RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Tangisan bayi atau anak sering kali langsung ingin dihentikan oleh orang dewasa. Kalimat seperti “ssshht”, “cup-cup”, “sudah, jangan nangis”, hingga “diam” mungkin terdengar sepele dan bahkan menjadi kebiasaan yang dilakukan hampir setiap hari di rumah. Namun, cara orang dewasa merespons emosi anak ternyata menjadi bagian dari proses belajar anak dalam mengenali dan mengelola perasaannya.
Bukan berarti setiap kali orang tua atau kakek-nenek meminta anak berhenti menangis akan menyebabkan masalah emosional. Yang perlu diperhatikan adalah pola respons yang berulang, terutama ketika kesedihan, ketakutan, kemarahan, atau kekecewaan anak terus dianggap sebagai sesuatu yang harus segera dihentikan.
Dalam psikologi perkembangan, proses tersebut dikenal sebagai emotion socialization, yaitu bagaimana anak belajar tentang emosi melalui respons dan contoh dari orang-orang di sekitarnya.
Baca Juga: Anak Takut Mengambil Keputusan, 5 Kebiasaan Orang Tua Ini Perlu Dievaluasi
Anak Belajar dari Cara Orang Dewasa Merespons Tangisnya
Ketika anak menangis, orang dewasa sebenarnya sedang mendapatkan kesempatan untuk membantu anak memahami apa yang sedang terjadi pada dirinya.
Misalnya, anak menangis karena mainannya rusak. Respons orang dewasa tidak hanya menentukan apakah anak akan berhenti menangis saat itu, tetapi juga dapat menjadi pengalaman yang membantu anak memahami bahwa rasa kecewa merupakan emosi yang bisa dikenali dan dikelola.
Sebaliknya, jika ekspresi emosi berulang kali langsung dihentikan atau dianggap berlebihan, anak bisa kehilangan kesempatan untuk belajar memahami perasaan tersebut.
Baca Juga: Ingin Anak Laki-Laki Tumbuh Jadi Pria Baik? Tanamkan 7 Kebiasaan Ini Sejak Kecil
Sebuah systematic review yang diterbitkan pada 2024 menelaah 26 penelitian mengenai bagaimana orang tua melakukan emotion socialization terhadap emosi negatif anak. Hasilnya menunjukkan adanya hubungan antara respons orang tua terhadap emosi anak dengan kemampuan regulasi emosi mereka. Respons yang tidak mendukung berkaitan dengan lebih banyak kesulitan regulasi emosi, sedangkan respons yang mendukung berkaitan dengan kemampuan regulasi emosi yang lebih baik. (Garcia dkk., 2024)
Bukan Tangisannya yang Menjadi Masalah
Hal penting yang perlu dipahami adalah menangis bukan perilaku yang harus selalu dihentikan.
Anak menangis ketika sedih, takut, kesakitan, kecewa, frustrasi, atau kewalahan. Tangisan merupakan salah satu bentuk ekspresi emosi, terutama ketika kemampuan bahasa anak belum cukup untuk menjelaskan apa yang dirasakannya.
Karena itu, yang menjadi perhatian bukan sekadar apakah anak menangis atau tidak, tetapi bagaimana orang dewasa merespons tangisan tersebut.
Dalam penelitian mengenai emotion socialization, respons yang tidak mendukung dapat berupa meminimalkan emosi anak, menghukum ekspresi emosi, atau membuat anak merasa bahwa emosi negatif tidak seharusnya ditunjukkan.
Penelitian lain terhadap anak usia prasekolah juga menemukan bahwa respons orang tua yang meminimalkan atau menghukum ekspresi emosi negatif dapat mengurangi kesempatan anak untuk mengembangkan strategi regulasi emosi yang adaptif.
Dengan kata lain, anak tidak harus dibiarkan menangis tanpa batas. Orang tua tetap dapat membantu anak menenangkan diri dan mengajarkan perilaku yang tepat. Namun, proses menenangkan tersebut berbeda dengan membuat anak merasa bahwa kesedihan atau tangisannya adalah sesuatu yang salah.
Baca Juga: 10 Tips Membesarkan Anak Laki-Laki di Era Digital agar Terhindar dari Pengaruh Negatif Media Sosial
Kalau Terus Disuruh Diam, Apa yang Bisa Dipelajari Anak?
