RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Anak-anak pun mulai berhadapan dengan berbagai teknologi berbasis AI, mulai dari mesin pencari, aplikasi belajar, chatbot, hingga berbagai platform yang dapat membantu membuat teks, gambar, dan mencari informasi.
Kondisi ini membuat banyak orang tua bertanya-tanya: apakah anak perlu dibiasakan menggunakan AI sejak dini?
Jawabannya tidak sesederhana boleh atau tidak. AI dapat menjadi alat yang membantu proses belajar anak, tetapi penggunaannya tetap membutuhkan batasan dan pendampingan orang tua.
AI Bisa Menjadi Alat Belajar Anak
Jika digunakan dengan tepat, AI dapat membantu anak memahami berbagai hal yang sebelumnya sulit mereka mengerti.
Anak misalnya dapat meminta penjelasan mengenai materi pelajaran dengan bahasa yang lebih sederhana. Mereka juga bisa menggunakan AI untuk mencari contoh, membuat latihan soal, atau mendapatkan ide ketika mengalami kesulitan memahami sebuah topik.
Namun, orang tua sebaiknya tidak menjadikan AI sebagai pengganti proses belajar.
Anak tetap perlu membaca, mencoba mengerjakan soal, berdiskusi, dan mencari jawaban sendiri. AI sebaiknya ditempatkan sebagai alat bantu, bukan mesin yang selalu memberikan jawaban akhir.
Jangan Biasakan Anak Langsung Percaya Jawaban AI
Salah satu hal penting yang perlu diajarkan kepada anak adalah bahwa AI tidak selalu benar.
Sistem AI dapat menghasilkan informasi yang keliru, tidak lengkap, atau tidak sesuai dengan konteks pertanyaan. Karena itu, anak perlu dibiasakan untuk memeriksa kembali informasi yang diperoleh.
Orang tua bisa mengajarkan kebiasaan sederhana seperti membandingkan jawaban AI dengan buku pelajaran, situs resmi, atau bertanya kepada guru.
Kebiasaan tersebut juga membantu anak mengembangkan kemampuan berpikir kritis.
Anak Tetap Perlu Belajar Menyelesaikan Masalah Sendiri
Kemudahan mendapatkan jawaban dari AI juga memiliki tantangan tersendiri.
Jika setiap kali menghadapi kesulitan anak langsung meminta AI menyelesaikan masalah, mereka bisa kehilangan kesempatan untuk berlatih berpikir dan mencoba berbagai solusi.
Karena itu, orang tua dapat menerapkan aturan sederhana.
Misalnya, anak diminta mencoba menyelesaikan tugas terlebih dahulu. Jika masih mengalami kesulitan, barulah AI digunakan untuk memberikan petunjuk atau penjelasan.
Baca Juga: 7 Cara Membesarkan Anak Laki-Laki agar Tumbuh Percaya Diri dan Tidak Bingung dengan Dirinya
Dengan cara tersebut, AI tidak mengambil alih proses berpikir anak.
Ajarkan Anak Cara Menggunakan AI dengan Bijak
Daripada hanya melarang, orang tua dapat mengenalkan cara menggunakan AI secara bertanggung jawab.
Beberapa kebiasaan yang bisa diajarkan antara lain:
-
Gunakan AI untuk belajar, bukan sekadar mencari jawaban.
-
Periksa kembali informasi yang diberikan AI.
-
Jangan memasukkan data pribadi ke dalam chatbot.
-
Jangan menjadikan AI sebagai pengganti guru, orang tua, atau teman.
-
Tetap luangkan waktu untuk membaca dan berpikir tanpa bantuan teknologi.
-
Gunakan AI sesuai usia dan kebutuhan anak.
Pendekatan seperti ini membuat anak tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memahami batasan dan risikonya.
Orang Tua Tetap Punya Peran Penting
Semakin canggih teknologi, peran orang tua justru tetap penting.
Anak membutuhkan seseorang yang dapat membantu mereka memahami apakah informasi yang ditemukan masuk akal, apakah sumbernya dapat dipercaya, dan bagaimana menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Orang tua juga dapat mengajak anak berdiskusi setelah menggunakan AI.
Misalnya dengan bertanya, "Menurut kamu, jawaban AI tadi benar atau tidak?" atau "Bagaimana kita bisa memastikan informasi itu benar?"
Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu anak terbiasa berpikir kritis.
Baca Juga: Anak Selalu Menunggu Disuruh? Bisa Jadi Terbiasa Tak Diberi Kesempatan Memilih
Jadi, Perlukah Anak Dibiasakan Menggunakan AI?
Mengenalkan AI kepada anak dapat dilakukan secara bertahap dan sesuai usia. Yang lebih penting bukan seberapa cepat anak mulai menggunakan AI, melainkan bagaimana mereka menggunakannya.
AI dapat menjadi alat yang bermanfaat untuk belajar jika digunakan secara terarah. Sebaliknya, penggunaan tanpa pendampingan dapat membuat anak terlalu bergantung pada teknologi dan kurang terbiasa menyelesaikan masalah secara mandiri.
Karena itu, orang tua tidak harus sepenuhnya menjauhkan anak dari AI. Yang dibutuhkan adalah pendampingan, aturan yang jelas, dan kebiasaan memeriksa kembali informasi.
Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Kemampuan anak untuk berpikir, bertanya, mencoba, berkomunikasi, dan mengambil keputusan tetap perlu dibangun melalui pengalaman nyata. (*)
Editor : Farhan Reza Ardiansyah