Ingin Anak Terbuka pada Orang Tua? Belajar Validasi Emosinya Sejak Kecil

Farhan Reza Ardiansyah • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 15:32 WIB
Ilustrasi Ibu dan anak perempuan
Ilustrasi Ibu dan anak perempuan

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Mendengarkan emosi anak mungkin terlihat sederhana, tetapi kebiasaan ini dapat membantu anak mengenali dan memahami perasaannya sendiri. Ketika orang tua mau mendengarkan tanpa langsung menghakimi, anak juga dapat merasa lebih aman untuk bercerita.

Validasi emosi bukan berarti orang tua harus selalu menyetujui perilaku anak. Hal yang perlu diterima adalah perasaan yang sedang dialami, sementara perilaku tetap dapat diarahkan.

Misalnya, ketika anak menangis karena tidak mendapatkan mainan yang diinginkan, orang tua bisa mengatakan, "Kamu kecewa karena belum bisa mendapatkan mainan itu, ya."

Kalimat sederhana tersebut menunjukkan bahwa orang tua memahami perasaan anak tanpa harus langsung memenuhi keinginannya.

Baca Juga: Sering Bilang “Jangan Nangis” pada Anak? Hati-Hati, Mereka Bisa Belajar Memendam Emosi

Mengapa Validasi Emosi Penting?

Anak masih belajar mengenali berbagai macam emosi. Rasa marah, kecewa, takut, sedih, atau cemburu terkadang muncul dalam bentuk tangisan maupun perilaku yang sulit dipahami orang tua.

Jika setiap emosi langsung dianggap sebagai sesuatu yang buruk, anak bisa kesulitan memahami apa yang sebenarnya sedang dirasakan.

Sebaliknya, ketika orang tua membantu memberi nama pada emosi tersebut, anak perlahan belajar bahwa setiap perasaan memiliki nama dan dapat dibicarakan.

Dengarkan Sebelum Memberikan Nasihat

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah orang tua terlalu cepat memberikan solusi.

Ketika anak bercerita tentang masalahnya, orang tua sebenarnya tidak selalu harus langsung mencari jalan keluar. Terkadang, anak hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.

Orang tua bisa memberikan respons sederhana seperti, "Ibu mengerti kamu sedang sedih," atau "Wajar kalau kamu merasa kecewa."

Setelah anak merasa didengarkan, barulah orang tua dapat mengajaknya mencari solusi bersama.

Hindari Membandingkan Perasaan Anak

Kalimat seperti "Jangan menangis, masalahnya kecil" atau "Kakak saja tidak takut" mungkin terdengar sepele, tetapi dapat membuat anak merasa emosinya tidak penting.

Setiap anak memiliki cara dan kemampuan berbeda dalam menghadapi situasi tertentu.

Daripada membandingkan, orang tua dapat membantu anak memahami penyebab emosinya dan mengajarkan cara mengelolanya.

Baca Juga: Jangan Selalu Bilang 'Anak Laki-Laki Harus Kuat', Begini 7 Cara Mengajarkan Anak Mengelola Emosi

Validasi Bukan Berarti Membiarkan Semua Perilaku

Orang tua tetap perlu memberikan batasan. Anak boleh merasa marah, tetapi bukan berarti boleh memukul orang lain.

Contohnya, orang tua dapat mengatakan, "Kamu boleh marah, tetapi tidak boleh memukul. Kalau sedang marah, kita bisa bicara atau menenangkan diri dulu."

Dengan pendekatan tersebut, anak belajar bahwa emosinya diterima, tetapi perilakunya tetap memiliki batas.

Membantu Anak Tumbuh Lebih Percaya Diri

Ketika anak merasa didengar dan diterima, mereka dapat memiliki ruang yang lebih aman untuk mengungkapkan perasaan maupun pikirannya. Kebiasaan ini juga dapat membantu membangun komunikasi antara orang tua dan anak. Anak menjadi lebih terbiasa datang kepada orang tua ketika menghadapi masalah.

Pada akhirnya, validasi emosi bukan tentang selalu mengatakan "iya" kepada anak. Ini merupakan cara orang tua menunjukkan bahwa perasaan anak layak didengar, sekaligus membantu mereka belajar mengelola emosi dengan cara yang lebih sehat.

Kebiasaan sederhana seperti mendengarkan, memberi nama pada emosi, dan tidak terburu-buru menghakimi dapat menjadi bagian penting dalam membangun hubungan yang lebih dekat antara orang tua dan anak. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
validasi emosi emosi anak orang tua terbuka