Ketika pola tersebut terjadi berulang kali, anak dapat belajar bahwa menunjukkan emosi tertentu tidak mendapatkan respons yang nyaman dari lingkungan.
Pada sebagian anak, hal ini dapat berhubungan dengan kecenderungan untuk menekan atau menyembunyikan ekspresi emosinya.
Penelitian yang melibatkan remaja menemukan adanya hubungan antara emotion invalidation dari orang tua dan kesulitan regulasi emosi pada anak. Dalam studi tersebut, semakin banyak invalidasi yang dirasakan remaja, semakin besar pula kesulitan regulasi emosi yang dilaporkan. Kesulitan regulasi emosi tersebut kemudian berkaitan dengan masalah internalisasi maupun eksternalisasi. (Buckholdt, Parra, & Jobe-Shields, 2014)
Penelitian lain yang lebih baru juga menemukan hubungan antara nonsupportive emotion socialization dan masalah internalisasi pada anak serta remaja. Meta-analisis yang diterbitkan pada 2025 mencakup 47 studi dengan 10.970 partisipan. Hasilnya menunjukkan hubungan positif tingkat sedang antara perilaku emotion socialization yang tidak mendukung dan masalah internalisasi, seperti kecenderungan mengalami gejala kecemasan atau depresi. (Brumariu dkk., 2025)
Baca Juga: Anak Lebih Sering Bertanya kepada Ayah atau Ibu? Kebiasaan Ini Bisa Menggambarkan Pola Komunikasinya
Namun, temuan tersebut tidak berarti anak yang sering dilarang menangis pasti akan mengalami masalah tersebut. Perkembangan emosi dipengaruhi banyak faktor, termasuk karakter anak, hubungan dengan pengasuh, lingkungan sosial, pengalaman hidup, dan berbagai faktor lainnya.
Bukan Berarti Anak Pasti Takut Bicara Saat Dewasa
Di sinilah orang tua perlu berhati-hati dalam memahami hubungan antara tangisan dan kemampuan anak berbicara tentang perasaan.
Tidak ada dasar yang cukup untuk mengatakan bahwa “anak yang sering dilarang menangis pasti akan menjadi orang dewasa yang takut berbicara.”
Hubungannya jauh lebih kompleks.
Yang lebih masuk akal berdasarkan penelitian adalah bahwa pengalaman berulang dalam keluarga dapat ikut membentuk cara anak memahami emosi. Jika sejak kecil anak terbiasa mendapatkan respons yang membuatnya merasa bahwa emosi negatif harus disembunyikan, pada sebagian anak hal tersebut dapat berkontribusi terhadap kecenderungan menekan ekspresi emosi atau mengalami kesulitan dalam mengomunikasikan perasaan.
Penelitian pada remaja bahkan menemukan bahwa expressive suppression, atau kecenderungan menekan ekspresi emosi, menjadi salah satu jalur yang berkaitan dengan hubungan antara pola emotion socialization yang tidak mendukung dan masalah internalisasi.
Jadi, persoalannya bukan sekadar apakah anak menangis hari ini. Yang lebih penting adalah pesan emosional apa yang terus diterima anak selama bertahun-tahun.
Baca Juga: Yang Bisa Dilakukan Orang Tua Pekerja agar Anak Tidak Merasa Ditinggalkan
Pola Ini Bisa Terbawa dari Generasi Sebelumnya
Menariknya, penelitian juga menemukan kemungkinan adanya pola emotion invalidation yang berlanjut antargenerasi.
Sebuah penelitian terhadap 293 keluarga di Singapura menemukan bukti bahwa pengalaman invalidasi yang dialami orang tua ketika mereka masih kecil dapat berkaitan dengan pola invalidasi dalam pengasuhan generasi berikutnya. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa kesulitan orang tua dalam mengatur emosinya sendiri berperan dalam hubungan tersebut.
Temuan ini memberikan perspektif menarik untuk memahami kebiasaan yang masih sering ditemui dalam keluarga.
Orang tua atau kakek-nenek mungkin terbiasa mengatakan “jangan nangis”, “diam”, atau “sudah, tidak usah menangis” bukan karena ingin menyakiti anak. Bisa jadi mereka sendiri tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan bahwa menangis harus segera dihentikan.
Karena itu, pola pengasuhan tertentu dapat terus berulang tanpa pernah benar-benar dipertanyakan.
Editor : Hakam Alghivari