10 Tips Membesarkan Anak Laki-Laki di Era Digital agar Terhindar dari Pengaruh Negatif Media Sosial

Andhika Feriawan • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 19:30 WIB
Tips membesarkan anak laki laki dengan membatasi informasi yang masuk di era digital. (MAGNIFIC/ANDHIKA FERIAWAN/RADAR BOJONEGORO)
Tips membesarkan anak laki laki dengan membatasi informasi yang masuk di era digital. (MAGNIFIC/ANDHIKA FERIAWAN/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Di era digital, media sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak. Karena itu, orang tua perlu membekali anak laki-laki dengan kemampuan memilih informasi, mengendalikan penggunaan gawai, serta memahami risiko dari dunia maya.

Perkembangan teknologi membuat anak semakin mudah mengakses berbagai informasi melalui smartphone, tablet, maupun komputer. Media sosial juga menawarkan beragam konten yang dapat memberikan manfaat, tetapi tidak semuanya sesuai dengan usia dan perkembangan anak.

Bagi orang tua, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri. Anak laki-laki perlu diarahkan agar mampu menggunakan media sosial secara bijak tanpa merasa terlalu dikekang.

Alih-alih hanya melarang penggunaan media sosial, orang tua dapat membangun kebiasaan digital yang sehat sejak dini. Berikut beberapa tips yang dapat diterapkan.

1. Bangun Komunikasi Terbuka dengan Anak

Komunikasi menjadi salah satu fondasi penting dalam mendampingi anak di era digital.

Orang tua sebaiknya tidak hanya bertanya tentang aktivitas anak di sekolah, tetapi juga mengenai apa yang mereka lihat dan lakukan di internet.

Berikan kesempatan kepada anak untuk bercerita ketika menemukan konten yang membuat mereka bingung, takut, atau tidak nyaman.

Dengan komunikasi yang terbuka, anak akan lebih mudah meminta bantuan kepada orang tua ketika menghadapi masalah di media sosial.

Baca Juga: 7 Cara Membesarkan Anak Laki-Laki agar Tumbuh Percaya Diri, Tangguh, dan Bijaksana

2. Ajarkan Anak Mengenali Konten Positif dan Negatif

Tidak semua informasi yang muncul di media sosial dapat dipercaya atau layak ditonton oleh anak.

Orang tua dapat mengajarkan anak untuk membedakan konten edukatif, hiburan yang sehat, informasi palsu, ujaran kebencian, kekerasan, hingga konten yang tidak sesuai usia.

Ajarkan pula bahwa jumlah likes, views, atau followers bukan ukuran utama dari kualitas seseorang.

Anak perlu memahami bahwa apa yang populer di media sosial belum tentu benar atau baik untuk ditiru.

3. Buat Aturan Penggunaan Gawai

Penggunaan gawai sebaiknya memiliki batas yang jelas. Misalnya, orang tua dapat menentukan waktu tertentu untuk bermain media sosial dan waktu khusus untuk belajar, berolahraga, berkumpul bersama keluarga, serta beristirahat.

Aturan tersebut sebaiknya diterapkan secara konsisten dan disepakati bersama.

Orang tua juga perlu memberikan contoh. Akan sulit meminta anak mengurangi penggunaan smartphone apabila orang tua sendiri terus menggunakan gawai sepanjang waktu.

4. Ajarkan Anak Menjaga Privasi

Anak perlu memahami bahwa tidak semua hal harus dibagikan di media sosial.

Ajarkan mereka untuk berhati-hati ketika membagikan foto, lokasi, nama sekolah, nomor telepon, kata sandi, maupun informasi pribadi lainnya.

Anak juga perlu memahami bahwa sesuatu yang sudah diunggah ke internet belum tentu mudah dihapus sepenuhnya.

Kesadaran mengenai privasi dapat membantu mengurangi risiko penyalahgunaan informasi pribadi.

5. Dampingi Anak Memilih Teman dan Konten di Media Sosial

Media sosial memungkinkan anak berinteraksi dengan banyak orang, termasuk orang yang tidak mereka kenal secara langsung.

Orang tua perlu menjelaskan pentingnya berhati-hati ketika menerima permintaan pertemanan, pesan, atau ajakan berkomunikasi dari orang asing.

Selain itu, orang tua dapat membantu anak memilih akun yang memberikan konten positif, seperti olahraga, pendidikan, kreativitas, teknologi, seni, maupun hobi yang sesuai dengan minat mereka.

