri?

Farhan Reza Ardiansyah • Dipublikasikan Minggu, 25 Oktober 2026 | 16:30 WIB
Ilustrasi perempuan yang mampu memberikan dukungan emosional kepada pasangannya, tanpa menghakimi
Ilustrasi perempuan yang mampu memberikan dukungan emosional kepada pasangannya, tanpa menghakimi

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Pernah merasa bisa bersikap ramah kepada teman, sabar menghadapi rekan kerja, bahkan tetap tersenyum kepada orang asing, tetapi justru mudah marah ketika berhadapan dengan pasangan sendiri? Hal ini cukup sering terjadi dalam hubungan. Seseorang bisa menjaga tutur kata saat berbicara dengan orang lain, tetapi kehilangan kesabaran ketika pasangan melakukan kesalahan kecil. Padahal, pasangan adalah orang yang seharusnya mendapat perhatian dan kasih sayang.

Lantas, mengapa kita bisa bersikap baik kepada orang lain, tetapi justru lebih galak kepada pasangan sendiri?

1. Merasa Terlalu Nyaman dengan Pasangan

Salah satu penyebabnya adalah perasaan nyaman. Ketika bersama orang lain, kita cenderung menjaga sikap karena ingin memberikan kesan baik. Kita juga mempertimbangkan bagaimana orang lain akan menilai perilaku kita.

Namun, ketika bersama pasangan, batasan tersebut terkadang mulai mengendur. Kita merasa pasangan akan tetap menerima diri kita, bahkan ketika sedang marah atau bersikap buruk. Akibatnya, kita menjadi lebih mudah menunjukkan emosi tanpa memikirkan dampaknya. Padahal, merasa nyaman dengan pasangan seharusnya membuat seseorang lebih leluasa menjadi diri sendiri, bukan menjadikan pasangan sebagai tempat melampiaskan emosi.

Baca Juga: Bukan Bunga atau Hadiah Mahal, 7 Perhatian Kecil Ini Justru Bikin Pasangan Bahagia

2. Ekspektasi terhadap Pasangan Lebih Tinggi

Kita sering memiliki harapan lebih besar terhadap pasangan dibandingkan orang lain.

Kita berharap pasangan memahami perasaan tanpa harus selalu dijelaskan, mengetahui apa yang dibutuhkan, dan menyadari kesalahan tanpa perlu diingatkan berkali-kali. Ketika harapan tersebut tidak terpenuhi, rasa kecewa bisa muncul dan berubah menjadi kemarahan.

Misalnya, seseorang mungkin tidak mempermasalahkan teman yang lupa membalas pesan. Namun, ketika pasangan melakukan hal yang sama, ia merasa diabaikan atau tidak diprioritaskan. Perbedaan respons ini bisa terjadi karena hubungan romantis melibatkan kebutuhan emosional dan harapan yang lebih mendalam. Sayangnya, pasangan tidak selalu bisa memahami keinginan kita tanpa komunikasi yang jelas.

3. Pasangan Menjadi Tempat Melampiaskan Stres

Tekanan pekerjaan, masalah keuangan, kelelahan, dan persoalan keluarga dapat memengaruhi cara seseorang memperlakukan orang terdekatnya.

Saat berada di luar rumah, seseorang mungkin berusaha menahan emosi agar tetap profesional. Namun, setelah bertemu pasangan, seluruh kelelahan yang selama ini dipendam justru keluar dalam bentuk kemarahan.

Hal kecil, seperti pasangan yang lupa membeli sesuatu atau terlambat memberi kabar, akhirnya menjadi pemicu pertengkaran. Dalam kondisi ini, sumber kemarahan sebenarnya belum tentu berasal dari pasangan. Bisa jadi, ada tekanan lain yang belum terselesaikan.

Meski demikian, stres bukan alasan untuk menyakiti orang terdekat. Belajar mengenali emosi dan menyampaikannya dengan baik menjadi langkah penting agar masalah pribadi tidak berubah menjadi konflik hubungan.

4. Merasa Pasangan Akan Selalu Memaafkan

Ada kalanya seseorang berani bersikap kasar kepada pasangan karena merasa hubungan mereka cukup kuat untuk bertahan menghadapi pertengkaran.

Ia mungkin berpikir bahwa pasangan akan memahami sifatnya, memaklumi ucapannya, atau memaafkannya seperti yang sudah terjadi berkali-kali. Pikiran tersebut dapat membuat seseorang kurang berhati-hati dalam berbicara dan bertindak. Padahal, kesabaran pasangan bukan sesuatu yang tidak terbatas. Perkataan yang menyakitkan dan sikap yang terus berulang dapat menumpuk menjadi kekecewaan.

Hubungan yang sehat tidak hanya membutuhkan keyakinan bahwa pasangan akan tetap bertahan, tetapi juga kesadaran bahwa perasaannya perlu dijaga.

Baca Juga: Lakukan Hal Sederhana Ini agar Pasangan Makin Sayang, Mencuci Pakaian hingga Memandikan anak

5. Belum Terbiasa Mengelola Emosi

Tidak semua orang terbiasa menyampaikan rasa kecewa dengan cara yang sehat.

Sebagian orang memilih diam, sementara yang lain langsung meninggikan suara, menyindir, atau mengeluarkan kata-kata tajam ketika merasa tidak dipahami. Kebiasaan tersebut bisa terbentuk dari pengalaman masa lalu, pola komunikasi dalam keluarga, atau cara seseorang menghadapi konflik sejak kecil. Ketika berhadapan dengan pasangan, emosi yang kuat membuat seseorang lebih mudah bereaksi secara spontan daripada memikirkan dampak perkataannya.

Karena itu, kemampuan mengelola emosi menjadi bagian penting dalam hubungan. Merasa marah merupakan hal yang wajar, tetapi cara mengekspresikannya tetap perlu diperhatikan.

6. Menganggap Pasangan Sudah Memahami Diri Kita

Semakin lama menjalin hubungan, seseorang terkadang merasa pasangannya seharusnya sudah mengetahui kebiasaan, keinginan, dan perasaannya.

Akibatnya, ketika pasangan tidak memberikan respons sesuai harapan, muncul anggapan bahwa ia tidak peduli. Padahal, memahami seseorang bukan berarti mampu membaca pikirannya setiap saat.

Contohnya, seseorang mungkin berharap ditemani setelah menjalani hari yang berat. Namun, ia tidak mengungkapkan keinginannya dan justru marah ketika pasangan tidak menyadarinya. 

Situasi seperti ini dapat dihindari dengan komunikasi yang terbuka. Mengungkapkan kebutuhan secara langsung jauh lebih membantu daripada mengharapkan pasangan selalu memahami isyarat yang tidak jelas.

7. Lupa bahwa Pasangan Juga Bisa Terluka

Karena terlalu terbiasa bersama, kita terkadang lupa bahwa pasangan juga memiliki perasaan yang perlu dijaga.

Kita mungkin menganggap bentakan sebagai hal biasa, sindiran sebagai candaan, atau ucapan kasar sebagai bagian dari pertengkaran sehari-hari. Namun, sesuatu yang terasa biasa bagi satu orang belum tentu tidak menyakitkan bagi orang lain. Jika terus terjadi, pasangan bisa merasa tidak dihargai, takut mengungkapkan pendapat, atau memilih memendam perasaan demi menghindari konflik. Kedekatan seharusnya membuat seseorang lebih memahami perasaan pasangannya, bukan justru menganggapnya kebal terhadap rasa sakit.

Baca Juga: 7 Tanda Pria Mulai Memikirkan Masa Depan Bersama Pasangannya

Bagaimana Cara Berhenti Bersikap Galak kepada Pasangan?

Mengubah kebiasaan tersebut membutuhkan kesadaran dan latihan. Ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan.

Pertama, kenali pemicu kemarahan. Perhatikan situasi yang membuat emosi mudah meledak. Apakah karena kelelahan, rasa kecewa, masalah pekerjaan, atau harapan yang tidak terpenuhi?

Kedua, beri jeda sebelum bereaksi. Ketika mulai marah, cobalah berhenti sejenak sebelum berbicara. Jika emosi terlalu tinggi, sepakati waktu untuk menenangkan diri dan kembali membahas masalah.

Ketiga, sampaikan perasaan tanpa menyerang. Daripada berkata, "Kamu memang tidak pernah peduli," cobalah mengatakan, "Aku merasa sedih ketika pesanku tidak mendapat kabar karena aku ingin merasa diperhatikan."

Keempat, jangan menganggap permintaan maaf sebagai penyelesaian akhir. Jika sudah terlanjur berkata kasar, mintalah maaf dengan tulus dan tunjukkan perubahan melalui perilaku.

Kelima, tetap jaga rasa hormat saat berbeda pendapat. Pasangan boleh melakukan kesalahan dan memiliki pandangan yang berbeda. Namun, perbedaan tersebut tidak membenarkan penghinaan, ancaman, atau kekerasan.

Jika kemarahan terus berulang dan sulit dikendalikan, konseling individu atau konseling pasangan dapat membantu memahami pola konflik dan membangun komunikasi yang lebih sehat.

Kesimpulan

Bersikap baik kepada orang lain, tetapi mudah marah kepada pasangan sendiri, dapat terjadi karena rasa nyaman, ekspektasi yang tinggi, tekanan emosional, hingga kebiasaan komunikasi yang kurang sehat.

Namun, memahami penyebabnya bukan berarti membenarkan perilaku tersebut.

Baca Juga: Love Language Pasangan yang Diperlukan Setelah Menikah, Bukan Sekadar Kata Cinta

Justru karena pasangan adalah orang yang dekat dengan kita, ia seharusnya tidak menjadi sasaran pelampiasan emosi yang tidak bisa kita tunjukkan kepada orang lain.

Cinta bukan hanya tentang memberikan perhatian ketika suasana hati sedang baik. Cinta juga tercermin dari bagaimana kita memperlakukan pasangan ketika sedang lelah, kecewa, atau marah.

Sebab, hubungan yang sehat bukan hubungan tanpa pertengkaran, melainkan hubungan yang tetap memberikan ruang bagi kedua pihak untuk merasa aman, dihargai, dan didengarkan, bahkan ketika sedang berbeda pendapat. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
Ekspektasi perasaan komunikasi Pasangan stres