Dalam dunia psikologi, perasaan ini bukan sekadar tanda kurang bersyukur. Ada mekanisme emosional dan sosial yang kuat di balik mengapa pikiran manusia sangat mudah membandingkan diri dengan orang lain.
Baca Juga: Orang yang Punya Kecerdasan IQ Tinggi Sering Merasa Bersalah dan Overthinking, Begini Menurut PsikologiMengapa Kita Sering Merasa Tertinggal?
1. Teori Perbandingan Sosial (Social Comparison Theory)
Gagasan ini pertama kali dicetuskan oleh psikolog Leon Festinger pada tahun 1954. Manusia memiliki dorongan alami untuk mengevaluasi kemampuan dan pencapaian dirinya sendiri. Ketika tidak ada standar objektif, cara termudah yang dilakukan otak adalah dengan membandingkan diri dengan orang-orang di sekitar (peer group).
Perbandingan yang mengarah ke atas (upward social comparison) yaitu membandingkan diri dengan orang yang tampak lebih sukses dapat memicu rasa rendah diri dan cemas jika tidak disikapi dengan bijak.
2. Illusi "Panggung Depan" Media Sosial
Media sosial bekerja seperti galeri pencapaian. Orang cenderung membagikan momen-momen terbaik (highlight reel), seperti kelulusan, promosi karier, atau liburan. Jarang sekali seseorang membagikan proses penuh kegagalan, rasa lelah, atau perjuangan di balik layar. Membandingkan kondisi hidup kita yang nyata dengan potongan pencapaian terbaik orang lain menciptakan standar yang tidak adil bagi diri sendiri.
3. Tekanan Jam Sosial (Social Clock)
Sejak kecil, masyarakat secara tidak langsung menanamkan tenggat waktu implisit untuk urusan hidup: usia 22 lulus kuliah, usia 25 karier stabil, usia 27 menikah, dan seterusnya. Ketika perjalanan hidup seseorang tidak mengikuti skema umum tersebut, timbul persepsi seolah-olah dirinya telah "tertinggal dari jadwal".
Hal yang Perlu Dipahami saat Perasaan Itu Muncul
-
Pencapaian Tidak Berjalan secara Linear: Setiap orang berkembang dengan ritme (pacing) yang berbeda. Latar belakang keluarga, peluang, kesehatan, dan pengalaman hidup yang membentuk tiap individu sangat bervariasi, sehingga membandingkan garis waktu dua orang yang berbeda adalah hal yang tidak realistis.
-
Sukses Memiliki Definisi yang Personal: Standar keberhasilan versi orang lain belum tentu menjadi hal yang benar-benar Anda butuhkan. Keberhasilan bisa berwujud ketenangan mental, hubungan keluarga yang harmonis, atau keberanian untuk keluar dari lingkungan yang tidak sehat
Baca Juga: Orang yang Biasa Saja dengan Hari Ulang Tahunnya, Biasanya Memiliki Karakteristik Kepribadian Ini
Langkah Praktis untuk Mengatasi Rasa Tertinggal
-
Beralih ke Perbandingan Internal: Bandingkan diri Anda hari ini dengan diri Anda satu atau dua tahun lalu, bukan dengan orang lain. Fokus pada pertumbuhan personal yang telah Anda capai sekecil apa pun itu.
-
Lakukan Digital Detox Secukupnya: Jika linimasa media sosial mulai memicu kecemasan atau emosi negatif, batasi durasi penggunaan aplikasi atau bisukan (mute) akun-akun yang berpotensi memicu perbandingan destruktif.
-
Fokus pada Apa yang Bisa Dikendalikan: Anda tidak bisa mengontrol kecepatan orang lain dalam meraih impian mereka, tetapi Anda memegang kendali penuh atas konsistensi, kebiasaan harian, dan respons emosional diri sendiri.
Merasa tertinggal adalah respons emosional yang wajar, namun ingatlah bahwa hidup bukanlah sebuah perlombaan lari dengan garis finis yang sama bagi setiap orang. (*)