Sering Bicara Sendiri? Ini Penjelasannya Menurut Psikologi

Andhika Feriawan • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 15:00 WIB
Self-talk bukan persoalaan yang serius menurut pandangan psikologi. (MAGNIFIC/ANDHIKA FERIAWAN/RADAR BOJONEGORO)
Self-talk bukan persoalaan yang serius menurut pandangan psikologi. (MAGNIFIC/ANDHIKA FERIAWAN/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM — Pernahkah Anda menyadari bahwa diri sendiri sering berbicara meskipun sedang sendirian ? Misalnya, mengucapkan kalimat seperti sedang berdiskusi, mengomentari aktivitas yang sedang dilakukan, atau bahkan mengingat kembali percakapan dengan orang lain.

Kebiasaan berbicara sendiri ternyata tidak selalu menjadi sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Dalam psikologi, self-talk atau berbicara kepada diri sendiri merupakan hal yang cukup umum dan dapat menjadi bagian dari proses berpikir seseorang.

Namun, kondisi tersebut perlu diperhatikan apabila berbicara sendiri disertai gejala lain yang mengganggu aktivitas sehari-hari.

Apa Itu Berbicara Sendiri ?

Berbicara sendiri merupakan kondisi ketika seseorang mengeluarkan kata-kata atau kalimat yang ditujukan kepada dirinya sendiri, baik secara sadar maupun spontan.

Contohnya, seseorang mengatakan, "Saya harus menyelesaikan pekerjaan ini dulu," atau berbicara seolah-olah sedang memberikan nasihat kepada dirinya sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari, bentuk self-talk dapat muncul ketika seseorang sedang merencanakan sesuatu, mencoba menyelesaikan masalah, memberikan motivasi, hingga menenangkan diri ketika menghadapi situasi tertentu.

Baca Juga: Sering Memendam Perasaan? Ini Dampaknya bagi Kondisi Psikologis Perempuan

Menurut Psikologi, Mengapa Seseorang Sering Bicara Sendiri ?

Ada beberapa alasan yang dapat menjelaskan kebiasaan tersebut.

1. Membantu Mengatur Pikiran

Berbicara sendiri dapat membantu seseorang menyusun berbagai hal yang sedang dipikirkan. Mengucapkan suatu masalah dengan kata-kata terkadang membuat seseorang lebih mudah memahami situasi yang sedang dihadapi.

Misalnya, ketika memiliki banyak pekerjaan, seseorang mungkin mengatakan dengan lantang apa yang harus dikerjakan terlebih dahulu. Cara tersebut dapat membantu membuat pikiran terasa lebih terorganisasi.

2. Membantu Mengendalikan Emosi

Self-talk juga dapat digunakan untuk memberikan dukungan kepada diri sendiri.

Ketika mengalami kegagalan atau menghadapi situasi yang membuat stres, seseorang mungkin berbicara kepada dirinya sendiri dengan kalimat seperti, "Tidak apa-apa, coba lagi," atau "Saya harus tetap tenang."

Kebiasaan tersebut dapat menjadi salah satu cara seseorang mengelola respons emosional terhadap suatu keadaan.

3. Membantu Konsentrasi

Berbicara sendiri juga terkadang dilakukan ketika seseorang sedang berusaha berkonsentrasi.

Contohnya ketika memasak, bekerja, belajar, atau mengerjakan sesuatu yang membutuhkan beberapa tahapan. Mengucapkan langkah-langkah tertentu dapat membantu seseorang tetap fokus terhadap tugas yang sedang dilakukan.

4. Membantu Mengambil Keputusan

Ketika menghadapi pilihan yang sulit, seseorang mungkin melakukan percakapan dengan dirinya sendiri.

Dengan mengutarakan kelebihan, kekurangan, risiko, dan kemungkinan hasil dari setiap pilihan, seseorang dapat melihat persoalan secara lebih jelas sebelum mengambil keputusan.

5. Menjadi Bentuk Refleksi Diri

Berbicara sendiri dapat muncul ketika seseorang sedang mengevaluasi pengalaman yang telah dilalui.

Misalnya, setelah menghadiri suatu acara atau melakukan percakapan dengan orang lain, seseorang mungkin kembali mengingat kejadian tersebut dan membicarakannya sendiri.

Hal ini dapat menjadi bagian dari proses refleksi dan pemahaman terhadap pengalaman pribadi.

Apakah Sering Bicara Sendiri Berarti Gangguan Mental ?

Tidak selalu. Berbicara sendiri pada dasarnya bukan tanda pasti bahwa seseorang mengalami gangguan mental.

Hal yang lebih penting untuk diperhatikan adalah bagaimana bentuk pembicaraan tersebut, seberapa sering terjadi, apakah seseorang menyadarinya, serta apakah kebiasaan tersebut mengganggu kehidupan sehari-hari.

Seseorang yang berbicara sendiri karena sedang berpikir, mengingat sesuatu, memotivasi diri, atau mengatur aktivitas biasanya masih memahami bahwa dirinya sedang berbicara kepada diri sendiri.

Baca Juga: 5 Tanda Perempuan Memiliki Mental yang Kuat Menurut Psikologi

Berbeda halnya apabila seseorang mengalami pengalaman seperti mendengar suara yang dianggap berasal dari luar dirinya, merasa mendapatkan perintah dari suara tersebut, mengalami kebingungan terhadap kenyataan, atau kondisi tersebut membuat aktivitas sehari-hari terganggu.

Dalam keadaan seperti itu, evaluasi dari tenaga profesional kesehatan mental dapat membantu mengetahui penyebab yang mendasarinya.

Kapan Berbicara Sendiri Perlu Diperhatikan ?

Kebiasaan berbicara sendiri sebaiknya tidak langsung diberi label sebagai sesuatu yang berbahaya. Namun, ada beberapa kondisi yang patut menjadi perhatian, terutama jika disertai perubahan perilaku atau kondisi psikologis lainnya.

Beberapa di antaranya adalah:

Jika kondisi tersebut terjadi dan menimbulkan gangguan yang nyata, berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater merupakan langkah yang lebih tepat dibandingkan melakukan diagnosis sendiri.

Berbicara Sendiri Bisa Menjadi Hal yang Normal

Pada akhirnya, sering berbicara sendiri tidak dapat langsung dianggap sebagai tanda seseorang mengalami gangguan psikologis.

Dalam konteks tertentu, self-talk justru dapat menjadi bagian dari aktivitas mental sehari-hari. Seseorang dapat menggunakannya untuk mengatur pikiran, meningkatkan fokus, memotivasi diri, mengelola emosi, maupun mengambil keputusan.

Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan sekadar apakah seseorang berbicara sendiri, tetapi konteks, isi, kesadaran terhadap perilaku tersebut, serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.

Jika kebiasaan tersebut mulai terasa mengganggu atau muncul bersama gejala lain yang mengkhawatirkan, mendapatkan bantuan dari tenaga profesional merupakan pilihan yang bijak. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
seseorang bicara self-talk psikologi kebiasaan