Kenapa Anak Punya Kebiasaan yang Mirip Orang Tuanya? Bisa Jadi Mereka Sedang Belajar dari Rumah

Hakam Alghivari • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 19:34 WIB
Anak laki laki harus dibekali literasi keuangan. (MAGNIFIC/ANDHIKA FERIAWAN/RADAR BOJONEGORO)
Anak laki laki harus dibekali literasi keuangan. (MAGNIFIC/ANDHIKA FERIAWAN/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pernah merasa heran ketika kebiasaan anak ternyata mirip dengan orang tuanya, padahal tidak pernah sengaja diajarkan? Mulai dari cara menghadapi masalah, merespons kesalahan, sampai kebiasaan kecil dalam kehidupan sehari-hari, anak bisa menyerap banyak hal dari apa yang mereka lihat di rumah.

Anak memang belajar melalui banyak cara. Namun, salah satu proses yang paling dekat dengan kesehariannya adalah mengamati perilaku orang-orang di sekitarnya. Apa yang dilakukan orang tua berulang kali dapat menjadi contoh yang diperhatikan dan kemudian ditiru anak.

Baca Juga: Anak Takut Mengambil Keputusan, 5 Kebiasaan Orang Tua Ini Perlu Dievaluasi 

Karena itu, tidak semua hal yang dilakukan anak terbentuk dari nasihat atau aturan yang diberikan orang tua. Sebagian justru dapat terbentuk dari kebiasaan yang mereka saksikan setiap hari.

Anak belajar dengan mengamati

Pada masa pertumbuhan, anak banyak memperoleh informasi dengan memperhatikan lingkungan. Orang tua menjadi salah satu sosok yang paling sering mereka lihat, sehingga perilaku yang dilakukan berulang kali dapat menjadi sesuatu yang familiar bagi anak.

Cara orang tua menghadapi situasi sulit, menunjukkan emosi, memperlakukan anggota keluarga, hingga merespons orang lain dapat menjadi bagian dari proses belajar tersebut.

Misalnya, anak yang sering melihat orang tuanya menyelesaikan masalah dengan tenang dapat memiliki gambaran bahwa persoalan bisa dihadapi tanpa reaksi berlebihan. Sebaliknya, jika anak berulang kali menyaksikan respons yang penuh kemarahan atau kepanikan, pola tersebut juga dapat dianggap sebagai cara yang biasa dilakukan ketika menghadapi tekanan.

Baca Juga: Yang Bisa Dilakukan Orang Tua Pekerja agar Anak Tidak Merasa Ditinggalkan

Hal ini bukan berarti anak akan selalu meniru setiap perilaku orang tua. Namun, pengulangan membuat suatu perilaku semakin mudah dikenali dan dipelajari.

Bukan hanya kebiasaan baik yang bisa ditiru

Sering kali orang tua berusaha mengajarkan perilaku yang baik kepada anak, tetapi lupa bahwa anak juga memperhatikan perilaku yang muncul secara spontan.

Kebiasaan mengeluh ketika menghadapi pekerjaan, mudah menyalahkan diri sendiri ketika melakukan kesalahan, menghindari persoalan yang tidak menyenangkan, atau melampiaskan emosi setelah mengalami hari yang berat juga dapat diamati anak.

Anak mungkin belum memahami alasan orang dewasa melakukan hal tersebut. Namun, mereka dapat menangkap pola bahwa perilaku tertentu muncul ketika seseorang sedang menghadapi situasi tertentu.

Inilah mengapa perilaku sehari-hari di rumah dapat menjadi pembelajaran yang sama kuatnya dengan nasihat.

Cara orang tua memperlakukan diri sendiri juga diperhatikan

Hal lain yang kerap luput adalah cara orang tua berbicara dan memperlakukan dirinya sendiri.

Ketika seseorang terbiasa meremehkan kemampuan dirinya, terlalu takut melakukan kesalahan, atau menunjukkan ketidakpuasan berlebihan terhadap dirinya sendiri, anak dapat menyaksikan pola tersebut berulang kali.

Seiring waktu, anak bisa belajar bahwa kesalahan harus disikapi dengan menyalahkan diri sendiri atau bahwa penampilan dan kemampuan seseorang menentukan seberapa berharga dirinya.

Karena itu, memberi contoh bukan hanya tentang menunjukkan perilaku kepada orang lain. Cara orang tua memperlakukan dirinya sendiri juga dapat menjadi bagian dari apa yang dipelajari anak.

Baca Juga: Anak Lebih Sering Bertanya kepada Ayah atau Ibu? Kebiasaan Ini Bisa Menggambarkan Pola Komunikasinya

Anak tidak selalu meniru secara langsung

Menariknya, hasil pengamatan anak tidak selalu muncul dalam bentuk perilaku yang sama persis.

Apa yang mereka lihat dapat memengaruhi cara mereka memahami situasi dan menentukan respons. Anak yang sering melihat orang dewasa menyelesaikan konflik dengan menghindar, misalnya, dapat belajar bahwa menjauh merupakan salah satu cara menghadapi persoalan.

Begitu pula ketika anak melihat orang tua selalu meminta bantuan orang lain untuk menyelesaikan persoalan. Anak dapat menangkap bahwa mencari bantuan merupakan hal yang wajar ketika menghadapi sesuatu yang sulit.

Artinya, yang dipelajari anak bukan hanya sebuah tindakan, tetapi juga pola di balik tindakan tersebut.

Bukan berarti semua kebiasaan anak berasal dari orang tua

Meski rumah menjadi salah satu lingkungan belajar yang penting, orang tua bukan satu-satunya sumber perilaku anak.

Teman sebaya, sekolah, media, lingkungan sosial, pengalaman pribadi, serta karakter masing-masing anak juga dapat memengaruhi perkembangan perilakunya.

Karena itu, ketika menemukan kebiasaan anak yang mirip dengan dirinya, orang tua tidak perlu langsung menyalahkan diri sendiri. Hal tersebut dapat menjadi kesempatan untuk melihat kembali kebiasaan apa saja yang setiap hari diperlihatkan kepada anak.

Sebab, dalam kehidupan sehari-hari, anak mungkin tidak selalu mengingat nasihat yang diberikan orang tua, tetapi mereka sangat mungkin mengingat apa yang sering mereka lihat dilakukan orang dewasa di rumah. (kam/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
kebiasaan anak orang tua Meniru