RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Istilah aura cukup sering digunakan untuk menggambarkan pancaran energi atau warna tertentu yang dipercaya mengelilingi tubuh seseorang. Dalam berbagai tradisi dan praktik spiritual, warna aura bahkan kerap dikaitkan dengan kepribadian, kondisi emosi hingga keadaan seseorang.
Namun, bagaimana jika fenomena tersebut dilihat dari sudut pandang ilmiah ?
Hingga saat ini, belum terdapat bukti ilmiah yang kuat bahwa manusia memiliki “aura berwarna” di sekitar tubuh yang dapat digunakan untuk membaca kepribadian, emosi atau kondisi kesehatan seseorang secara langsung.
Salah satu teknologi yang sering dikaitkan dengan aura adalah fotografi Kirlian. Teknik ini menghasilkan pola cahaya di sekitar objek ketika objek berada dalam medan listrik bertegangan tinggi. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science menjelaskan bahwa gambar Kirlian pada dasarnya merekam aktivitas corona discharge atau pelepasan listrik korona. Variasi gambar tersebut antara lain dapat dipengaruhi oleh kelembapan pada permukaan tubuh.
Penelitian lain mengenai fotografi aura juga menyimpulkan bahwa gambar yang dihasilkan melalui Kirlian photography maupun teknik sejenis dapat dijelaskan melalui prinsip-prinsip fisika. Bukti yang tersedia belum cukup untuk menjadikan teknik tersebut sebagai metode diagnostik kesehatan atau alat untuk membaca kondisi seseorang.
Baca Juga: 7 Tanda Kamu Sebenarnya Bukan Orang Biasa, Auramu Langka Menurut Psikologi
Lalu, Mengapa Warna Sering Dikaitkan dengan Perasaan ?
Meski “aura berwarna” belum terbukti secara ilmiah, hubungan antara warna dan emosi memang menjadi objek penelitian psikologi.
Sebuah tinjauan sistematis yang diterbitkan dalam Psychonomic Bulletin & Review pada 2025 menganalisis 132 penelitian mengenai hubungan warna dan emosi yang melibatkan lebih dari 42 ribu peserta dari 64 negara.
Hasilnya menunjukkan adanya pola hubungan tertentu antara warna dan emosi. Warna kuning dan oranye, misalnya, cenderung dikaitkan dengan emosi positif dengan tingkat gairah yang lebih tinggi. Biru, hijau, biru-hijau dan putih lebih sering dikaitkan dengan emosi positif dengan tingkat gairah yang lebih rendah. Sementara itu, hitam dan abu-abu lebih sering memiliki asosiasi dengan emosi negatif.
Namun, para peneliti juga menekankan bahwa hubungan tersebut merupakan asosiasi psikologis, bukan bukti bahwa warna tertentu benar-benar keluar dari tubuh manusia sebagai aura.
Artinya, seseorang yang memilih warna biru atau merasa warna biru menggambarkan dirinya tidak otomatis memiliki “aura biru” secara biologis.
Bagaimana dengan Orang yang Mengaku Bisa Melihat Aura ?
Fenomena persepsi warna yang tidak biasa memang dikenal dalam ilmu saraf, salah satunya adalah sinestesia.
Sinestesia merupakan kondisi ketika rangsangan pada satu sistem sensorik atau proses kognitif dapat memunculkan pengalaman tambahan pada sistem lainnya. Dalam beberapa bentuk sinestesia, wajah atau orang yang dikenal bahkan dapat memunculkan persepsi warna tertentu di sekitar wajah atau kepala.
Dengan demikian, pengalaman seseorang melihat warna tertentu di sekitar orang lain tidak selalu harus dianggap sebagai bukti adanya energi aura. Dalam kondisi tertentu, pengalaman tersebut dapat berkaitan dengan cara otak memproses informasi sensorik dan emosional.
Penelitian mengenai affective synesthesia juga menemukan bahwa warna dapat memiliki hubungan dengan pengalaman emosional. Akan tetapi, pengalaman tersebut bersifat subjektif dan mekanismenya berbeda dari klaim bahwa setiap manusia mempunyai medan aura berwarna yang dapat dibaca untuk menentukan kepribadian.
Baca Juga: 7 Ciri Orang yang Punya Aura Kuat Menurut Psikologi, Kehadirannya Sering Langsung Terasa
Arti Warna Aura yang Populer di Masyarakat
Dalam praktik spiritual dan budaya populer, warna aura sering diberikan makna tertentu. Misalnya:
- Merah sering dikaitkan dengan keberanian, energi dan semangat.
- Oranye sering diasosiasikan dengan kreativitas dan antusiasme.
- Kuning kerap dianggap menggambarkan optimisme dan keceriaan.
- Hijau sering dikaitkan dengan keseimbangan, ketenangan dan kepedulian.
- Biru sering diasosiasikan dengan ketenangan dan komunikasi.
- Ungu sering dikaitkan dengan spiritualitas dan intuisi.
- Putih sering dianggap melambangkan ketenangan atau kemurnian.
- Hitam dalam sebagian kepercayaan dikaitkan dengan energi berat atau kondisi emosional tertentu.
Makna tersebut sebaiknya dipahami sebagai bagian dari kepercayaan atau simbolisme, bukan sebagai hasil pengukuran medis atau psikologis yang telah tervalidasi.
Jadi, Apakah Warna Aura Bisa Menentukan Kepribadian ?
Secara ilmiah, belum ada dasar yang cukup untuk menyimpulkan bahwa warna aura seseorang dapat digunakan untuk menentukan kepribadian atau kondisi kesehatan.
Yang memiliki dasar penelitian lebih kuat adalah bagaimana manusia memersepsikan dan mengasosiasikan warna dengan emosi. Bahkan hubungan tersebut dapat dipengaruhi oleh konteks, pengalaman pribadi, budaya, tingkat kecerahan, saturasi dan karakteristik warna itu sendiri.
Karena itu, ketika seseorang mengatakan memiliki aura biru, merah atau hijau, pernyataan tersebut lebih tepat ditempatkan dalam konteks spiritual, simbolik atau pengalaman subjektif.
Dari perspektif sains, hingga kini belum ada metode yang terbukti dapat memotret atau mengukur “warna aura” sebagai medan energi tubuh sekaligus menggunakannya untuk membaca kepribadian atau mendiagnosis kesehatan seseorang.
Editor : Bhagas Dani Purwoko