Anak Sering Membantah Orang Tua, Benarkah Tanda Punya Rasa Aman di Rumah?

Farhan Reza Ardiansyah • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 22:23 WIB
Ilustrasi anak dan orang tua
Ilustrasi anak dan orang tua

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Perilaku anak yang sering membantah orang tua kerap dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Namun, ada pula anggapan bahwa anak yang berani menyampaikan ketidaksetujuannya justru menunjukkan bahwa ia merasa aman dan nyaman di rumah.

Dalam psikologi perkembangan, rasa aman dalam hubungan antara anak dan orang tua memang berkaitan dengan konsep secure attachment. Namun, mengaitkan perilaku anak secara langsung dengan satu konsep psikologi ternyata tidak sesederhana itu.

Psikolog Klinis Anak, Remaja, dan Keluarga, Roslina Verauli, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa konsep seperti secure attachment, pola asuh authoritative, hingga kemampuan anak dalam mengelola emosi merupakan bagian dari psikologi perkembangan.

Meski demikian, orang tua perlu berhati-hati dalam menyimpulkan penyebab suatu perilaku anak.

Anak yang Membantah Belum Tentu Merasa Aman di Rumah

Verauli mengatakan, satu perilaku yang ditunjukkan anak biasanya tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor.

Baca Juga: Jangan Cepat Memarahi Anak yang Sering Lupa, Bisa Jadi Ini Penyebabnya

“Dalam developmental psychology, satu perilaku jarang memiliki satu penyebab,” ujar Vera kepada kumparanMOM, Rabu (2/9).

Artinya, ketika anak membantah perkataan orang tua, perilaku tersebut tidak bisa langsung diartikan sebagai tanda bahwa anak memiliki secure attachment atau merasa rumah adalah tempat yang aman baginya.

Memang, anak yang merasa aman dalam hubungan dengan orang tuanya dapat lebih berani menyampaikan ketidaksetujuan. Anak mungkin merasa bahwa dirinya tetap diterima meskipun memiliki pendapat yang berbeda dengan orang tua.

Namun, anak yang membantah belum tentu otomatis memiliki rasa aman tersebut. Ada berbagai faktor lain yang dapat memengaruhi bagaimana seorang anak merespons perkataan maupun aturan dari orang tuanya.

Jangan Menilai Perilaku Anak Hanya dari Satu Sisi

Perilaku anak perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas. Kebiasaan membantah, misalnya, tidak dapat berdiri sendiri sebagai indikator kondisi hubungan anak dan orang tua.

Begitu pula dengan konsep authoritative parenting. Pola asuh tersebut memang menjadi bagian dari pembahasan psikologi perkembangan, tetapi penerapannya dalam kehidupan sehari-hari tetap perlu melihat kondisi dan kebutuhan masing-masing anak.

Orang tua juga perlu memperhatikan bagaimana anak menyampaikan ketidaksetujuannya. Apakah ia masih dapat mengungkapkan pendapat dan berdiskusi, atau justru menunjukkan respons yang sulit dikendalikan?

Kemampuan anak dalam mengelola emosi juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan ketika melihat suatu perilaku.

Baca Juga: Rasa Ingin Tahu Anak Perlu Didukung, Ini Cara Orang Tua Membantu Mengembangkannya

Anak Berani Tidak Setuju Bukan Berarti Anak Nakal

Ketika anak berani mengatakan tidak atau memiliki pendapat berbeda, orang tua tidak harus langsung melabelinya sebagai anak nakal atau pembangkang.

Keberanian menyampaikan ketidaksetujuan bisa menjadi bagian dari proses perkembangan anak. Namun, hal itu tetap tidak dapat dijadikan satu-satunya bukti bahwa anak merasa aman bersama orang tuanya.

Sebaliknya, orang tua dapat mencoba memahami konteks di balik perilaku tersebut. Dengan begitu, respons yang diberikan tidak hanya berfokus pada perilaku yang terlihat, tetapi juga mempertimbangkan berbagai faktor yang mungkin memengaruhinya.

Pada akhirnya, memahami perilaku anak membutuhkan lebih dari sekadar mencocokkannya dengan satu teori psikologi. Seperti yang dijelaskan Verauli, dalam psikologi perkembangan, satu perilaku jarang memiliki satu penyebab. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
psikologi perilaku anak membantah orang tua