Tips Membesarkan Anak agar Tidak Manja, Orang Tua Perlu Tahu

Farhan Reza Ardiansyah • Dipublikasikan Jumat, 9 Oktober 2026 | 19:30 WIB
Ilustrasi anak laki laki
Ilustrasi anak laki laki

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Membesarkan anak agar mandiri bukan berarti orang tua harus bersikap keras. Anak tetap membutuhkan kasih sayang, perhatian, dan dukungan, tetapi juga perlu belajar bertanggung jawab sejak dini.

Kebiasaan sehari-hari di rumah berperan penting dalam membentuk karakter anak. Jika semua keinginannya selalu dituruti dan setiap kesulitannya langsung diselesaikan orang tua, anak bisa kehilangan kesempatan untuk belajar mandiri.

Lantas, bagaimana cara membesarkan anak agar tidak manja tanpa membuatnya merasa kurang disayangi?

1. Biasakan Anak Melakukan Hal Sendiri

Salah satu cara mendidik anak agar tidak manja adalah memberinya kesempatan melakukan sesuatu sesuai usia dan kemampuannya.

Anak balita, misalnya, bisa mulai belajar merapikan mainan, mengambil sepatu sendiri, atau makan dengan bantuan seperlunya. Sementara itu, anak yang lebih besar dapat belajar menyiapkan perlengkapan sekolah dan merapikan tempat tidur.

Baca Juga: 7 Cara Membesarkan Anak Laki-Laki agar Tumbuh Percaya Diri dan Tidak Bingung dengan Dirinya

Orang tua tidak perlu menuntut hasil yang sempurna. Proses belajar jauh lebih penting daripada kecepatan anak menyelesaikan tugasnya.

2. Jangan Selalu Menuruti Keinginan Anak

Menolak permintaan anak terkadang membuat orang tua merasa tidak tega, terutama ketika anak menangis atau merengek.

Namun, anak perlu memahami bahwa tidak semua keinginannya bisa dipenuhi. Jika meminta mainan baru, misalnya, orang tua dapat menjelaskan bahwa mainan tersebut belum diperlukan atau harus menunggu waktu yang tepat.

Sampaikan penolakan dengan tenang dan konsisten. Anak tetap boleh merasa kecewa, tetapi ia perlu belajar menerima batasan.

3. Ajarkan Tanggung Jawab Sejak Dini

Tanggung jawab dapat diperkenalkan melalui kegiatan sederhana. Anak bisa diminta membereskan mainan setelah bermain, membuang sampah pada tempatnya, atau membantu menyiapkan meja makan sesuai kemampuannya.

Hindari langsung mengambil alih ketika anak lupa atau melakukan kesalahan. Berikan pengingat dan kesempatan untuk memperbaikinya.

Kebiasaan ini membantu anak memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi dan setiap anggota keluarga mempunyai tanggung jawab.

4. Berani Mengatakan Tidak

Orang tua perlu menetapkan aturan yang jelas, termasuk mengenai waktu bermain, penggunaan gawai, dan kebiasaan tidur.

Aturan sebaiknya disesuaikan dengan usia anak dan diterapkan secara konsisten. Jika waktu bermain sudah selesai, misalnya, orang tua dapat mengingatkan anak untuk berhenti meskipun ia masih ingin melanjutkan.

Baca Juga: 8 Cara Membesarkan Anak Laki-Laki agar Tumbuh Percaya Diri dan Bertanggung Jawab

Ketegasan tidak harus disertai bentakan atau hukuman berlebihan. Anak justru lebih mudah memahami aturan ketika orang tua menjelaskan alasannya dengan bahasa sederhana.

5. Jangan Langsung Menolong Saat Anak Kesulitan

Ketika anak mengalami kesulitan memakai sepatu, menyusun mainan, atau mengerjakan tugas, orang tua mungkin ingin segera membantu.

Padahal, memberikan waktu untuk mencoba sendiri dapat melatih kemampuan memecahkan masalah.

Alih-alih langsung menyelesaikannya, orang tua bisa bertanya, "Menurut kamu, bagaimana cara menyelesaikannya?"

Jika anak masih kesulitan, berikan petunjuk atau bantuan seperlunya. Dengan begitu, anak belajar bahwa ia mampu menghadapi tantangan tanpa harus selalu bergantung pada orang lain.

6. Hargai Usaha, Bukan Hanya Hasil

Anak membutuhkan apresiasi agar merasa dihargai. Namun, pujian tidak harus selalu diberikan ketika ia berhasil mendapatkan nilai bagus atau menyelesaikan sesuatu dengan sempurna.

Orang tua juga dapat menghargai usaha, keberanian mencoba, dan kemauan memperbaiki kesalahan.

Misalnya, katakan, "Kamu sudah berusaha merapikan mainan sendiri. Terima kasih, ya."

Apresiasi seperti ini membantu anak memahami pentingnya usaha dan tanggung jawab, bukan sekadar mendapatkan hadiah atau pujian.

7. Berikan Kasih Sayang Tanpa Harus Menuruti Semua Keinginan

Anak yang mandiri tetap membutuhkan pelukan, perhatian, waktu bermain bersama, dan kesempatan bercerita kepada orang tuanya.

Kasih sayang tidak harus diwujudkan dengan memberikan semua yang diminta. Orang tua dapat tetap menunjukkan empati ketika menolak sesuatu.

Baca Juga: 6 Rahasia Membesarkan Anak Laki-Laki yang Percaya Diri Sekaligus Berempati

Misalnya, ketika anak menangis karena tidak dibelikan mainan, orang tua bisa berkata, "Ibu tahu kamu menginginkannya. Kamu boleh sedih, tetapi hari ini kita tidak membeli mainan."

Dengan cara ini, anak belajar bahwa perasaannya diterima meskipun keinginannya tidak selalu dipenuhi.

Kesimpulan

Membesarkan anak agar tidak manja membutuhkan kesabaran, keteladanan, dan aturan yang konsisten. Orang tua dapat memulainya dengan membiasakan anak melakukan hal sederhana secara mandiri, mengajarkan tanggung jawab, serta tidak selalu menuruti keinginannya.

Yang perlu diingat, anak yang mandiri bukan berarti anak yang tidak boleh meminta bantuan. Anak tetap membutuhkan dukungan orang tua, tetapi juga perlu mendapat kesempatan untuk mencoba, belajar dari kesalahan, dan menyelesaikan masalah sesuai kemampuannya.

Dengan keseimbangan antara kasih sayang dan batasan yang sehat, anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri, bertanggung jawab, dan mampu menghargai orang lain. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
membesarkan anak manja bertanggung jawab orang tua karakter anak