6. Jangan Menjadikan Anak Takut untuk Bercerita

Salah satu kesalahan yang dapat dilakukan orang tua adalah langsung memarahi anak ketika mengetahui mereka melakukan kesalahan di internet.

Reaksi yang terlalu keras dapat membuat anak takut untuk bercerita pada kesempatan berikutnya.

Ketika anak mengalami masalah, orang tua sebaiknya terlebih dahulu mendengarkan dan memahami situasinya. Setelah itu, barulah memberikan arahan mengenai tindakan yang lebih tepat.

Pendekatan seperti ini dapat membuat anak merasa memiliki tempat yang aman untuk meminta bantuan.

7. Dorong Anak Memiliki Aktivitas di Dunia Nyata

Penggunaan media sosial sebaiknya tidak menggantikan aktivitas anak di dunia nyata.

Orang tua dapat mendorong anak untuk berolahraga, membaca, bermain bersama teman, mengikuti kegiatan keluarga, belajar keterampilan baru, atau mengembangkan hobi.

Semakin beragam aktivitas positif yang dilakukan anak, semakin kecil kemungkinan seluruh waktu luangnya hanya dihabiskan untuk menatap layar.

Baca Juga: 8 Cara Membesarkan Anak Laki-Laki agar Tumbuh Percaya Diri dan Bertanggung Jawab

8. Ajarkan Anak Mengelola Emosi

Media sosial dapat membuat anak membandingkan dirinya dengan orang lain. Mereka mungkin melihat teman atau figur publik yang tampak lebih sukses, lebih populer, atau memiliki kehidupan yang terlihat lebih menarik.

Orang tua perlu menjelaskan bahwa apa yang ditampilkan di media sosial tidak selalu menggambarkan kehidupan seseorang secara utuh.

Anak laki-laki juga perlu diberi ruang untuk mengenali dan mengungkapkan emosinya. Mereka tidak harus selalu terlihat kuat atau menyembunyikan rasa sedih, takut, kecewa, maupun cemas.

Kemampuan mengelola emosi akan membantu anak menghadapi berbagai tekanan yang mungkin muncul dari lingkungan digital maupun kehidupan sehari-hari.

9. Berikan Contoh Penggunaan Media Sosial yang Sehat

Anak banyak belajar melalui perilaku orang-orang terdekatnya. Karena itu, kebiasaan orang tua dalam menggunakan media sosial dapat menjadi contoh bagi anak.

Orang tua dapat menunjukkan bagaimana berkomentar dengan sopan, memeriksa informasi sebelum membagikannya, menghargai perbedaan pendapat, serta tidak ikut menyebarkan konflik di media sosial.

Dengan demikian, anak tidak hanya mendapatkan aturan, tetapi juga melihat langsung bagaimana menjadi pengguna media sosial yang bertanggung jawab.

10. Gunakan Fitur Keamanan Digital

Pendampingan orang tua juga dapat dibantu dengan fitur keamanan yang tersedia pada perangkat dan platform digital.

Orang tua dapat memanfaatkan pengaturan privasi, pembatasan konten, kontrol orang tua, serta fitur pelaporan dan pemblokiran apabila diperlukan.

Namun, teknologi pengawasan sebaiknya tetap disertai komunikasi. Tujuannya bukan semata-mata mengontrol anak, melainkan membantu mereka belajar bertanggung jawab terhadap aktivitas digitalnya.

Orang Tua Perlu Menjadi Pendamping, Bukan Sekadar Pengawas

Membesarkan anak laki-laki di era digital membutuhkan keseimbangan antara memberikan kebebasan dan menetapkan batasan.

Media sosial tidak selalu memberikan dampak buruk. Jika digunakan dengan tepat, dunia digital justru dapat menjadi sarana belajar, mengembangkan kreativitas, menemukan komunitas positif, dan memperluas wawasan.

Karena itu, pendekatan yang dapat diterapkan orang tua bukan hanya melarang, tetapi mendampingi, memberikan pemahaman, menetapkan batasan, dan menjadi teladan.

Dengan bekal tersebut, anak laki-laki diharapkan mampu tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, mampu mengendalikan diri, kritis terhadap informasi, serta bertanggung jawab ketika menggunakan media sosial. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
membesarkan anak laki laki anak orang tua era digital media sosial