Anak Kecanduan Gawai? Waspadai Dampaknya bagi Kesehatan Mental

Farhan Reza Ardiansyah • Dipublikasikan Minggu, 18 Oktober 2026 | 14:16 WIB
Ilustrasi anak sedang bermain gawai(MAGNIFIC/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi anak sedang bermain gawai(MAGNIFIC/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Penggunaan gawai pada anak semakin sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Selain digunakan untuk belajar dan mencari hiburan, ponsel pintar juga menjadi sarana anak bermain gim, menonton video, hingga berinteraksi dengan teman. Namun, penggunaan gawai secara berlebihan perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi kesehatan mental, kualitas tidur, serta perkembangan sosial anak.

Kecanduan gawai bukan sekadar persoalan anak yang terlalu lama menatap layar. Kondisi ini perlu mendapat perhatian ketika anak mulai kesulitan mengendalikan penggunaan perangkat digital hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti belajar, beristirahat, bermain di luar rumah, dan berinteraksi dengan keluarga.

Mengenali Tanda Anak Mengalami Ketergantungan Gawai

Salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah anak menunjukkan kemarahan, kecemasan, atau reaksi berlebihan ketika waktu bermain gawai dibatasi. Anak juga mungkin terus meminta ponsel, mengabaikan tugas sekolah, menunda tidur, atau kehilangan minat terhadap aktivitas lain yang sebelumnya disukai.

Meski demikian, tanda-tanda tersebut tidak otomatis menunjukkan adanya gangguan kesehatan mental. Orang tua perlu melihat frekuensi, intensitas, serta dampaknya terhadap kehidupan anak secara keseluruhan.

Baca Juga: Lima Cara Jitu Menangkal Anak Kecanduan Konten Pornografi dan Konten Negatif dari Handphone

Dampak Penggunaan Gawai Berlebihan terhadap Kesehatan Mental

Penggunaan gawai yang tidak terkontrol dapat berkaitan dengan sejumlah persoalan kesehatan mental. Salah satunya adalah gangguan tidur. Kebiasaan bermain ponsel hingga larut malam dapat mengurangi durasi dan kualitas tidur, sehingga anak lebih mudah lelah, sulit berkonsentrasi, dan mengalami perubahan suasana hati.

Selain itu, anak berpotensi mengalami kesulitan mengelola emosi. Ketika terbiasa mendapatkan hiburan instan dari gim atau video pendek, sebagian anak dapat merasa cepat bosan saat menghadapi aktivitas yang membutuhkan kesabaran dan konsentrasi.

Penggunaan media sosial juga dapat memengaruhi kondisi emosional anak, terutama ketika mereka terpapar perundungan siber, komentar negatif, atau kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Namun, besarnya dampak sangat bergantung pada usia anak, jenis konten, lingkungan keluarga, serta pola penggunaan gawai.

Sejumlah penelitian menemukan hubungan antara penggunaan layar yang berlebihan dan berbagai masalah psikologis pada anak. Meski begitu, hubungan tersebut tidak selalu berarti bahwa gawai menjadi satu-satunya penyebab. Kondisi keluarga, masalah emosional sebelumnya, dan kualitas interaksi sosial juga dapat berperan.

Peran Orang Tua dalam Mengatasi Kecanduan Gawai

Orang tua memiliki peran penting dalam membantu anak membangun kebiasaan digital yang sehat. Langkah pertama adalah menetapkan aturan penggunaan gawai yang sesuai dengan usia, termasuk waktu bermain, jadwal tidur, serta larangan menggunakan perangkat ketika makan bersama.

Orang tua juga perlu memberikan contoh. Membatasi penggunaan ponsel oleh orang dewasa saat berinteraksi dengan anak dapat membantu membangun komunikasi yang lebih berkualitas.

Selain itu, ajak anak melakukan aktivitas alternatif, seperti berolahraga, membaca buku, bermain di luar rumah, menggambar, atau mengikuti kegiatan bersama keluarga. Aktivitas tersebut membantu anak memperoleh pengalaman menyenangkan tanpa harus selalu bergantung pada layar.

Pendekatan yang tenang juga lebih dianjurkan daripada langsung memarahi atau menghukum anak. Orang tua dapat mengajak anak berdiskusi mengenai alasan pembatasan gawai dan membantu mereka memahami pentingnya keseimbangan antara aktivitas digital dan kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Mitos atau Fakta? Makan Sambil Bermain HP Bisa Membuat Otak Tidak Fokus

Jika penggunaan gawai terus mengganggu tidur, pendidikan, hubungan sosial, atau disertai perubahan perilaku dan emosi yang menetap, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan profesional.

Pada akhirnya, gawai bukanlah sesuatu yang sepenuhnya harus dijauhkan dari anak. Perangkat digital tetap dapat memberikan manfaat apabila digunakan secara tepat, aman, dan sesuai usia. Kuncinya adalah pendampingan orang tua, pengawasan konten, serta keseimbangan antara aktivitas digital dan interaksi nyata agar tumbuh kembang anak tetap optimal. (*)

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
gawai emosional anak berinteraksi anak orang tua