7 Cara Membesarkan Anak Laki-Laki agar Tumbuh Percaya Diri dan Tidak Bingung dengan Dirinya

Farhan Reza Ardiansyah • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 16:23 WIB
Ilustrasi Anak Laki Laki
Ilustrasi Anak Laki Laki

RADARBOJONEOGRO.JAWAPOS.COM - Membesarkan anak laki-laki bukan hanya soal mengajarinya menjadi kuat, mandiri, atau mampu melindungi orang lain. Di balik itu, ada hal yang tidak kalah penting, yakni membantu anak mengenali dirinya sendiri, memahami emosinya, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas pilihannya.

Sebab, anak laki-laki yang sejak kecil hanya diarahkan untuk “jangan cengeng” atau “harus kuat” belum tentu tumbuh menjadi pribadi yang benar-benar tangguh. Ia justru bisa kesulitan memahami apa yang sebenarnya dirasakan dan dibutuhkannya ketika menghadapi masalah.

Karena itu, orang tua perlu membangun fondasi yang membuat anak laki-laki memiliki arah dalam menjalani kehidupannya.

1. Jangan hanya mengajarkan anak untuk kuat

Kalimat seperti “anak laki-laki tidak boleh menangis” mungkin terdengar sederhana, tetapi jika terus diulang, anak dapat belajar bahwa menunjukkan kesedihan adalah sesuatu yang memalukan.

Baca Juga: 7 Cara Mendidik Anak agar Punya Empati Sejak Dini, Berdasarkan Studi dan Pendekatan Ilmiah

Padahal, menangis, kecewa, takut, marah, atau merasa sedih merupakan bagian dari pengalaman emosional manusia.

Orang tua dapat mengajarkan bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak pernah menangis. Anak justru perlu belajar bahwa keberanian juga berarti mampu mengakui perasaan dan mencari cara untuk mengatasinya.

Dengan begitu, anak tidak tumbuh dengan kebiasaan memendam emosi setiap kali menghadapi kesulitan.

2. Beri kesempatan anak mengambil keputusan

Anak laki-laki juga perlu belajar membuat pilihan sejak kecil.

Tidak semua keputusan harus dibuatkan oleh orang tua. Untuk hal-hal yang sesuai dengan usia, anak dapat diberi kesempatan menentukan pilihan sendiri, misalnya memilih pakaian, menentukan permainan, atau mengatur urutan kegiatan sederhana.

Ketika anak mulai terbiasa mempertimbangkan pilihan dan menerima konsekuensinya, ia perlahan belajar bahwa setiap keputusan memiliki tanggung jawab.

Keterampilan seperti inilah yang nantinya membantu anak menjadi lebih mandiri dan tidak selalu bergantung pada orang lain ketika menghadapi persoalan.

3. Ajarkan tanggung jawab, bukan sekadar kepatuhan

Anak yang selalu menurut belum tentu memahami alasan di balik aturan.

Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya mengatakan bahwa anak harus melakukan sesuatu karena “kata Mama” atau “kata Ayah”. Anak juga perlu memahami mengapa sebuah aturan dibuat. Misalnya, ketika anak diminta membereskan mainan, jelaskan bahwa menjaga barang dan ruang yang digunakan merupakan tanggung jawabnya.

Baca Juga: Menghadapi Anak yang Sulit Diatur: Memahami Akar Masalah dan Cara Mendidik yang Lebih Efektif

Dengan cara tersebut, anak perlahan belajar melakukan sesuatu bukan semata-mata karena takut dimarahi, tetapi karena memahami konsekuensinya.

4. Jangan membuat semua masalah anak menjadi urusan orang tua

Naluri orang tua memang ingin melindungi anak dari kesulitan. Namun, terlalu sering menyelesaikan semua masalah anak dapat membuatnya kehilangan kesempatan untuk belajar menghadapi konflik.

Ketika anak mengalami persoalan kecil dengan teman, misalnya, orang tua tidak harus langsung turun tangan.

Orang tua bisa terlebih dahulu bertanya apa yang terjadi, bagaimana perasaan anak, dan menurutnya apa yang bisa dilakukan.

Pendekatan tersebut membantu anak belajar menyelesaikan masalah secara bertahap, sekaligus mengetahui bahwa orang tua tetap menjadi tempat aman untuk meminta bantuan ketika diperlukan.

5. Ajarkan bahwa menjadi laki-laki bukan berarti harus memenuhi satu standar tertentu

Anak laki-laki tidak harus selalu dominan, keras, berani mengambil risiko, atau menyembunyikan kelemahannya agar dianggap “jantan”.

Setiap anak memiliki temperamen dan karakter yang berbeda.

Ada anak yang aktif dan suka memimpin. Ada pula yang lebih tenang, sensitif, atau membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi.

Tugas orang tua bukan memaksa anak masuk ke dalam satu gambaran tentang seperti apa “laki-laki seharusnya”, melainkan membantu anak mengenali kekuatan sekaligus keterbatasannya.

6. Jadilah contoh dalam mengelola emosi

Anak belajar banyak hal melalui apa yang dilihatnya setiap hari. Jika orang tua ingin anak mampu mengendalikan amarah, anak juga perlu melihat bagaimana orang dewasa di sekitarnya menghadapi kemarahan. Orang tua dapat menunjukkan bahwa marah tidak harus berujung pada membentak, menghukum, atau menyakiti orang lain. Anak pun belajar bahwa emosi boleh dirasakan, tetapi perilaku tetap perlu dikendalikan.

7. Bangun hubungan yang membuat anak merasa aman

Anak laki-laki tetap membutuhkan kedekatan emosional dengan orang tuanya. Pelukan, percakapan, perhatian, dan kesediaan mendengarkan bukan hal yang membuat anak menjadi lemah. Sebaliknya, hubungan yang hangat membantu anak mengetahui bahwa ia memiliki tempat untuk kembali ketika sedang menghadapi kesulitan.

Baca Juga: Tips Menjadi Ayah yang Bijak untuk Anak Laki-Laki, Bangun Karakter Tangguh Sejak Dini

Dari hubungan tersebut, anak juga dapat belajar mengenali bagaimana hubungan yang sehat seharusnya dibangun: ada rasa aman, penghargaan, batasan, dan komunikasi.

Bukan Membentuk Anak Menjadi “Laki-Laki Ideal”

Pada akhirnya, tujuan pengasuhan bukan membuat anak laki-laki memenuhi gambaran tertentu tentang sosok laki-laki yang ideal.

Yang lebih penting adalah membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang mengenal dirinya, mampu mengelola emosi, berani mengambil keputusan, memahami tanggung jawab, menghargai orang lain, dan tahu kapan harus meminta bantuan.

Anak yang memiliki fondasi tersebut akan memiliki bekal lebih baik ketika memasuki masa remaja hingga dewasa.

Sebab, menjadi laki-laki bukan sekadar tentang terlihat kuat di hadapan orang lain. Yang tidak kalah penting adalah memiliki cukup pemahaman tentang diri sendiri untuk mengetahui siapa dirinya, apa yang dirasakannya, dan bagaimana ia ingin menjalani hidupnya. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
anak laki laki percaya diri tumbuh anak orang tua