RADARBOJONEOGRO.JAWAPOS.COM - Burnout pada perempuan dewasa tidak selalu disebabkan oleh tekanan pekerjaan. Beban rumah tangga, tuntutan sosial, masalah hubungan hingga kebiasaan mengabaikan kebutuhan diri sendiri juga dapat membuat seseorang mengalami kelelahan fisik dan emosional berkepanjangan.
Burnout merupakan kondisi ketika seseorang mengalami kelelahan yang intens akibat tekanan berkepanjangan. Kondisi ini dapat membuat seseorang kehilangan energi, sulit berkonsentrasi, mudah tersinggung, hingga merasa tidak lagi menikmati aktivitas yang sebelumnya disukai.
Pada perempuan dewasa, sumber tekanan tersebut bisa berasal dari berbagai aspek kehidupan yang berlangsung secara bersamaan. Berikut tujuh faktor yang dapat menjadi pemicu burnout.
1. Beban Pekerjaan yang Berlebihan
Pekerjaan tetap menjadi salah satu faktor yang sering dikaitkan dengan burnout. Target yang tinggi, jam kerja panjang, tekanan dari atasan, lingkungan kerja yang kurang sehat hingga sulitnya memisahkan waktu kerja dan kehidupan pribadi dapat menguras energi.
Kondisi tersebut bisa semakin berat ketika seseorang tetap memikirkan pekerjaan setelah jam kantor berakhir atau merasa harus selalu siap merespons urusan pekerjaan.
2. Beban Rumah Tangga
Burnout tidak hanya terjadi di tempat kerja. Pekerjaan rumah tangga yang dilakukan terus-menerus juga dapat menjadi sumber kelelahan.
Baca Juga: 4 Pemicu Burnout di Kalangan Gen Z: Kenali Gejala dan Solusinya
Membersihkan rumah, memasak, mengurus kebutuhan keluarga, mengatur keuangan hingga berbagai pekerjaan domestik lainnya membutuhkan waktu dan energi. Jika seluruh tanggung jawab tersebut tidak dibagi secara seimbang, tekanan dapat semakin besar.
3. Tuntutan Menjadi "Serba Bisa"
Perempuan dewasa sering menghadapi berbagai tuntutan sekaligus, seperti menjadi pekerja, pasangan, ibu, anak, teman, sekaligus anggota masyarakat.
Keinginan untuk memenuhi semua peran dengan sempurna dapat membuat seseorang sulit mengatakan "tidak". Akibatnya, terlalu banyak tanggung jawab diterima meskipun energi dan waktu yang tersedia terbatas.
4. Kurangnya Waktu untuk Diri Sendiri
Kesibukan mengurus pekerjaan dan keluarga terkadang membuat kebutuhan pribadi berada di urutan terakhir.
Kurangnya waktu untuk beristirahat, melakukan hobi, bersosialisasi atau sekadar menikmati waktu tanpa tuntutan dapat membuat tubuh dan pikiran tidak memperoleh kesempatan untuk pulih.
Istirahat bukan berarti malas. Waktu untuk diri sendiri justru dapat menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan aktivitas sehari-hari.
5. Tekanan Sosial dan Standar Kesempurnaan
Media sosial turut membuat standar kehidupan terlihat semakin tinggi. Perempuan dapat merasa harus memiliki karier yang sukses, penampilan menarik, hubungan harmonis, rumah yang ideal hingga kehidupan sosial yang menyenangkan.
Jika terus membandingkan kehidupan sendiri dengan gambaran kehidupan orang lain, seseorang dapat merasa kurang berhasil meskipun sebenarnya sudah melakukan banyak hal.
Tekanan untuk selalu terlihat baik-baik saja juga dapat membuat kelelahan emosional semakin sulit dikenali.
6. Masalah dalam Hubungan
Hubungan dengan pasangan, keluarga, teman maupun lingkungan sosial juga dapat memengaruhi kondisi emosional.
Konflik yang berlangsung lama, komunikasi yang buruk, kurangnya dukungan emosional atau hubungan yang penuh tekanan dapat menguras energi mental. Jika masalah tersebut tidak mendapatkan penyelesaian, stres dapat berlangsung dalam waktu yang panjang.
7. Mengabaikan Kebutuhan Fisik dan Emosional
Salah satu pemicu burnout yang sering tidak disadari adalah kebiasaan terus memaksakan diri.
Baca Juga: Kenapa Generasi Milenial & Gen Z Rentan Burnout? Ini Penjelasan Psikologi
Kurang tidur, pola makan yang tidak teratur, jarang berolahraga, tidak memberikan waktu untuk beristirahat dan terbiasa memendam emosi dapat membuat seseorang semakin sulit menghadapi tekanan.
Ketika tubuh dan pikiran terus dipaksa bekerja tanpa pemulihan yang cukup, rasa lelah dapat menumpuk dan berkembang menjadi kelelahan yang lebih serius.
Burnout Perlu Dikenali Sejak Dini
Burnout bukan sekadar merasa lelah setelah menjalani hari yang sibuk. Kondisi ini biasanya berkaitan dengan tekanan yang berlangsung terus-menerus dan dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain merasa sangat lelah meskipun sudah beristirahat, kehilangan motivasi, mudah marah, sulit berkonsentrasi, menarik diri dari lingkungan sosial, serta merasa aktivitas sehari-hari menjadi sangat berat.
Karena itu, penting bagi perempuan dewasa untuk tidak hanya berfokus pada produktivitas, tetapi juga memperhatikan kebutuhan fisik dan emosional.
Jika rasa lelah atau tekanan sudah mengganggu aktivitas sehari-hari dalam waktu yang cukup lama, mencari dukungan dari orang terpercaya maupun tenaga profesional dapat menjadi langkah yang tepat.
Pada akhirnya, menjaga diri bukan berarti mengabaikan tanggung jawab. Justru dengan mengenali batas kemampuan dan memberikan waktu untuk memulihkan diri, seseorang dapat menjalani berbagai peran dalam kehidupan dengan lebih sehat dan seimbang. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko