RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pernah membayangkan berbagai kemungkinan buruk sebelum menghadapi sesuatu? Misalnya, sebelum presentasi sudah terpikir akan salah bicara, sebelum bertemu seseorang khawatir percakapan berjalan canggung, atau sebelum bepergian justru sibuk memikirkan hal-hal yang mungkin tidak diinginkan.
Kebiasaan tersebut sebenarnya cukup manusiawi. Otak memiliki kecenderungan untuk memikirkan kemungkinan ancaman sebagai bagian dari upaya mempersiapkan diri menghadapi situasi yang belum pasti.
Baca Juga: Angka Cerai di Bojonegoro Naik 11 Persen
Otak Berusaha Mengantisipasi Ancaman
Ketika menghadapi sesuatu yang belum diketahui hasilnya, pikiran dapat membuat berbagai skenario. Dalam kondisi tertentu, membayangkan kemungkinan masalah bisa membantu seseorang mempersiapkan rencana cadangan.
Misalnya, seseorang yang akan melakukan presentasi mungkin membayangkan kemungkinan lupa materi. Ia kemudian menyiapkan catatan atau berlatih lebih banyak. Dalam konteks ini, memikirkan kemungkinan buruk dapat mendorong persiapan.
Masalahnya muncul ketika kemungkinan buruk terus diputar di kepala tanpa menghasilkan langkah penyelesaian.
Baca Juga: Tak Ingin Remehkan Lawan di Grup Tengah, Persibo Maksimalkan Persiapan Jelang Kickoff Liga Nusantara
Ketidakpastian Bisa Memicu Kekhawatiran
Situasi yang hasilnya sulit diprediksi juga dapat membuat seseorang lebih banyak berpikir tentang “bagaimana jika”.
Pikiran kemudian bergerak dari satu kemungkinan ke kemungkinan lain. “Bagaimana kalau gagal?” bisa berkembang menjadi “Bagaimana kalau orang lain menilai saya buruk?” hingga “Bagaimana kalau semuanya berantakan?”
Padahal, skenario tersebut belum tentu terjadi.
Menurut American Psychological Association, kekhawatiran pada dasarnya merupakan bentuk pemikiran yang berorientasi pada masa depan dan sering berkaitan dengan kemungkinan adanya ancaman atau hasil yang tidak diinginkan.
Tidak Selalu Berarti Anda Pesimistis
Orang yang sering membayangkan skenario buruk belum tentu memiliki kepribadian pesimistis. Kebiasaan tersebut bisa muncul karena pengalaman sebelumnya, tingkat ketidakpastian yang sedang dihadapi, atau kecenderungan seseorang untuk memikirkan berbagai kemungkinan secara mendalam.
Yang perlu diperhatikan adalah seberapa sering pikiran tersebut muncul dan seberapa besar pengaruhnya terhadap kehidupan sehari-hari.
Jika kekhawatiran membuat seseorang sulit tidur, sulit berkonsentrasi, menghindari aktivitas tertentu, atau mengganggu pekerjaan dan hubungan sosial, kondisi tersebut sudah berbeda dari sekadar memikirkan kemungkinan buruk sesekali.
Baca Juga: Membedah Formula Bercerita Ala Short Dracin yang Bikin Penonton Penasaran
Coba Bedakan Persiapan dan Kekhawatiran
Salah satu cara sederhana adalah melihat apakah pikiran tersebut menghasilkan tindakan.
Jika berpikir, “Bagaimana kalau hujan?” kemudian Anda membawa payung, itu merupakan bentuk persiapan.
Namun, jika pikiran yang sama berkembang menjadi rangkaian kemungkinan buruk yang terus berulang tanpa solusi, seseorang mungkin sedang terjebak dalam kekhawatiran.
Karena itu, ketika skenario buruk muncul, coba tanyakan pada diri sendiri: “Apakah ada sesuatu yang bisa saya lakukan sekarang?”
Jika ada, fokus pada tindakan yang dapat dilakukan. Jika tidak ada, mengingat bahwa sebuah kemungkinan belum tentu menjadi kenyataan dapat membantu menjaga pikiran tetap berpijak pada kondisi saat ini. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari