RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Melihat mobil sport melintas, rumah megah, tas bermerek, atau jam tangan dengan harga fantastis biasanya cukup menarik perhatian. Namun, tidak semua orang memberikan reaksi yang sama.
Ada yang langsung kagum. Ada yang penasaran dengan harganya. Tetapi ada pula yang hanya melihat sebentar kemudian merasa biasa saja.
Menariknya, respons seperti itu tidak selalu berarti seseorang tidak menghargai barang mahal. Bisa jadi, ia memang memiliki cara berbeda dalam memandang status, kepemilikan, dan kepuasan pribadi.
Baca Juga: Resmi Meluncur! Realme P4s Lite Bawa Baterai 'Monster' 7000mAh, Bakal Bikin Powerbank Nggak Laku?
Penelitian mengenai konsumsi barang mewah menunjukkan bahwa keputusan terhadap produk mewah tidak hanya dipengaruhi keinginan menunjukkan status. Faktor seperti motivasi pribadi, pencarian kualitas, kesenangan, kebutuhan akan keunikan, hingga perbandingan sosial juga dapat berperan.
Lantas, karakter seperti apa yang mungkin terlihat pada orang yang menganggap kemewahan sebagai sesuatu yang biasa saja?
1. Tidak Terlalu Menjadikan Status sebagai Ukuran Diri
Barang mewah sering kali memiliki fungsi sosial. Logo, merek, desain, atau harga sebuah produk dapat menjadi simbol kekayaan dan status.
Sejumlah penelitian bahkan menemukan bahwa tampilan kemewahan dapat memengaruhi bagaimana seseorang dipersepsikan dan diperlakukan dalam interaksi sosial.
Baca Juga: Kepribadian Seseorang Bisa Berubah? Ini Penjelasan dari Sisi Psikologi
Namun, tidak semua orang menjadikan simbol tersebut sebagai sesuatu yang penting.
Orang yang melihat barang mewah dengan respons biasa saja mungkin tidak terlalu menjadikan status yang ditampilkan melalui kepemilikan barang sebagai ukuran keberhasilan dirinya.
Bukan berarti ia tidak mengetahui bahwa barang tersebut mahal. Ia tahu, tetapi harga dan status yang melekat pada benda itu tidak otomatis membuatnya merasa harus memilikinya.
2. Lebih Mempertimbangkan Nilai Personal
Bagi sebagian orang, sesuatu dianggap menarik bukan karena harganya, melainkan karena sesuai dengan kebutuhan atau selera pribadi.
Hal ini sejalan dengan penelitian tentang motivasi intrinsik dalam konsumsi barang mewah. Studi Truong dan McColl terhadap 587 konsumen menemukan bahwa motivasi intrinsik berkaitan dengan pencarian kualitas dan kesenangan yang bersifat personal. Motivasi intrinsik dalam penelitian tersebut juga berkaitan dengan kecenderungan yang lebih rendah terhadap konsumsi mencolok atau conspicuous consumption.
Dengan kata lain, seseorang bisa saja mengakui sebuah tas atau mobil sebagai produk berkualitas tinggi, tetapi tidak merasa perlu mengaguminya hanya karena produk tersebut mahal.
Ia mungkin lebih berpikir bahwa barang tersebut memang bagus, tetapi pertanyaan muncul kembali. Apakah dirinya benar-benar membutuhkannya atau hanya sekedar sesaat.
Baca Juga: 10 Karakteristik Kepribadian yang Terlihat dari Cara Seseorang Berbicara
3. Tidak Terlalu Terbawa Perbandingan Sosial
Ada kalanya ketertarikan terhadap barang mewah muncul karena melihat apa yang dimiliki orang lain.
Teman membeli mobil baru, seseorang ingin ikut. Orang lain menggunakan barang bermerek, muncul keinginan untuk memiliki benda serupa. Proses membandingkan diri dengan lingkungan seperti ini menjadi salah satu aspek yang dibahas dalam penelitian mengenai konsumsi mewah.
Studi yang terbit di Psychology & Marketing menggabungkan teori social comparison dan self-determination untuk melihat motivasi di balik sikap terhadap barang mewah. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa faktor seperti konformitas dan perbandingan sosial memang dapat berperan dalam membentuk sikap terhadap kemewahan, meski motivasinya bersifat kompleks dan dipengaruhi nilai personal.
Baca Juga: 7 Rekomendasi Investasi untuk Dana Pensiun, Mana yang Cocok?
Karena itu, orang yang relatif tidak tertarik dengan kemewahan mungkin saja tidak terlalu menggunakan kepemilikan orang lain sebagai standar untuk menilai dirinya.
Ia tidak merasa harus mengejar sesuatu hanya karena banyak orang menganggapnya keren.
4. Lebih Menikmati Sesuatu untuk Kepuasan Diri
Menariknya, penelitian tentang konsumsi mewah menunjukkan bahwa kemewahan sendiri tidak selalu identik dengan pamer.
Studi mengenai motivasi konsumen menemukan bahwa konsumsi barang mewah juga dapat didorong oleh tujuan personal. Bahkan, konsumen yang memiliki motivasi intrinsik cenderung lebih menyukai produk dengan penanda merek yang tidak terlalu mencolok dalam kondisi tertentu.
Hal ini menunjukkan bahwa hubungan seseorang dengan barang mewah bisa sangat personal.
Karena itu, seseorang yang melihat kemewahan dengan biasa saja mungkin lebih tertarik pada pengalaman atau manfaat yang diperoleh, bukan pada seberapa besar benda tersebut membuat dirinya terlihat berbeda di hadapan orang lain.
Baca Juga: Cowok Bingung Bukan Berarti Tak Serius, Ini Alasannya
5. Tidak Mudah Menganggap Barang Mahal sebagai Sesuatu yang Istimewa
Ada satu kemungkinan lain yang lebih sederhana: pengalaman.
Respons seseorang terhadap kemewahan dapat dipengaruhi oleh lingkungan, pengalaman hidup, dan seberapa sering ia berinteraksi dengan benda atau gaya hidup tersebut.
Sesuatu yang sangat jarang dilihat seseorang mungkin terasa luar biasa. Sebaliknya, sesuatu yang sudah sering ditemui bisa terasa lebih biasa.
Karena itu, tidak tepat jika ekspresi datar ketika melihat mobil mahal atau tas bermerek langsung dianggap sebagai tanda kepribadian tertentu.
Konteks kehidupan seseorang tetap penting.
Bukan Berarti Rendah Hati atau Tidak Materialistis
Bagian ini penting.
Melihat barang mewah dan merasa biasa saja tidak otomatis membuat seseorang lebih rendah hati, lebih percaya diri, atau sama sekali tidak materialistis.
Penelitian mengenai konsumsi dan harga diri menunjukkan hubungan antara konsumsi, materialisme, dan self-esteem cukup kompleks. Konsumsi dapat berkaitan dengan berbagai proses psikologis, termasuk pencarian kesesuaian diri, peningkatan diri, hingga konsumsi kompensatoris.
Bahkan penelitian terbaru mengenai konsumsi mewah menunjukkan bahwa materialisme dan harga diri dapat berperan berbeda tergantung konteks dan motivasi seseorang.
Jadi, satu perilaku saja tidak cukup untuk membaca keseluruhan karakter seseorang.
Bisa Jadi Hanya Soal Selera
Pada akhirnya, orang yang melihat sesuatu yang mewah tetapi merasa biasa saja mungkin hanya memiliki prioritas yang berbeda.
Ia bisa saja lebih tertarik pada pengalaman daripada benda. Bisa lebih menghargai fungsi daripada merek. Bisa juga tidak terlalu peduli dengan simbol status.
Atau sesederhana itu: barang tersebut memang bukan seleranya.
Psikologi konsumsi menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan barang mewah tidak sesederhana “suka berarti materialistis” dan “tidak suka berarti rendah hati”. Ada motivasi sosial, personal, budaya, dan psikologis yang saling berinteraksi.
Jadi, kalau seseorang melihat mobil mewah, rumah megah, atau barang bermerek dengan ekspresi datar, jangan buru-buru menyimpulkan karakternya.
Bisa jadi ia bukan tidak mampu menghargai kemewahan.
Ia hanya tidak merasa kemewahan adalah sesuatu yang harus dikagumi. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari