RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pernah melihat anak yang terlihat sopan dan penurut ketika berada di sekolah, tetapi justru sering membantah saat berada di rumah?
Kondisi ini sering membuat orang tua bertanya-tanya. Apakah anak memang lebih sulit diatur di rumah?
Ternyata, anak yang sering membantah orang tua tidak selalu berarti anak nakal atau tidak menghormati orang tuanya. Ada beberapa alasan psikologis yang dapat menjelaskan perilaku tersebut.
1. Anak Merasa Aman di Rumah
Rumah biasanya menjadi tempat anak merasa paling nyaman. Karena itu, anak lebih bebas menunjukkan emosinya kepada orang tua, termasuk ketika sedang marah, kecewa atau lelah.
Baca Juga: 7 Cara Membesarkan Anak Laki-Laki agar Tumbuh Percaya Diri dan Tidak Bingung dengan Dirinya
Itulah sebabnya anak yang terlihat tenang di luar rumah bisa berubah menjadi lebih rewel ketika bertemu orang tua.
2. Sedang Belajar Mandiri
Seiring bertambahnya usia, anak mulai memiliki keinginan sendiri.
Ketika orang tua meminta sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya, anak mungkin mengatakan “tidak”, membantah atau mempertanyakan keputusan tersebut.
Perilaku ini bisa menjadi bagian dari proses anak belajar memiliki pilihan dan pendapat sendiri.
3. Belum Pandai Mengelola Emosi
Anak belum selalu mampu menjelaskan perasaannya dengan baik.
Rasa kecewa atau marah terkadang justru muncul dalam bentuk berteriak, menangis atau membantah.
Karena itu, orang tua dapat membantu anak mengenali emosinya sekaligus mengajarkan cara menyampaikannya dengan lebih baik.
4. Ingin Didengarkan
Anak juga bisa menjadi lebih keras ketika merasa pendapatnya tidak pernah didengar.
Bukan berarti orang tua harus selalu mengikuti keinginan anak. Namun, memberikan kesempatan kepada anak untuk menjelaskan alasan di balik penolakannya dapat membuat komunikasi menjadi lebih baik.
Baca Juga: 8 Cara Membesarkan Anak Laki-Laki agar Tumbuh Percaya Diri dan Bertanggung Jawab
Misalnya, daripada langsung mengatakan “Jangan membantah!”, orang tua bisa mengatakan, “Kamu boleh tidak setuju, tapi coba jelaskan alasannya.”
Jangan Langsung Memberi Label “Anak Nakal”
Membantah memang perlu diarahkan, terutama jika sudah disertai perilaku seperti memukul, menghina atau merusak barang.
Namun, memberikan label seperti “anak nakal” atau “anak pembangkang” bukan solusi untuk mengajarkan perilaku yang lebih baik.
Yang perlu dipelajari anak adalah bahwa memiliki pendapat berbeda itu boleh, tetapi tetap harus disampaikan dengan cara yang menghormati orang lain.
Jadi, ketika anak lebih sering melawan orang tua daripada orang lain, jangan buru-buru menganggapnya sebagai tanda bahwa anak tidak menghormati keluarga.
Bisa jadi, anak sedang belajar mandiri, mengelola emosi, sekaligus mencari cara untuk menyampaikan apa yang sebenarnya ia rasakan. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko