Yang Bisa Dilakukan Orang Tua Pekerja agar Anak Tidak Merasa Ditinggalkan

Hakam Alghivari • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 20:21 WIB
Ilustrasi anak perempuan dan ayah yang sedang bekerja dari rumah. (MAGNIFIC)
Ilustrasi anak perempuan dan ayah yang sedang bekerja dari rumah. (MAGNIFIC)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Kesibukan bekerja membuat sebagian orang tua tidak selalu dapat menemani anak sepanjang hari. Kondisi tersebut tidak otomatis membuat hubungan orang tua dan anak menjadi renggang, tetapi keterbatasan waktu memang membuat kualitas interaksi sehari-hari perlu diperhatikan.

Penelitian tentang orang tua yang bekerja menunjukkan bahwa persoalannya bukan hanya berapa banyak waktu yang tersedia, melainkan bagaimana waktu bersama anak digunakan.

Baca Juga: Cara Melatih Anak Menentukan Pilihan, agar Tidak Selalu Bergantung pada Orang Tua Ketika Dewasa

Sebuah studi terhadap data penggunaan waktu anak menemukan bahwa pekerjaan ibu tidak selalu mengurangi waktu dalam aktivitas bersama yang mendukung perkembangan anak. Temuan tersebut menunjukkan pentingnya membedakan jumlah waktu dengan kualitas kegiatan yang dilakukan bersama.

Karena itu, orang tua pekerja tidak harus mengejar jumlah jam yang sama dengan orang tua yang memiliki lebih banyak waktu di rumah. Yang lebih penting adalah membangun pengalaman yang membuat anak tetap merasa diperhatikan, didengar, dan dapat mengandalkan orang tuanya.

1. Buat Waktu Bersama yang Konsisten

Kesibukan pekerjaan sering membuat jadwal orang tua berubah-ubah. Karena itu, memiliki waktu bersama yang sederhana tetapi konsisten dapat membantu anak mengetahui kapan ia bisa mendapatkan perhatian orang tua.

Tidak harus berupa kegiatan khusus atau menghabiskan waktu berjam-jam. Rutinitas sebelum tidur, sarapan bersama, perjalanan pulang, atau waktu tertentu pada akhir pekan dapat menjadi ruang interaksi yang teratur.

Penelitian mengenai karakteristik pekerjaan dan hubungan orang tua-anak menemukan bahwa jam kerja yang panjang dan waktu bersama yang lebih sedikit atau lebih terganggu berkaitan dengan kualitas hubungan orang tua-anak yang lebih rendah.

Baca Juga: Anak Lebih Sering Bertanya kepada Ayah atau Ibu? Kebiasaan Ini Bisa Menggambarkan Pola Komunikasinya

2. Hadir Secara Utuh Ketika Bersama Anak

Berada di rumah tidak selalu berarti benar-benar hadir untuk anak. Perhatian yang terus terbagi antara pekerjaan, telepon, dan urusan rumah tangga dapat membuat waktu bersama terasa kurang bermakna.

Ketika memiliki kesempatan bersama anak, orang tua dapat memberikan perhatian pada percakapan atau aktivitas yang sedang dilakukan. Respons sederhana terhadap cerita dan kebutuhan anak dapat membantu membangun pengalaman bahwa orang tua tetap tersedia meskipun memiliki kesibukan.

Studi mengenai keluarga dengan orang tua bekerja juga menunjukkan bahwa kualitas interaksi, termasuk responsivitas dan komunikasi emosional yang hangat, menjadi strategi penting untuk membangun keterikatan yang aman.

3. Jangan Menghilang Tanpa Penjelasan

Anak membutuhkan pola yang dapat diprediksi. Ketika orang tua sering pergi bekerja tanpa memberikan penjelasan yang sesuai dengan usia anak, ketidakhadiran tersebut dapat lebih sulit dipahami.

Orang tua dapat menjelaskan bahwa pekerjaan membuat mereka harus berada di luar rumah untuk sementara, sekaligus memberi gambaran kapan mereka akan kembali. Penjelasan tersebut tidak perlu rumit, tetapi sebaiknya konsisten dan sesuai dengan kemampuan anak memahami waktu.

Yang dibangun bukan sekadar kepastian mengenai jadwal, melainkan rasa bahwa orang tua tetap dapat dipahami dan diandalkan.

Baca Juga: 7 Kesalahan Orang Tua yang Sering Dilakukan Saat Membesarkan Anak

4. Jangan Menebus Waktu dengan Hadiah

Rasa bersalah karena jarang bertemu anak kadang membuat orang tua menggantinya dengan mainan, makanan, atau hadiah. Padahal, hubungan orang tua-anak tidak dibangun terutama melalui barang yang diberikan.

Anak membutuhkan interaksi, perhatian, dan pengalaman bersama. Penelitian mengenai waktu orang tua dan anak menunjukkan bahwa tidak semua jenis waktu bersama memiliki pengaruh yang sama terhadap perkembangan anak. Aktivitas yang terstruktur dan mendukung perkembangan justru menjadi salah satu bentuk waktu yang penting.

Karena itu, hadiah sesekali bukan persoalan, tetapi sebaiknya tidak menjadi pengganti kehadiran emosional orang tua.

5. Tetap Terlibat dalam Hal-Hal Kecil

Orang tua pekerja tidak harus mengetahui seluruh aktivitas anak, tetapi keterlibatan dalam keseharian dapat membantu menjaga kedekatan. Mengetahui kegiatan anak, memperhatikan perubahan kebiasaan, dan mengikuti hal yang sedang disukai anak dapat menunjukkan bahwa kehidupan anak tetap penting bagi orang tua.

Baca Juga: 6 Rahasia Membesarkan Anak Laki-Laki yang Percaya Diri Sekaligus Berempati

Keterlibatan seperti ini juga dapat dilakukan ketika waktu terbatas. Yang penting, anak mendapatkan pengalaman berulang bahwa orang tua tertarik pada kehidupannya dan bersedia memberikan respons.

6. Bangun Rutinitas yang Bisa Diprediksi

Keteraturan dapat membantu anak memahami kapan orang tua bekerja dan kapan mereka memiliki waktu bersama. Rutinitas yang konsisten juga dapat mengurangi ketidakpastian dalam keseharian, terutama bagi anak yang masih kecil.

Hubungan yang aman bukan berarti orang tua harus selalu berada di dekat anak. Penelitian mengenai keterikatan menunjukkan bahwa kualitas hubungan dengan ayah dan ibu dapat menjadi bagian penting dari rasa aman anak terhadap orang tua.

Karena itu, orang tua pekerja tetap dapat membangun hubungan yang kuat selama anak memiliki pengalaman bahwa orang tuanya responsif, dapat diprediksi, dan tersedia ketika dibutuhkan.

7. Jangan Membuat Anak Merasa Bersalah karena Membutuhkan Orang Tua

Kesibukan pekerjaan memang membutuhkan batas. Namun, anak juga perlu mengetahui bahwa meminta perhatian atau ingin menghabiskan waktu bersama orang tua bukan sesuatu yang merepotkan.

Ketika anak menunjukkan kebutuhan emosional, respons orang tua dapat menjadi kesempatan untuk memperkuat rasa aman. Penelitian terbaru mengenai keterikatan dan kecemasan perpisahan menunjukkan bahwa persepsi anak terhadap orang tua sebagai sosok yang dapat diandalkan, tersedia, dan komunikatif berkaitan dengan tingkat keamanan keterikatan.

Baca Juga: 7 Kebiasaan Pola Asuh Anak yang Bisa Merusak Kepercayaan Diri, Orang Tua Perlu Waspada

Pada akhirnya, menjadi orang tua pekerja bukan berarti harus memilih antara karier dan kedekatan dengan anak. Keterbatasan waktu memang nyata, tetapi hubungan tidak hanya ditentukan oleh lamanya waktu bersama.

Yang lebih penting adalah bagaimana orang tua menggunakan waktu yang tersedia, menjaga rutinitas, merespons kebutuhan anak, dan menunjukkan bahwa kesibukan bekerja tidak berarti anak kehilangan tempat untuk kembali.

Dengan pola tersebut, anak dapat belajar bahwa orang tuanya memang memiliki pekerjaan dan tanggung jawab lain, tetapi tetap hadir sebagai sosok yang dapat dipercaya ketika ia membutuhkan perhatian dan dukungan. (k/bgs) 

Editor : Hakam Alghivari
merasa ditinggalkan Pekerja anak orang tua