RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kalimat “anak laki-laki harus kuat” masih cukup sering disampaikan orang tua ketika melihat anaknya menangis, takut, kecewa, atau merasa sedih. Meski biasanya dimaksudkan untuk membentuk mental yang tangguh, ungkapan tersebut justru perlu disampaikan dengan cara yang lebih bijak.
Anak laki-laki tetap memiliki emosi yang beragam. Mereka bisa merasa sedih, takut, marah, kecewa, cemas maupun kesepian. Mengajarkan anak untuk mengelola emosi bukan berarti membuatnya menjadi lemah, melainkan membantu anak memahami perasaan dan meresponsnya dengan cara yang sehat.
Mengapa Anak Laki-Laki Tetap Boleh Menangis ?
Menangis merupakan salah satu bentuk ekspresi emosi. Ketika anak laki-laki menangis, orang tua sebaiknya tidak langsung mengatakan, “Jangan menangis, kamu kan laki-laki.”
Sebaliknya, orang tua dapat membantu anak memahami alasan di balik tangisannya. Misalnya dengan bertanya, “Kamu sedih karena apa ?” atau “Apa yang membuat kamu kecewa ?”
Pertanyaan sederhana tersebut dapat membuat anak merasa didengarkan sekaligus membantu dirinya mengenali emosi yang sedang dirasakan.
Baca Juga: 8 Cara Membesarkan Anak Laki-Laki agar Tumbuh Percaya Diri dan Bertanggung Jawab
1. Ajarkan Anak Mengenali Perasaannya
Langkah pertama dalam mengelola emosi adalah mengenali apa yang sedang dirasakan.
Orang tua dapat memperkenalkan berbagai jenis emosi kepada anak, seperti senang, sedih, marah, takut, kecewa, malu, hingga khawatir.
Ketika anak sedang marah, misalnya, orang tua bisa mengatakan, “Kamu sedang marah karena mainanmu rusak, ya ?”
Dengan begitu, anak belajar menghubungkan perasaan dengan sebuah kata. Kemampuan tersebut penting agar anak tidak selalu mengekspresikan emosinya melalui teriakan, pukulan, atau perilaku agresif.
2. Validasi Emosi, Bukan Membenarkan Perilaku Negatif
Menerima emosi anak bukan berarti membiarkan semua perilakunya.
Orang tua bisa mengatakan bahwa marah adalah hal yang wajar, tetapi memukul orang lain tetap tidak diperbolehkan.
Contohnya, “Ayah tahu kamu marah karena tidak boleh bermain lebih lama. Marah itu boleh, tetapi memukul teman tidak boleh.”
Cara tersebut membantu anak memahami bahwa semua emosi boleh dirasakan, tetapi tidak semua tindakan boleh dilakukan.
3. Berikan Contoh Cara Mengelola Emosi
Anak banyak belajar melalui apa yang mereka lihat dari orang tua. Karena itu, orang tua juga perlu menunjukkan cara menghadapi emosi secara sehat.
Ketika sedang kesal, orang tua dapat mengatakan, “Ibu sedang kesal. Ibu mau tarik napas dulu supaya lebih tenang.”
Dari contoh tersebut, anak belajar bahwa ketika emosi meningkat, seseorang dapat berhenti sejenak, menarik napas, dan mencari cara untuk menenangkan diri.
4. Jangan Membandingkan Anak dengan Anak Lain
Kalimat seperti “Lihat temanmu, dia tidak cengeng” sebaiknya dihindari.
Perbandingan dapat membuat anak merasa bahwa menunjukkan emosi merupakan sesuatu yang memalukan. Dalam jangka panjang, anak mungkin memilih menyembunyikan perasaannya daripada menceritakannya kepada orang tua.
Lebih baik fokus pada perkembangan anak sendiri. Misalnya, berikan apresiasi ketika anak berhasil menyampaikan kemarahannya dengan kata-kata daripada melampiaskannya melalui tindakan.
5. Ajarkan Anak Menenangkan Diri
Anak dapat diajarkan beberapa cara sederhana untuk mengendalikan emosi, seperti menarik napas dalam-dalam, menghitung sampai sepuluh, minum air putih, duduk di tempat yang tenang, atau berbicara dengan orang yang dipercaya.
Namun, orang tua perlu menyesuaikan cara tersebut dengan usia dan kemampuan anak. Jangan memaksa anak langsung tenang ketika emosinya sedang memuncak.
Berikan waktu agar anak kembali stabil sebelum mengajaknya membicarakan masalah.
6. Ciptakan Ruang untuk Bercerita
Orang tua sebaiknya membangun kebiasaan berbicara dengan anak tanpa langsung menghakimi atau memberikan ceramah.
Misalnya, sebelum tidur orang tua dapat bertanya, “Hari ini ada sesuatu yang membuat kamu senang atau sedih ?”
Kebiasaan sederhana ini dapat membuat anak merasa bahwa rumah merupakan tempat yang aman untuk membicarakan perasaannya.
Baca Juga: 7 Cara Membesarkan Anak Laki-Laki agar Tumbuh Percaya Diri dan Tidak Bingung dengan Dirinya
7. Ajarkan Bahwa Kuat Bukan Berarti Tidak Boleh Sedih
Pemahaman mengenai “kuat” juga perlu diubah.
Anak laki-laki yang kuat bukan berarti anak yang tidak pernah menangis atau selalu menyembunyikan perasaan. Kekuatan juga dapat berarti berani mengakui bahwa dirinya sedang sedih, meminta bantuan ketika membutuhkan, mampu meminta maaf, serta berusaha menyelesaikan masalah tanpa menyakiti orang lain.
Dengan pemahaman tersebut, anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang tangguh sekaligus memiliki kemampuan mengelola emosi dengan baik.
Peran Orang Tua Sangat Penting
Mendidik anak laki-laki agar tangguh tidak harus dilakukan dengan mematikan sisi emosionalnya. Justru, kemampuan mengenali dan mengelola emosi dapat menjadi salah satu bagian penting dalam membangun ketahanan diri anak.
Orang tua dapat mengganti kalimat “anak laki-laki harus kuat” dengan pesan yang lebih konstruktif, seperti “Kamu boleh sedih, tetapi kita belajar bagaimana menghadapinya bersama.”
Dengan pendekatan tersebut, anak tidak hanya belajar menjadi kuat ketika menghadapi masalah, tetapi juga memahami bahwa meminta bantuan, bercerita, dan menunjukkan emosi merupakan bagian normal dari kehidupan. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko