RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Menegur anak merupakan bagian penting dalam proses pengasuhan. Melalui teguran, orang tua dapat membantu anak memahami batasan, mengenali kesalahan, serta belajar bertanggung jawab atas perilakunya.
Namun, cara menyampaikan teguran juga perlu diperhatikan. Kalimat yang terdengar biasa bagi orang dewasa ternyata dapat membuat anak merasa direndahkan, tidak dihargai, bahkan kehilangan kepercayaan diri.
Karena itu, orang tua sebaiknya menghindari beberapa kalimat tertentu ketika sedang menghadapi perilaku anak yang kurang tepat.
1. “Kamu memang anak nakal !”
Memberi label seperti “anak nakal” sebaiknya dihindari. Kalimat tersebut tidak hanya mengkritik perilaku, tetapi seolah-olah mendefinisikan kepribadian anak.
Lebih baik orang tua menjelaskan perilaku yang dianggap salah. Misalnya, “Perbuatanmu tadi kurang baik karena bisa membuat temanmu terluka.”
Dengan begitu, anak memahami bahwa yang perlu diperbaiki adalah perilakunya, bukan dirinya sebagai seorang anak.
2. “Kenapa kamu tidak bisa seperti kakakmu ?”
Membandingkan anak dengan saudara atau anak lain dapat membuat mereka merasa tidak cukup baik. Dalam jangka panjang, kebiasaan membandingkan juga berpotensi memunculkan rasa iri dan persaingan yang tidak sehat.
Baca Juga: 5 Cara Mengajarkan Anak Mengelola Emosi Sejak Dini, Orang Tua Perlu Tahu
Setiap anak memiliki kemampuan, karakter, dan perkembangan yang berbeda. Orang tua sebaiknya fokus pada proses dan perkembangan anak dibandingkan membandingkannya dengan orang lain.
3. “Dasar kamu bikin Mama/Papa malu !”
Kalimat yang mengaitkan kesalahan anak dengan rasa malu orang tua dapat membuat anak lebih fokus pada ketakutan daripada memahami kesalahannya.
Jika anak melakukan sesuatu yang tidak tepat di depan orang lain, orang tua tetap dapat memberikan teguran secara tegas tetapi tidak mempermalukannya.
Misalnya, “Tindakan tadi tidak tepat. Nanti kita bicarakan setelah sampai rumah.”
4. “Kalau kamu terus begitu, Mama/Papa tidak sayang lagi.”
Kasih sayang orang tua sebaiknya tidak dijadikan alat untuk mengendalikan perilaku anak. Ancaman kehilangan kasih sayang dapat membuat anak merasa bahwa dirinya hanya akan diterima ketika berperilaku sesuai keinginan orang tua.
Orang tua dapat menggantinya dengan kalimat yang menegaskan batasan, seperti, “Mama/Papa sayang kamu, tetapi perilaku seperti itu tetap tidak boleh dilakukan.”
Pesan tersebut membantu anak memahami bahwa kasih sayang tetap ada, sementara perilaku tertentu tetap memiliki konsekuensi.
5. “Kamu selalu begitu !”
Kata “selalu” atau “tidak pernah” sering muncul ketika orang tua sedang emosi. Padahal, kalimat tersebut cenderung menggeneralisasi perilaku anak.
Daripada mengatakan, “Kamu selalu membuat masalah,” lebih baik menyebutkan perilaku yang sedang terjadi. Contohnya, “Hari ini kamu belum membereskan mainan setelah bermain. Yuk, kita rapikan bersama.”
Cara ini membuat teguran menjadi lebih spesifik sehingga anak mengetahui apa yang harus diperbaiki.
Tegas Bukan Berarti Harus Membentak
Menegur anak bukan berarti orang tua harus menghindari ketegasan. Anak tetap membutuhkan aturan dan batasan yang jelas agar memahami perilaku yang dapat diterima dan tidak dapat diterima.
Baca Juga: 7 Cara Membesarkan Anak Laki-Laki agar Tumbuh Percaya Diri dan Tidak Bingung dengan Dirinya
Namun, ketegasan dapat disampaikan tanpa penghinaan, ancaman, atau pemberian label negatif. Orang tua dapat menjelaskan kesalahan, konsekuensinya, serta perilaku yang diharapkan dengan bahasa yang sesuai usia anak.
Selain itu, ketika emosi orang tua sedang tinggi, mengambil jeda sejenak sebelum berbicara dapat membantu mencegah keluarnya kalimat yang disesali kemudian.
Pada akhirnya, tujuan menegur anak bukan sekadar membuat anak berhenti melakukan kesalahan, tetapi membantu mereka belajar memahami konsekuensi, mengelola emosi, dan memperbaiki perilaku.
Dengan memilih kata-kata yang lebih tepat, teguran dapat menjadi bagian dari proses mendidik anak tanpa membuat mereka merasa kehilangan rasa aman dan kasih sayang dari orang tuanya. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko