7 Kalimat yang Boleh dan Tidak Boleh Diucapkan kepada Anak, Salah Ucap Bisa Ganggu Pertumbuhannya

Andhika Feriawan • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 15:00 WIB
Salah mengucapkan kalimat yang kurang baik bisa mempengaruhi emosi hingga rasa percaya diri anak. (MAGNIFIC/ANDHIKA FERIAWAN/RADAR BOJONEGORO)
Salah mengucapkan kalimat yang kurang baik bisa mempengaruhi emosi hingga rasa percaya diri anak. (MAGNIFIC/ANDHIKA FERIAWAN/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Cara orang tua berbicara kepada anak ternyata dapat memengaruhi perkembangan emosional, rasa percaya diri, hingga cara anak memandang dirinya sendiri. Karena itu, pemilihan kalimat dalam berkomunikasi dengan anak menjadi salah satu hal penting yang perlu diperhatikan.

Ucapan yang terdengar sederhana bagi orang dewasa belum tentu diterima dengan cara yang sama oleh anak. Kalimat yang terlalu keras, merendahkan atau sering membandingkan anak dengan orang lain dapat membuat anak merasa tidak dihargai.

Sebaliknya, kalimat yang memberikan dukungan dan rasa aman dapat membantu anak membangun kepercayaan diri serta belajar mengelola emosinya.

Berikut tujuh contoh kalimat yang sebaiknya digunakan dan dihindari orang tua ketika berbicara dengan anak.

1. “Ayah/Ibu tahu kamu sedang kesal” – Boleh

Kalimat ini membantu anak merasa bahwa emosinya didengar dan diterima. Orang tua tidak harus selalu menyetujui perilaku anak, tetapi dapat mengakui perasaannya terlebih dahulu.

Baca Juga: 8 Tips Mengajarkan Anak Bijak Mengatur Uang Saku Sejak Dini

“Jangan cengeng begitu!” – Sebaiknya dihindari

Menyebut anak cengeng ketika menangis dapat membuat anak menganggap bahwa menunjukkan emosi adalah sesuatu yang salah. Dalam jangka panjang, anak bisa kesulitan mengenali dan mengungkapkan perasaannya.

2. “Tidak apa-apa kalau kamu melakukan kesalahan, mari kita coba lagi” – Boleh

Kalimat tersebut mengajarkan bahwa kesalahan merupakan bagian dari proses belajar. Anak juga dapat terdorong untuk mencoba kembali tanpa terlalu takut gagal.

“Kamu memang selalu bikin masalah” – Sebaiknya dihindari

Ucapan yang memberikan label negatif kepada anak dapat membuatnya merasa dirinya adalah sumber masalah. Lebih baik orang tua mengoreksi perilakunya secara spesifik daripada menyerang kepribadian anak.

3. “Ibu bangga kamu sudah berusaha” – Boleh

Memberikan apresiasi terhadap usaha dapat membantu anak memahami bahwa proses dan ketekunan juga penting, bukan hanya hasil akhir.

“Lihat, temanmu saja bisa. Kenapa kamu tidak?” – Sebaiknya dihindari

Membandingkan anak dengan orang lain berpotensi membuat anak merasa tidak cukup baik. Kebiasaan tersebut juga dapat memicu rasa minder dan persaingan yang tidak sehat.

4. “Kamu boleh bilang tidak kalau merasa tidak nyaman” – Boleh

Kalimat ini dapat membantu anak belajar mengenali batas dirinya. Anak juga perlu memahami bahwa ia berhak mencari bantuan ketika menghadapi situasi yang membuatnya takut atau tidak nyaman.

Baca Juga: Ingin Anak Terbuka pada Orang Tua? Belajar Validasi Emosinya Sejak Kecil

“Kamu harus selalu menuruti orang dewasa” – Sebaiknya dihindari

Anak memang perlu belajar menghormati orang lain, tetapi tetap penting mengajarkan batasan, keamanan diri, dan kemampuan mengatakan tidak dalam situasi tertentu.

5. “Coba ceritakan apa yang terjadi” – Boleh

Alih-alih langsung memarahi, orang tua dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk menjelaskan. Cara ini dapat membangun komunikasi yang lebih terbuka dalam keluarga.

“Diam! Jangan banyak alasan” – Sebaiknya dihindari

Ucapan tersebut dapat membuat anak merasa pendapatnya tidak penting. Jika terus dilakukan, anak mungkin menjadi enggan bercerita kepada orang tua ketika menghadapi masalah.

6. “Kamu tetap disayangi meskipun melakukan kesalahan” – Boleh

Anak perlu memahami bahwa kasih sayang orang tua tidak hilang hanya karena ia melakukan kesalahan. Setelah itu, orang tua tetap dapat memberikan konsekuensi yang sesuai terhadap perilakunya.

“Kalau kamu begitu, Ayah/Ibu tidak sayang lagi” – Sebaiknya dihindari

Ancaman kehilangan kasih sayang dapat membuat anak merasa tidak aman secara emosional. Anak sebaiknya memahami bahwa yang perlu diperbaiki adalah perilakunya, bukan nilai dirinya sebagai seorang anak.

7. “Menurut kamu, bagaimana cara memperbaikinya?” – Boleh

Pertanyaan tersebut mengajak anak berpikir mengenai solusi dan bertanggung jawab terhadap tindakannya. Anak juga memiliki kesempatan untuk belajar mengambil keputusan.

“Kamu memang anak nakal” – Sebaiknya dihindari

Memberikan label seperti “nakal”, “bodoh” atau “malas” dapat melekat dalam cara anak melihat dirinya sendiri. Lebih baik orang tua menyebut perilaku yang perlu diperbaiki, misalnya, “Tindakanmu tadi tidak tepat, mari kita cari cara memperbaikinya.”

Pada dasarnya, tidak ada orang tua yang selalu bisa memilih kata dengan sempurna. Orang tua pun dapat kehilangan kesabaran dalam situasi tertentu. Namun, apabila terlanjur mengucapkan kalimat yang menyakitkan, orang tua dapat meminta maaf dan menjelaskan kembali maksudnya kepada anak.

Komunikasi yang hangat, konsisten dan sesuai usia anak dapat menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan keluarga yang membuat anak merasa aman untuk belajar, bertanya, melakukan kesalahan dan berkembang. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
anak berbicara orang tua pertumbuhan parenting