Bertengkar karena Hal Sepele? Mungkin Bukan Masalahnya yang Besar, tetapi Cara Menyikapinya

Farhan Reza Ardiansyah • Dipublikasikan Minggu, 18 Oktober 2026 | 20:45 WIB
Iluastrasi pria yang kurang memahami kebutuhan emosional dalam hubungan
Iluastrasi pria yang kurang memahami kebutuhan emosional dalam hubungan

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Pernah bertengkar dengan pasangan hanya karena masalah kecil, seperti lupa memberi kabar, salah memilih kata, atau terlambat membalas pesan? Hal-hal sederhana yang seharusnya bisa diselesaikan dengan mudah justru terkadang berujung pada adu argumen hingga saling diam.

Dalam hubungan, pertengkaran karena hal sepele sebenarnya bukan sesuatu yang selalu menandakan hubungan sedang bermasalah. Namun, cara seseorang menyikapi perbedaan pendapat dapat menentukan apakah konflik akan mereda atau justru semakin membesar.

Masalah kecil bisa terasa besar ketika emosi mengambil alih cara kita berkomunikasi.

Saat sedang kesal, seseorang cenderung lebih fokus pada perasaan yang terluka daripada inti persoalan. Kalimat sederhana seperti, "Kamu lupa lagi," bisa berubah menjadi perdebatan panjang jika dibalas dengan nada defensif, sindiran, atau ungkapan yang menyudutkan pasangan.

Di sisi lain, hal yang dianggap sepele oleh satu orang belum tentu terasa sama bagi orang lain. Terlambat membalas pesan, misalnya, mungkin bukan persoalan besar bagi seseorang. Namun, bagi pasangannya, hal itu bisa memunculkan perasaan tidak diprioritaskan, terutama jika sebelumnya sudah ada pengalaman serupa.

Baca Juga: 8 Titik Rentan Perempuan yang Bisa Dimanfaatkan dalam Hubungan, Hati-Hati Mudah Dimanipulasi

Bukan Sekadar Masalah, tetapi Perasaan di Baliknya

Dalam psikologi hubungan, konflik sering kali tidak hanya berkaitan dengan kejadian yang terlihat, tetapi juga kebutuhan emosional yang belum tersampaikan. Seseorang mungkin marah karena pasangannya lupa memberi kabar, padahal yang sebenarnya dibutuhkan adalah rasa aman, perhatian, atau kepastian.

Karena itu, penting untuk tidak terburu-buru menganggap pasangan terlalu sensitif atau membesar-besarkan persoalan. Cobalah memahami apa yang membuat kejadian tersebut terasa menyakitkan baginya.

Begitu pula ketika diri sendiri merasa kesal. Sebelum melontarkan kata-kata yang menyakitkan, ada baiknya berhenti sejenak dan mengenali emosi yang sedang dirasakan. Apakah benar-benar marah karena kejadian itu, atau ada kekecewaan lain yang selama ini dipendam?

Mengenali perasaan dapat membantu seseorang menyampaikan keberatan dengan lebih jelas tanpa harus menyerang karakter pasangannya.

Belajar Mendengarkan Tanpa Selalu Ingin Menang

Salah satu penyebab pertengkaran semakin panjang adalah keinginan untuk membuktikan siapa yang benar. Ketika masing-masing sibuk mempertahankan pendapat, kesempatan untuk memahami sudut pandang pasangan justru semakin kecil.

Padahal, menyelesaikan konflik bukan berarti harus ada pihak yang kalah. Dalam hubungan yang sehat, kedua orang perlu memiliki ruang untuk menjelaskan perasaan sekaligus mendengarkan pasangannya.

Alih-alih mengatakan, "Kamu memang selalu begitu," cobalah menggantinya dengan, "Aku merasa kecewa ketika kamu tidak memberi kabar karena aku jadi khawatir."

Perbedaan kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi dampaknya bisa cukup berarti. Kalimat pertama menyerang pribadi pasangan, sedangkan kalimat kedua menjelaskan perasaan dan alasan di baliknya.

Jika emosi sudah terlalu tinggi, mengambil jeda juga bisa menjadi pilihan. Namun, pastikan jeda tersebut bukan bentuk hukuman dengan mendiamkan pasangan tanpa penjelasan. Sampaikan bahwa kamu membutuhkan waktu untuk menenangkan diri dan akan kembali membicarakan persoalan setelah lebih siap.

Hubungan Bukan Tentang Tidak Pernah Bertengkar

Tidak ada hubungan yang selalu berjalan mulus. Dua orang dengan latar belakang, kebiasaan, dan cara berpikir berbeda tentu memiliki kemungkinan untuk berselisih.

Baca Juga: 7 Kebiasaan Sederhana yang Bisa Membuat Hubungan Suami Istri Semakin Harmonis

Hal yang lebih penting bukan seberapa sering pasangan mengalami perbedaan pendapat, melainkan bagaimana mereka memperbaiki keadaan setelah konflik terjadi.

Berani meminta maaf, bersedia mengakui kesalahan, dan mencoba memahami perasaan pasangan merupakan bagian penting dari komunikasi yang sehat. Begitu pula dengan kemampuan menetapkan batasan agar pertengkaran tidak berubah menjadi hinaan, ancaman, atau tindakan kekerasan.

Pada akhirnya, tidak semua masalah kecil harus berakhir dengan perdebatan panjang. Terkadang, yang dibutuhkan bukan pembuktian siapa yang paling benar, melainkan kesediaan untuk saling memahami.

Sebab, dalam sebuah hubungan, pasangan bukanlah lawan yang harus dikalahkan. Keduanya adalah rekan yang perlu belajar menghadapi persoalan bersama, termasuk ketika perbedaan kecil mulai menguji kesabaran. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
Hubungan psikologi komunikasi bertengkar Pasangan